Mengenal Syareat, Thoriqot, Hakikat, Makrifat

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
 *Mengenal Syareat, Thoriqot, Hakikat, Makrifat*

SIRI SATU

1.    Dinamakan SYAREAT = Menyembah Allah Ta’ala dengan perbuatan, mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Rasulnya (Al-Quran dan Sunnah)

2.    Dinamakan THAREKAT = Menyembah Allah Ta’ala semata dengan ilmu dan amal yang diketahuinya.

3.    Dinamakan HAKEKAT = Memandang Allah Ta’ala dengan cahaya yang dipancarkan oleh Allah Ta’ala di Hati Sanubari yang dinamakan Sirullah

4.    Dinamakan MAKRIFAT  =  Meliputi seluruh tubuh yaitu Hakekat Allah : Kun, Hu, Dzat.

SIRI DUA

1.    Adapun SYAREAT =  Menjadi tauladan dan tubuh bagi kita

2.    Adapun THAREKAT = Menjalankan kerja Syareat

3.    Adapun HAKEKAT = Menjadi kunci kita menghadap Allah

4.    Adapun MAKRIFAT = Melihat sesuatu tanpa hijab dinamakan juga Amar Nizam.

SIRI TIGA

1.    SYAREAT = Air di dalam tubuh kita, sebab itu kita bisa berkata-kata

2.    THAREKAT = Angin di dalam diri kita, sebab itu kita bisa bernafas

3.    HAKEKAT = Tanah di dalam tubuh kita, sebab itulah kita boleh tetap

4.    MAKRIFAT = Api di dalam tubuh kita, sebab itulah kita boleh mengetahui lebih.

SIRI EMPAT

1.    Ilmu SYAREAT = Dinamakan Sirullah, ibadahnya adalah Nurul Hadi

2.    Ilmu THAREKAT = Dinamakan Ayan Sabitah, ibadahnya adalah Sirul Asral

3.    Ilmu HAKEKAT = Dinamakan Sirr Hayan, ibadahnya adalah Sirrul Iman

4.    Ilmu MAKRIFAT = dinamakan Gaibul Guyub, ibadahnya adalah Sirrul Islam

SIRI LIMA

1.    SYAREAT = Zuhud

2.    THAREKAT = Nur

3.    HAKEKAT = Ilmu

4.    MAKRIFAT = Wujud

SIRI ENAM

1.    Ilmu SYAREAT = Dari Usuluddin

2.    Ilmu THAREKAT = Dari Tasawuf

3.    Ilmu HAKEKAT = Dari Tauhid

4.    Ilmu MAKRIFAT = Dari Usul Muftahul Guyub

SIRI TUJUH

1.    SYAREAT = Daging, Darah, Tulang, Urat, yang dinamakan Manusia

2.    THAREKAT = Tanah, Air, Api, Angin yang dinamakam Insan

3.    HAKEKAT = Ujud, Ilmu, Nur, Syuhud yang dinamakan Syaiun (Muhammad)

4.    MAKRIFAT = Dzat, Sifat, Af’al, Asma yang dinamakan Allah

SIRI DELAPAN

1.    Ibadah orang SYAREAT = Mengerjakan segala Rukun Islam yang lima

2.    Ibadah orang THAREKAT = Mengerjakan SYAREAT + Taubat, Syukur, Tawakkal, Tahmid, Tawadha’, Harap, Ridha, Sabar, Ikhlas

3.    Ibadah orang HAKEKAT = SYAREAT + THAREKAT + Mengesakan Af’al Allah, mengesakan Asma Allah, Mengesakan Sifat Allah dan Mengesakana Dzat Allah.

4.    Ibadah orang MAKRIFAT = SYAREAT + THAREKAT + HAKEKAT + Mujahadah, Muraqabah, Muqaballah, Musyahadah, Tawajuh dan Tafakur

SIRI SEMBILAN

1.    Ikhlas orang-orang SYAREAT itu dinamakan ikhlas Mubtadaq

2.    Ikhlas orang-orang THAREKAT itu dinamakan ikhlas Mutawwasit

3.    Ikhlas orang-orang HAKEKAT itu dinamakan ikhlas Muntaha

4.    Ikhlas orang-orang MAKRIFAT juga dinamakan ikhlas Muntaha

SIRI SEPULUH

1.    Jalan SYAREAT = Jalan orang-orang Awam

2.    Jalan THAREKAT = Jalan orang-orang Khas

3.    Jalan HAKEKAT = Jalan orang-orang Khas ul Khas

4.    Jalan MAKRIFAT =Jalan orang-orang Khawas

SIRI SEBELAS

1.    SYAREAT = Af’al Allah

2.    THAREKAT = Asma Allah

3.    HAKEKAT = Sifat Allah

4.    MAKRIFAT = Dzat Allah

SIRI DUABELAS

1.    SYAREAT = Ilmu Yakin

2.    THAREKAT = Ainul Yakin

3.    HAKEKAT = Haqqul Yakin

4.    MAKRIFAT = Akmal Yakin

SIRI TIGA BELAS

1.    SYAREAT = Dzahir

2.    THAREKAT = Batin

3.    HAKEKAT = Akhir

4.    MAKRIFAT = Awal

 SIRI EMPAT BELAS

1.    SYAREAT = Muhammad Dzahir

2.    THAREKAT = Muhammad Batin

3.    HAKEKAT  = Muhammad Akhir

4.    MAKRIFAT = Muhammad Awal

SIRI LIMA BELAS

1.    Cara zikir SYAREAT = Dengan Lidah

2.    Cara zikir THAREKAT = Dengan Hati

3.    Cara zikir HAKEKAT = Dengan Nyawa

4.    Cara zikir MAKRIFAT = Dengan Rahasia

SIRI ENAM BELAS

1.    Pekerjaan SYAREAT = Dikatakan oleh Lidah dan dikerjakan oleh Hati

2.    Pekerjaa THAREKAT =  Hati yang mengerjakan baik atau jahat

3.    Pekerjaan HAKEKAT = Nyawa yang mengerjakan baik atau jahat

4.    Pekerjaan MAKRIFAT = Rahasia yang mengerjakan baik atau jahat

SIRI TUJUH BELAS

1.    Rumah SYAREAT = Lidah

2.    Rumah THAREKAT = Hati

3.    Rumah HAKEKAT = Budi

4.    Rumah MAKRIFAT = Roh

SIRI DELAPAN BELAS

1.    Adab orang SYAREAT = Orang-orang yang berdiri dengan tanda-tanda kenyataan

2.    Adab orang THAREKAT = Orang-orang yang berzikir tanpa tanda, hanya karunia Allah

3.    Adab orang HAKEKAT = Orang-orang yang haknya dan hak Allah

4.    Adab orang MAKRIFAT = Orang-orang yang mengetahui perkataan dan maqam

SIRI SEMBILAN BELAS

1.    Sembahyang orang SYAREAT = Tubuhnya yang menyembah Allah

2.    Sembahyang orang THAREKAT = Hatinya yang menyembah Allah

3.    Sembahyang orang HAKEKAT = Nyawanya yang menyembah Allah

4.    Sembahyang orang MAKRIFAT = Wahadatul wujud yang menerima sembahnya, inilah sembahyang para Nabi, Wali Allah, Ahli sufi dan orang Kamil dan Mukamil

SIRI DUA PULUH

1.    Pintu SYAREAT = Mata

2.    Pintu THAREKAT = Dua lubang hidungnya

3.    Pintu HAKEKAT =  Dua biji mata

4.    Pintu MAKRIFAT = Di antara mata putih dan mata hitam

SIRI DUA PULUH SATU

1.    Martabat SYAREAT = Alam Roh

2.    Martabat THAREKAT = Alam Malakut

3.    Martabat HAKEKAT = Alam Jabarut

4.    Martabat MAKRIFAT = Alam Lahut

SIRI DUA PULUH DUA

1.    Tujuan SYAREAT = Agar Hatinya ada Nur

2.    Tujuan THAREKAT = Agar Dirinya dan Nyawanya jadi mulia

3.    Tujuan HAKEKAT = Agar dapat memisahkan antara Hak dan Batil

4.    Tujuan MAKRIFAT = Agar dapat derajat Saddikin

SIRI DUA PULUH TIGA

1.    SYAREAT = Ibarat buih

2.    THAREKAT = Ibarat ombak

3.    HAKEKAT = Ibarat laut

4.    MAKRIFAT = Ibarat air

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah

*Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah*

Membicarakan makna “salaf” tidak hanya terpaku pada satu makna. Sebagaimana yang kita tahu bahwa Bahasa Arab itu memiliki banyak makna dalam satu kata bakunya yang jika dikembangkan ke berbagai wazan, maka artinya pun beda, begitu juga denga perbedaan harakat.

Istilah ini sejak dulu sudah digunakan di Indonesia, contohnya pesantren salafiyah yang berarti metodenya masih menggunakan metode salaf dalam proses menyalurkan pengetahuan, yaitu sorogan dan bandongan atau dalam istilah ilmu hadits yaitu tahammul wal ada’ via qira’ah ‘ala syaikh(murid membaca kepada guru) atau sima’ min syaikh(guru yang membaca dan murid yang mendengarkan).

Akhir-akhir ini pula banyak kelompok yang mendakwahkan dirinya sebagai pengikut salafi. Jika ada sebagian orang desa mendengar istilah itu, maka langsung terbersit makna pesantren salafiyah yang tersebar di desa mereka, atau santri-santri pondok tersebut, padahal yang dimaksud bukanlah itu.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid(yang disusun oleh Dr Abdul Hamid Ali Izz Al-Arab, Dr Shalah Mahmud Al-‘Adily, dan Dr Ramadhan Abdul Basith Salim, ketiganya dosen Al-Azhar Mesir), kita perlu membedakan ketiga istilah di atas karena satu di antara tiga istilah itu berbeda dengan yang lainnya.

Adapun istilah “Salaf” yaitu para sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin yang hidup sampai batas 300 H. Merekalah sebaik-baiknya generasi, sebagaimana termaktub dalam hadits nabi SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud dari nabi SAW:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمَيْنُهُ وَ يَمَيْنُهُ شَهَادَتُهُ


Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelahnya lagi (atba’it tabi’in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannnya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”

Meskipun definisi mereka sampai batas 300 H, di sini ada catatan penting yaitu keselarasan mereka dengan Al-Quran dan Hadits. Jika hanya hidup pada rentang masa 300 H tetapi kontradiksi dengan kedua pedoman ini, maka tidak disebut sebagai salaf. Salah satu contohnya adalah sekte musyabbihah yang hidup pada masa itu.

Musyabbihah adalah kelompok tekstualis dalam membaca Al-Quran dan hadits yang meyakini bahwa Allah serupa dengan makhluk-Nya, yaitu memiliki anggota tubuh antara lain bertangan, berkaki, bermulut, bermata, dan seterusnya.

Adapun “salafi” adalah mereka (ulama maupun orang biasa) yang datang setelah 300 H dan dinisbahkan pada kaum salaf yang telah disebutkan di atas, juga menganut manhajnya (metode). Istilah ini dapat dikaitkan dengan semua orang yang yang mengikuti manhaj salaf, bahkan kita pun bisa, namun itu terjadi jika memang benar-benar perilaku dan manhajnya berdasarkan salaf, bukan hanya menyandang titel salafi tetapi perilakunya berbeda.

Terakhir adalah salafiyyah yang difondasikan dan disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751H) dari Al-Quran, Hadits, perbuatan serta perkataan ulama salaf dan mengodifikasikannya dalam bentuk kitab khusus dan prinsip yang tetap. Unsur-unsur dalam kitab kedua ulama itu memang sudah ada sebelumnya, namun masih berserakan terpisah, kemudian barulah dikumpulkan.

Setelahnya munculah Muhammad bin Abdil Wahhab (1206 H) yang menyebarkan apa yang disusun oleh kedua ulama tadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahumallah di jazirah arab, ia berpegang teguh pada beberapa risalah dan ikhtisar yang dikutip dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid, terdapat catatan yang menurut saya penting dari perkataan salah seorang peneliti di dalam kitab Al-Fikrul Islamy Al-Hadits karya Dr Abdul Maqshud Abdul Ghani, “Jika kita membandingkan antara pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah akidah hampir keduanya sama dan tidak berbeda, kecuali Ibnu Taimiyyah telah merinci pendapatnya dan menguatkannya dengan dalil-dalil dan hujjah, serta membantah pendapat orang yang berseberangan dengannya dengan dalil dan sanad. Sedangkan Muhamad bin Abdul Wahhab hanya mennyebutkan keterangannya secara singkat saja.”

Hal yang menonjol dari ketiganya hanya dari segi waktu dan pijakan dalam berpegang pendapat, jika salafy itu memang orang-orang yang menisbahkan dirinya sebagai pengikut manhaj salaf atau Ahlussunah wal Jamaah, salafiyyah lebih condongnya disebut usaha regenerasi, meskipun dalam beberapa realitanya tidak begitu.

Sebagai warga Indonesia, banyak istilah naturalisasi dari bahasa lain yang kita gunakan di kehidupan keseharian secara umum, seperti tadi pondok pesantren salafiyah. Lagi-lagi kita harus mencermati suatu istilah berdasarkan makna, substansi, dan intisarinya. Jangan terpaku pada sisi zahirnya saja. Adakalanya suatu istilah berbeda antara praktik dan substansinya. Wallahu a’lam.

Natijah:
~*Salaf*= para sahabat, tabi'in, atba'tabi'in yg hidup dari tahun pertama Hijriah - 300H
~*Salafi*=Pengikut Muhammad bin abdul wahab/wahabi
~*Salafiyah*=System pendidikan pesantren Ahlusunnah wal jamaah yg memakai metode sorogan(murid membaca guru menyimak, bandongan(guru membaca murid menyoret dan menyimak), serta hafalan, dan kajiannya adalah semua fan ilmu yg memakai kitab kuning(bacaan arab yg tak berharokat).

Aswaja di Nusantara

*Ahlussunnah wal Jamaah di Bumi Nusantara*

Secara geografis Nusantara –di mana Indonesia sebagai bagian darinya--merupakan wilayah strategis baik secara ekonomi dan politik serta pertahanan, karena posisinya pada perlintasan budaya antar benua. Dengan posisinya yang strategis itulah Nusantara menjadi perlintasan agama yang sangat penting. Kawasan ini mengalami perubahan budaya dan agama yang beruntun namun berjalan cukup damai.

Kepercayaan Pagan, Hindu, Budha dan Islam secara dialektik telah menjadi tata nilai yang berjalan di kawasan Asia Tenggara. Nilai-nilai tersebut, bahkan, kemudian mampu memberikan kontribusi dalam membentuk sistem pemerintahan dan varian keagamaan sendiri yang mencerminkan pergumulan antara budaya luar dengan budaya asli Nusantara.

Lebih-lebih ketika Islam datang ke Nusantara. Agama baru ini diterima sangat baik oleh penduduk setempat. Hal itu karena kearifan para ulama atau wali yang datang ke wilayah ini, yang sangat menghormati tradisi, adat istiadat, bahkan agama setempat. Islam dicoba diselaraskan dengan ajaran setempat, karena itu tidak sedikit tradisi yang kemudian dijadikan sarana penyiaran Islam.

Dengan cara itu mereka tidak terusik dengan datangnya agama baru (Islam) itu, mereka menerima dengan tangan terbuka. Apalagi agama Islam yang tidak mengenal strata sosial itu, dirasa sangat membebaskan mereka dari kungkungan kekastaan yang ketat, karena itu mereka turut membantu penyebarannya.

Sistem keberagamaan yang toleran dengan tradisi lokal ini berkembang luas di kalangan Islam Nusantara yang dikenal dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yang dikembangkan oleh para wali atau ulama baik di Aceh, di Minangkabau, di Palembang di Pontianak, Banjarmasin, Bugis, Makassar, Ternate, Nusa Tenggara dan sebagainya, pada umumnya bermazhab Syafiiyah, atau mazhab empat pada umumnya. Mereka juga terhimpun dalam kelompok terekat, seperti Sattariyah, Qadiriah, Naqshabandiyah dan lain sebagainya.

Dengan kekuatan tradisi itu mereka bisa mendirikan pusat-pusat kebudayaan, baik berupa kerajaan maupun lembaga pendidikan pesantren dan pusat perdagangan. Dengan sarana itu Islam berkembang pesat di seluruh penjuru Nusantara lebih intensif dan lebih langgeng ketimbang pengaruh agama lainnya yang pernah ada.

Keutuhan dan keberagamaan masyarakat Nusantara ini mulai terusik ketika muncul gerakan Wahabi yang puritan. Semua tata nilai yang telah dikembangkan untuk mendukung sarana dakwah dan ibadah itu dicap sebagai tahayul, bid’ah, dan khurafat.

Selama beberapa dasawarsa mereka menyerang dengan sengit kelompok ahlussunnah yang bermazhab dan kaum tarekat, karena dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Mereka ini tidak menghendaki adanya percampuran antara Islam dengan budaya Nusantara, mereka ingin mengembalikan Islam pada budaya Arab, yang hanya mengenal Al-Qur’an dan Hadits. Karena cara penyiaran ajaran baru itu demikian kasar, penuh kontroversi akhirnya, tidak diterima secara penuh oleh masyarakat.

Gelombang serangan terhadap eksistensi Islam Nusantara itu terus berdatangan dalam setiap dasawarsa, dengan datangnya gerakan Islam puritan yang radikal. Bahkan serangan juga datang dari kebudayaan Barat, yang menuduh Islam ini sebagai Islam sinkretis, yang konservatif yang tidak sesuai denagn kemajuan zaman. Bahkan saat ini sistem kapitalisme global yang manawarkan budaya sekular dan hedonis juga memberika ancaman tersendiri bagi keutuhan kamunitas Islam Nusantara yang dengan gigih mempertahankan moral dan tradisi.

Sebenarnya kekuatan Islam Nusantara ini sangat besar, karena didukung oleh mayoritas umat Islam, yang sehari-hari dengan gigih mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Hanya saja kurang terpadu dan kurang sigap dalam memainkan media, sehinga perannya seolah menjadi terpinggir oleh kelompok-kelompok Islam garis keras yang puritan, tetapi sebenarnya minoritas.

Tradisi ini tidak hanya Nahdlatul Ulama, tetapi juga didukung oleh organisasi Islam yang lain seperti; Tarbiyah Islamiyah (Padang), Al Washliyah (Medan), Al Khairat (Palu), Nahdlatul Wathon (Mataram), Darut Dakwah wal- Irsyad/DDI (Sulawesi Selatan) dan Mathlaul Anwar (Banten). Apabila seluruh kekuatan Islam bermazhab Ahlussunnah wal Jamaah Nusantara ini bersatu padu, maka keberadaan Islam Ahlussunnah di Nusantara ini akan tetap lestari bahkan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat, bahkan mampu menentukan masa depan bangsa ini.

Mengingat adanya tantangan yang terus-menerus baik dari kalangan Islam radikal yang puritan maupun dari kalangan Islam liberal yang militan, maka eksistensi Islam Ahlussunnah wal Jamaah Nusantara ini perlu diperkuat. Hadirnya Islam Ahhlusunnah wal Jamaah kita harapkan membawa pengaruh besar pada kehidupan bangsa di bumi Nusantara ini.

Wallaahul_muwaffiq ilaa ahsanit_thoriiq

Pesan Imam Syafi'i

PESAN IMAM SYAFI'I

1. "Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan" (Imam Syafi'i)

2. "Jangan cintai orang yg tidak mencintai Allah, kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu" (Imam Syafi'i)

3. "Barangsiapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia" (Imam Syafi'i)

4. "Doa disaat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran" (Imam Syafi'i)

5. "Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat" (Imam Syafi'i)

6. "Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu" (Imam Syafi'i)

7. "Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafan sedang di tenun" (Imam Syafi'i)

8. "Jadikan akhirat dihatimu, dunia ditanganmu dan kematian dipelupuk matamu" (Imam Syafi'i)

9. "Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing" (Imam Syafi'i)

10. "Amalan yang paling berat diamalkan Ada 3 (tiga). 1. Dermawan saat yang dimiliki sedikit. 2. Menghindari maksiat saat sunyi tiada siapa-siapa. 3. Menyampaikan kata-kata yang benar dihadapan orang diharap atau ditakuti" (Imam Syafi'i)

11. "Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kemeralatannya, sehingga orang lain menyangka bahwa dia berkecukupan karena dia tidak pernah meminta" (Imam Syafi'i)

12. "Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira bahwa ia merasa ridha" (Imam Syafi'i)

13. "Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengira bahwa ia selalu senang" (Imam Syafi'i)

14. "Apabila engkau memiliki seorang sahabat yg membantumu dalam ketaatan kepda Allah, maka genggam eratlah ia, jangan engkau lepaskan. Karena mendapatkan seorang sahabat yang baik adalah perkara yang sulit, sedangkan melepaskannya adalah perkara yang muda" (Imam Syafi'i)

15. Pesan Imam Syafi'i.
Nanti di akhir zaman akan banyak ulama yang membingungkan umat, sehingga umat bingung mana ulama warosatul anbiya & mana ulama suu' yang menyesatkan.

16. Pesan Imam Syafi'i:
"Carilah ulama yang dibenci oleh orang2 kafir & munafik, dan jadikanlah dia ulama yang membimbingmu & jauhi ulama yg dekat dengan orang2 kafir & munafik, karena dia akan menyesatkanmu & menjauhkanmu dari keridhoan Allah SWT".

💖💖 IMAM SYAFI'I 💖💖

Tarekat di Sulawesi Selatan

Berdasarkan data yang ada di JATMAN, Setidaknya ada 4 tarekat di Sulawesi Selatan yang menggunakan nama Khalwatiyah yaitu

1. Khalwatiyah Yusuf, yaitu tarekat yang dibawa dan dinisbatkan kepada Syekh Yusuf Al-Makassary. Di antara mursyidnya saat ini adalah Syekh Sayyid Abdul Rahim Assegaf Puang Makka yang tinggal di jalan Baji Bicara.

2. Tarekat Khalwatiyah Samman yaitu tarekat yang dinisbatkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Madani. Pusat penyebarannya ada di Patte'ne, Leppakomai, Turikale, Parangki dan Pangkasalo.

3. Tarekat Khalawtiyah Yusufiyah yaitu tarekat khalwatiyah yang diturunkan melalui jalur keturunan. Salah seorang mursyid tarekat ini adalah Syekh Sahib Sultan Karaeng Nompo yang tinggal di jalan Kacong Daeng La'lang Sungguminasa.

4. Tarekat Tajul Khalwatiyah Syekh Yusuf. Tarekat ini *menisbatkan diri* kepada Syekh Yusuf Al-Makassari. Tarekat ini berpusat di Bolangi dan pimpinannya bernama Puang La'lang.

No. 1, 2 dan 3 termasuk dalam kelompok Tarekat mu'tabarah (sah dan diakui kebenarannya). Sedangkan yang no 4 ghairu mu'tabarah (belum diakui kebenarannya).

Setidaknya ada 2 alasan utama mengapa tarekat Tajul termasuk dalam kategori ghairu mu'tabarah. Yaitu

1. Tidak memiliki sanad yang muttshil atau silsilah keilmuan yang bersambung hingga kepada Rasulullah saw. Mereka mengklaim punya silsilah, tapi silsilah yang mereka miliki diragukan karena tidak jelas sumbernya.

2. Beberapa ajaran mereka bertentangan dengan aqidah dan syari'at

Mengapa Islam NUsantara ?

MENGAPA HARUS “ISLAM NUSANTARA”???
KENAPA TIDAK “AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH” SAJA???
===================================
Salah satu ada yg mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
Pada sbuk dg: ISLAM NUSANTARA .
Klu aku mengikuti Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah yg rohmatan lil 'alamina kira" boleh gk ???
JAWABAN SAYA:
Alhamdulillah bila sdh mengikuti Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah yg rohmatan lil 'alamina, karena memang ituulah yg diperjuangkan oleh ISLAM NUSANTARA .
LALU DITANYA LAGI:
Kalau memang antara Islam NUSANTARA sama saja dengan Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah yg rohmatan lil 'alamina, lantas apa gunanya sih kok pake istilah ISLAM NUSANTARA segala ????
Kenapa tdk pake Islam Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah yg rohmatan lil 'alamina saja???
JAWABAN SAYA :
Alasannya di antaranya :
Karena hampir seluruh firqoh dalam Islam , baik yg sesat dan menyesatkan maupun yg tidak sesat hampir semuanya juga mengklim kalau mereka juga sebagai pengikut Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, yang sehingga ummat menjadi bingung dan kesulitan utk membedakan mana yg Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yg sebenarnya dan mana yg sekedar mengaku ngaku saja .
Sebagai contoh :
Kelompok radikal ISIS yg dalam menerapkan islam yg sudah jelas jelas bertentangan dengan pokok dasar Ahlu Sunnah Wal Jama'ah , seperti : membunuh sesama muslim dg cara yg tidak haq, mebantai anak anak muslim, memperkosa wanita wanita muslimah , menghancurkan situs-situs sejarah serta simbul simbul islam , dll...... mereka juga mengklim klu dirinya juga sebagai pengikut Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.
Kemudian WAHABI yg dalam menerapkan islam yg sudah jelas jelas bertentangan dengan pokok dasar Ahlu Sunnah Wal Jama'ah , seperti : menkafir-kafirkan yg tidak sehaluan, mesyirik-syirikkan ziarah kubur dan tawasul , mensesat sesatkan ummat islam yg memperingati hari hari besar Islam, membid'ah-bid'ahkan ummat islam yang mengadakan Dzikir berjama'ah , Tahlilan , Tingkeban, dll...... mereka juga mengklim klu dirinya juga sebagai pengikut Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.
Nah . sebagai upaya utk memilah dan memilih mana Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah yang hanya sekedar mengaku ngaku belaka dan mana Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah yang sebenarnya yang sesuai dengan yg diajarkan dan diamalkan oleh Rosululloh Saw beserta para Shohabatnya serta yg diikuti oleh Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in dan Ulama Salaf, maka Ulama NU berijtihad membuat suatu wadah yg disebut dengan istilah ISLAM NUSANTARA .
Dengan adanya pemisahan antara ASWAJA yang diakui dg ASWAJA yg sebatas pengakuan tersebut , diharapkan ummat tidak bingung dan tidak tertipu oleh gerakan ASWAJA yg hanya sebatas pengakuan belaka, yang sehingga pada puncaknya nanti Islam yg berhaluan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang mampu menjadi rohmat utk seluruh alam benar benar bisa terwujud melalui wadah ISLAM NUSANTARA.
.
KESIMPULANNYA :
1. ISLAM NUSANTARA adalah hasil ijtihad ulama sebagai upaya utk mengembalikan Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah kepada esensi dasarnya , yaitu Islam yang Rohmatan lil ‘alamiina.
2. ISLAM NUSANTARA adalah sebagai upaya utk memilah dan memisahkan antara Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yg memang benar benar diakui dengan yg hanya sekedar pengkuan belaka .
3. ISLAM NUSANTARA adalah sebagai upaya utk menjaga kemurnian Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dari upaya segolongan kaum yg ingin menodai dan merusak citra Islam dg sikapnya yg intoleran dan radikalis.
4. ISLAM NUSANTARA bukanlah Firqoh atau Manhaj
ISLAM NUSANTARA bukanlah Madzhab .
.
Tetapi ISLAM NUSANTARA adalah Ummat Islam yg berkarakteristik NUSANTARA , yaitu :
Islam yang santun
Islam yang ramah
Islam yang wasathon.
Islam yang tawazzun
Islam yang I'tidal
Islam yang tasyammuh
Islam yang menjaga nilai budaya yg tdk bertentangan dg Islam.
Islam yang rahmatan lil alamiin.
Yang dalam ber-ISLAM mengikuti Firqoh atau Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah
Yang dalam ber-ISLAM mengikuti salah satu dari 4 Imam Madzhab yg ada , yaitu : Imam Maliki , Imam Hanafi , Imam As-Syafi'i, Imam Hanbali .
Yang dalam ber-ISLAM bersikap pluralis, yang sangat menghormati perbedaan dan keberagaman

Demikian penjelasan ringkas tentang ISLAM NUSANTARA .

Semoga Manfaat 🤲🙏

TETAP TERSENYUMLAH ☺

Ringkasan Islam Nusantara

KESIMPULANNYA :
1. ISLAM NUSANTARA adalah hasil ijtihad ulama sebagai upaya utk mengembalikan Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah kepada esensi dasarnya , yaitu Islam yang Rohmatan lil ‘alamiina.

2. ISLAM NUSANTARA adalah sebagai upaya utk memilah dan memisahkan antara Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yg memang benar benar diakui dengan yg hanya sekedar pengkuan belaka .

3. ISLAM NUSANTARA adalah sebagai upaya utk menjaga kemurnian Islam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dari upaya segolongan kaum yg ingin menodai dan merusak citra Islam dg sikapnya yg intoleran dan radikalis.

4. ISLAM NUSANTARA bukanlah Firqoh atau Manhaj
ISLAM NUSANTARA bukanlah Madzhab .
.
Tetapi ISLAM NUSANTARA adalah Ummat Islam yg berkarakteristik NUSANTARA , yaitu :
Islam yang santun
Islam yang ramah
Islam yang wasathon.
Islam yang tawazzun
Islam yang I'tidal
Islam yang tasyammuh
Islam yang menjaga nilai budaya yg tdk bertentangan dg Islam.
Islam yang rahmatan lil alamiin.
Yang dalam ber-ISLAM mengikuti Firqoh atau Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jamaa'ah
Yang dalam ber-ISLAM mengikuti salah satu dari 4 Imam Madzhab yg ada , yaitu : Imam Maliki , Imam Hanafi , Imam As-Syafi'i, Imam Hanbali .
Yang dalam ber-ISLAM bersikap pluralis, yang sangat menghormati perbedaan dan keberagaman
.
Demikian penjelasan ringkas tentang ISLAM NUSANTARA .
Semoga ada manfaatnya.

Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

*📖 Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan*



📝 Diantara tradisi menjelang bulan Ramadhan (akhir Sya’ban) adalah ziarah kubur. Sebagian mengistilahkan tradisi ini sebagai arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar JawaTimur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

Memang, pada masa awal-awal Islam, Rasulullah saw memang pernah melarang umat Islam berziarah ke kuburan, mengingat kondisi keimanan mereka pada saat itu yang masih lemah. Serta kondisi sosiologis masyarakat arab masa itu yang pola pikirnya masih didominasi dengan kemusyrikan dan kepercayaan kepada para dewa dan sesembahan. Rasulullah saw mengkhawatirkan terjadinya kesalah pahaman ketika mereka mengunjungi kubur baik dalam berperilaku maupun dalam berdo’a.

Akan tetapi bersama berjalannya waktu, alasan ini semakin tidak kontekstual dan Rasulullahpun memperbolehkan berziarah kubur. Demikian keterangan Rasulullah saw dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :"قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة"رواة الترمذي (3/370)

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat. 

Demikianlah sebenarnya hukum dasar dibolehkannya ziarah kubur dengan illat (alasan) ‘tazdkiratul akhirah’ yaitu mengingatkan kita kepada akhirat. Oleh karena itu dibenarkan berziarah ke makam orang tua dan juga ke makam orang shalih dan para wali. Selama ziarah itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat. Begitu pula ziarah ke makam para wali dan orang shaleh merupakan sebuah kebaikan yang dianjurkan, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitab ‘al-fatawa al-fiqhiyah al-kubra’. Inilah yang menjadi dasar para ustadz dan para jama’ah mementingkan diri berziarah ke maqam para wali ketika usai penutupan ‘tawaqqufan’ kegiatan majlis ta’lim. Sebagaimana yang ditradisikan masyarakat muslim di Jakarta dan sekitarnya.

وسئل رضي الله عنه عن زيارة قبور الأولياء فى زمن معين مع الرحلة اليها هل يجوز مع أنه يجتمع عند تلك القبور مفاسد كاختلاط النساء بالرجال وإسراج السرج الكثيرة وغير ذلك فأجاب بقوله زيارة قبور الأولياء قربة مستحبة وكذا الرحلة اليها.

Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengn melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam mereka.

Adapun mengenai ikmah ziarah kubur Syaikh Nawawi al-Bantani telah menuliskannya dalam Nihayatuz Zain demikian keterangannya “disunnahkan untuk berziarah kubur, barang siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya”…

Demikianlah hikmah di balik ziarah kubur, betapa hal itu menjadi kesempatan bagi siapa saja yang merasa kurang dalam pengabdian kepada orang tua semasa hidupnya. Bahkan dalam keteragan seanjutnya masih dalam kitab Nihayatuz Zain diterangkan “barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari jum’at pahalanya seperti ibadah haji”

Apa yang dikatakan Syaikh Nawawi dalam Nihayuatuz Zain juga terdapat dalam beberapa kitab lain, bahkan lengkap dengan urutan perawinya. Seperti yang terdapat dalam al-Mu’jam al-Kabir lit Tabhrani juz 19.

حدثنا محمد بن أحمد أبو النعمان بن شبل البصري, حدثنا أبى, حدثنا عم أبى محمد بن النعمان عن يحي بن العلاء البجلي عن عبد الكريم أبى أمية عن مجاهد عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من زار قبر أبويه أو احدهما فى كل جمعة غفر له وكتب برا 

Rasulullah saw bersabda “barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Adapun mengenai pahala haji yang disediakan oleh Allah swt kepada mereka yang menziarahi kubur orang tuanya terdapat dalam kitab Al-maudhu’at berdasar pada hadits Ibn Umar ra.

أنبأنا إسماعيل بن أحمد أنبأنا حمزة أنبأنا أبو أحمد بن عدى حدثنا أحمد بن حفص السعدى حدثنا إبراهيم بن موسى حدثنا خاقان السعدى حدثنا أبو مقاتل السمرقندى عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " من زار قبر أبيه أو أمه أو عمته أو خالته أو أحد من قراباته كانت له حجة مبرورة, ومن كان زائرا لهم حتى يموت زارت الملائكة قبره   

Rasulullah saw bersabda “Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya”

Akan tetapi tidak demikian hukum ziarah kubur bagi seorang muslimah. Mengingat lemahnya perasaan kaum hawa, maka menziarahi kubur keluarga hukumnya adalah makruh. Karena kelemahan itu akan mempermudah perempuan resah, gelisah, susah hingga menangis di kuburan. Itulah yang dikhawatirkan dan dilarang dalam Islam. Seperti yang termaktub dalam kitab I’anatut Thalibin. Sedangkan ziarah seorang muslimah ke makam Rasulullah, para wali dan orang-orang shaleh adalah sunnah.

(قوله فتكره) أي الزيارة لأنها مظنة لطلب بكائهن ورفع أصواتهن لما فيهن من رقة القلب وكثرة الجزع

Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal tersebut cenderung membantu pada kondisi yang melemahkan hati dan jiwa.

Dari keterangan panjang ini, maka tradisi berziarah kubur tetaplah perlu dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syari’ah Islam. Bahkan malah dapat mengingatkan akan kehidupan di akhirat nanti. Apalagi jika dilakukan di akhir bulan Sya’ban. Hal ini merupakan modal yang sangat bagus untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan.