Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

Tradisi, Budaya dan NU




1.      Pengertian Tradisi, Budaya, dan NU

a.      Tradisi
         Tradisi (Bahasa Latin: tradition, “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasannya dari suatu Negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.[1]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dimasyarakat dengan anggapan tersebut bahwa cara-cara yang ada merupakan yang paling baik dan benar.[2]
Menurut Hasan Hanafi (2004:5), tradisi adalah pertama, sesuatu yang ditransferensikan kepada kita dan menjadi  ke pahaman kepada kita dan mengarahkan perilaku kehidupan kita. suatu tradisi tertentu ditransformasikan menuju tradisi yang dinamis, menegakkan kesadaran historis, kesadaran eidetis, dan kesadaran praksis.[3]

Tradisi Sarungan



Masyarakat akhir-akhir ini banyak yang beranggapan bahwa yang memakai sarung hanya orang yang baru saja sunat (khitan). Tradisi di masyarakat ketika selesai sunat (khitan) biasa nya memakai sarung memudahkan pergerakan dan longgar angin bebas keluar masuk, karna itu sarung di pakai agar cepat sembuh dan kering bekas sunat (khitan).

Peringatan dan Sajian Istimewa

Nusantara, khususnya di Indonesia, banyak acara peringatan maulid nabi atau perayaan keagamaan lainnya yang biasanya untuk mengenang semangat dan mengkaji pengajaran, serta meneladani ajaran Rasulullah. Pada umumnya acara peringatan tersebut dibarengi dengan banyaknya sajian atau suguhan makanan yang biasanya dimakan setelah membaca doa ataupun shalawat.

Habib, NU, Dan Islam Yang Satu


Habib, NU, Dan Islam Yang Satu
HUSEIN JA'FAR AL HADAR

Konon, jika umat Islam bersatu, maka tak butuh rudal, tank, senapan atau peralatan militer apa pun untuk melawan Israel. Cukup masing-masing membawa setimba air, tumpahkan ke daratan Israel, dan negeri zionis itu pun akan tenggelam, hilang dari peta dunia.

Orientasi Politik NU semata-mata demi kemashlahatan ummat



Sembilah puluh dua Tahun sejak di dirikannya pada 1926 silam,  NU mendayung bahtera organisasi. Tentu NU telah menjaring pengalaman hidup yg penuh liku-liku. Kadang berada di roda atas, bawah, pahit getir dan jatuh bangun, semua sudah dialami oleh NU. Kelanggengan dan eksistensi NU hingga hari ini merupakan pelajaran penting dan berharga, betapa cekatan dan lincahnya NU mendayung bahtera ditengah hentakan gelombang dan badai.

Elastisitas Politik NU



Salah satu ciri khas dari pemikiran politik kaum Tradisionalis termasuk NU adalah sikap moderat, luwes dan fleksibel. KH.Idam Khalid sebagai salah satu ulama sekaligus politisi NU tahun1950 -1960 an pernah mengatakan bahwa
"dari sudut pandang politik dalam negri, NU selalu mencoba sedapat mungkin untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan peristiwa yang sedang terjadi dan tidak pernah mengajukan sesuatu yang bersifat absolut atau tanpa syarat".

Teori Politik Sunni, rujukan politik NU

Dasar formal ideologi NU adalah yurisprudensi Islam yang berasal dari filsafat politik Sunni pada abad pertengahan. Filsafat politik ini sudah mengalami perkembangan selama hampir 500 tahun, diawali pada abad IX oleh para Ulama fiqih seperti al-Baqillani, al-Baghdadi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Jama'ah dan Ibnu Khaldun.

Merajut Fikrah Nahdliyyah


Pembentukan Jam’iyah Nahdlatul Ulama dilatarbelakangai oleh dua faktor dominan;
pertama, adanya kekhawatiran dari sebagian umat Islam yang berbasis pesanten terhadap gerakan kaum modernis yang meminggirkan mereka.
kedua, sebagai respons ulama-ulama berbasis pesantren terhadap pertarungan ideologis yang terjadi di dunia Islam pasca penghapusan kekhilafahan Turki, munculnya gagasan Pan- Islamisme yang
dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani dan gerakan kaum Wahabi di Hijaz. Gerakan kaum reformis yang mengusung isu-isu pembaruan dan purifikasi membuat ulama-ulama yang berbasis pesantren melakukan konsolidasi untuk melindungi dan memelihara nilai-nilai tradisonal yang telah menjadi karakteristik kehidupan mereka.

Antara NU dan Nahdliyyin

NU adalah ormas Islam yang didirikan oleh para ulama Nusantara melalui istikhoroh untuk menjaga dan membentengi faham ahlussunnah wal jama'ah dari faham-faham keagamaan di luar aswaja yang kala itu mulai merambah dan tersebar di nusantara. Berdasarkan AD/ART, dalam aqidah NU menganut faham Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, dalam fiqih NU mengikuti empat madzhab, sedangkan dalam tasawuf NU mengikuti Imam Ghazali dan Syaikh Junaid al Baghdadi. Maka kalau kita melihat NU berdasarkan rumusan AD/ART, proses pendirian hingga para pendirinya yang merupakan para kekasih Alloh dan memiliki sanad keilmuan hingga sampai ke Rosulullah SAW, maka insya Alloh kebenaran ajaran NU bisa dipertanggung jawabkan sampai hari kiamat.