Tradisi Kololie Kie dan Ziarah Makam

KOLOLI KIE, (Tradisi Ritual Adat Mengelilingi Pulau Ternate Sambil Ziarah Beberapa Makam Keramat)

Penulis : Busranto Latif Doa
Foto : Maulana, Mukhsin & R. Fahmi
===================================================================

PENGANTAR

Setiap penduduk asli di pulau Ternate di Provinsi Maluku Utara pasti pernah mendengar dan tahu arti dari kata “Kololi Kie” yaitu sebuah kegiatan ritual masyarakat tradisional untuk mengitari atau mengelilingi gunung Gamalama sambil menziarahi beberapa makam keramat yang ada di sekeliling pulau kecil yg memiliki gunung berapi ini.

Menurut sejarawan Leonard Andaya (dalam Reid, 1993: 28-29), bahwa ancaman berupa bencana alam yang ditimbulkan oleh sebuah gunung berapi terkadang dapat melahirkan satu tradisi yang khas. Beberapa kawasan di Asia Tenggara, termasuk di daerah Maluku Utara, gunung terutama gunung berapi aktif dianggap sebagai representasi penguasa alam.

Oleh sebab itu, keberadaan gunung selalu dihormati dengan cara melakukan beberapa ritual tertentu. Sebuah gunung dianggap mewakili sosok yang mengagumkan sekaligus mengancam, sehingga diperlukan upacara penghormatan supaya keberadaannya menjamin ketentraman, keamanan, dan keberadaan masyarakat di sekitarnya. Demikian menurut Leonard Andaya. 

Dalam perspektif ini, ritual adat kololi kie ini memiliki makna ganda selain merupakan tradisi yg selalu dilakukan leluhur jaman dahulu untuk menjiarahi beberapa tempat yang dianggap keramat juga merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat Ternate dari berbagai ancaman bencana dari gunung berapi Gamalama tersebut. Hal seperti ini juga terjadi di beberapa gunung di pulau Jawa, Sumatera dan tempat lain di nusantara ini.
Pulau Ternate jika dilihat dari aspek topografis, berbentuk bulat kerucut (strato vulkano) yang luas diagonal pulau kecil ini dari arah utara ke selatan sepanjang 13 km dan dari arah barat ke timur sepanjang 11 km, dengan panjang bibir pantai keliling pulau kurang lebih 55 km dengan bentangan luas seluruh daratan pulau adalah 92,12 km2.  Dengan kondisi geografis demikian, maka sudah pasti bahwa jika kita mengelilingi “gunung Gamalama” haruslah dilakukan dengan mengelilingi pulau Ternate tersebut. Terdapat dua jalur untuk mengelilingi pulau kecil ini, yakni melalui jalur laut (kololi kie toma ngolo) dan atau melalui jalur darat (kololi kie toma nyiha). Gunung Gamalama merupakan satu-satunya gunung yang bertengger di pulau tersebut yang hingga saat ini masih merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian saat ini kurang lebih 1.730 m dari permukan laut.


PENGERTIAN & MAKNA FILOSOFI

Secara etimologi, kata “Kololi Kie” berasal dari bahasa asli Ternate yakni gabungan dari dua kata, yaitu ; kata “kololi” yang berarti keliling atau mengintari dan kata “kie” yang berarti gunung, pulau, darat atau juga berarti daratan. Jadi, pengertian kata Kololi Kie secara umum bermakna; kegiatan mengitari atau mengililingi pulau/gunung. Ada istilah lain yang mempunyai arti serupa yang juga populer di masyarakat Ternate terhadap kegiatan kololi kie ini, yaitu "Ron Gunung".  Ritual kololi kie ini sudah dilakukan oleh masyarakat Ternate sejak ratusan tahun lalu. Ritual adat ini merupakan salah satu dari dua ritual tertua yang dianggap satu paket, yakni ritual “Fere Kie” yaitu kegiatan ritual naik ke puncak gunung Gamalama untuk berziarah. (tentang ini akan dibahas dalam tersendiri sesudah tulisan ini).
Tradisi ritual adat kololi kie ini, jika dilihat dari sisi “route” yang dilalui, maka terdapat dua jalur yang bisa dilalui, yaitu; melalui jalur laut dan melalui jalur darat.

1). Jalur Laut, (=Kololi kie toma ngolo).
Kendaraan yang dugunakan pada kegiatan ritual adat kololi kie toma ngolo ini adalah perahu atau kapal ukuran sedang. Saat ini biasanya menggunakan perahu atau kapal bermotor, sedangkan pada jaman dahulu hal itu dilakukan dengan menggunakan perahu tanpa mesin, yakni mendayung dengan tangan.
2). Jalur Darat, (=Kololi kie toma nyiha / nyiho).

Kololi kie toma nyiha (sering disebut juga nyiho) biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu; dengan menggunakan kendaraan (mobil atau motor) dan dengan berjalan kaki, tapi yang terakhir ini sudah jarang dilakukan lagi.
Jika dilihat dari aspek “niat” atau “hajat” untuk melaksanakan ritual ini, maka ritual adat kololi kie ini dibagi atas tiga kategori, yaitu ; niat atau hajat perorangan, hajatan kelompok, dan hajatan besar dari pihak kesultanan.

1). Niat / Hajatan Perorangan
Hajat perorangan biasanya dilakukan oleh seseorang apabila mencapai apa yang dicita-citakannya tercapai, maka ia ber-nazar akan melakukan ritual adat kololi kie ini sebagai ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. Selain melalui sholat, masyarakat tradisional Ternate juga menziarahi para leluhur mereka yakni ke makam-makam dan keramat para sufi, para mubaligh dan tempat-tempat yang dianggap “Jere” (makam keramat beberapa ulama tasawuf Ternate jaman dahulu) yang dalam bahasa Ternate ulama tasawuf ini disapa “Joguru Lamo” atau ’”Khalifah” yang makam keramatnya tersebar di sekelilingi pulau ini.

Pada ritual adat kololi kie kategori niat atau hajat perorangan ini biasanya jarang dilakukan melalui laut, tapi kebanyakan melalui darat dengan menggunakan kendaraan darat baik mobil atau motor. Ritual adat ini biasanya dilakukan oleh seseorang apabila ia hendak merantau atau kembali ke kampung halaman setelah sekian lama merantau, atau juga mereka yang hendak melakukan pernikahan, atau sembuh dari penyakit yang lama diseritanya.

Hingga saat ini masih saja ada beberapa calon jemah haji di pulau Ternate yang hendak melakukan ibadah haji ke tanah suci, sebelum belaksanakan rukun haji, mereka juga melakukan kegiatan ritual adat Kololi Kie dan Fere Kie ini dengan niat menziarahi makam atau jere para sufi dan mubaligh Ternate jaman dahulu yang telah berjasa memperkokoh tegaknya syariat Islam di jazirah Moloku Kie Raha yakni di Ternate dan sekitarnya yang menurut pandangan mereka bahwa aqidah Islam yang dianut hingga saat ini dan masih tetap terpelihara turun-temurun hingga sampai pada dirinya yang saat ini hendak menjalankan rukun Islam yang kelima ke tanah suci Mekkah adalah hasil jerih payah para leluhur dalam menegakkan syariat Islam waktu itu.

2). Niat / Hajatan Kelompok
Pada ritual adat kololi kie kategori niat atau hajatan kelompok kebanyakan dilakukan melalui jalur laut (kololi kie toma ngolo). Maksudnya juga sama yaitu melaksanakan nazar yaitu ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT sekaligus menziarahi makam-makam dan jere para sufi. Ritual adat ini biasanya dilakukan apabila kerabat atau keluarga batih ataupun kelompok yang hendak mendirikan rumah, hendak panen rempah-rempah atau mereka yang selamat dari malapetaka, bencana atau wabah.

3). Niat / Hajatan Besar dari Kesultanan Ternate
Ritual adat kololi kie pada hajatan besar dari kesultanan adalah merupakan kegiatan ritual terbesar yang dilakukan setiap tahun. Ritual adat ini dilakukan secara besar-besaran dan sangat meriah terutama di sepanjang route yang dilaluinya. Route yang dilalui hanya melalui jalur laut, (kololi kie toma ngolo). Kata “toma ngolo” dalam bahasa Ternate berarti “di laut”.

Sedangkan jika dilihat dari aspek “proses verbalitas”, kegiatan ritual adat kololi kie ini, menurut penulis setidaknya terdapat 6 (enam) makna filosofis dan pedagogis yang bisa dijelaskan kepada para pembaca dalam deskripsi tulisan ini, diantaranya adalah;

1). Ritual adat kololi kie ini merupakan suatu kegiatan “napak tilas” dari sejarah proses kedatangan dan berlabuhnya tokoh legendaris “Maulana Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddiq” sang pembawa agama Islam pertama kali ke pulau Ternate ini dan kemudian menyebarkan siar Islam ke seluruh jazirah Maluku bagian utara. Sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat setempat menurut legenda yang ada bahwa sebelum tokoh ini mendaratkan perahunya di pulau Ternate, beliau terlebih dahulu mengitari pulau ini untuk melihat situasi sekaligus mencari tempat yang pantas untuk berlabuh. Akhirnya “Ake Sibu” atau yang sekarang dikenal “Ake Rica” yang berada di desa / kelurahan Ruwa saat ini, adalah tempat yang dipilih untuk berlabuh ketika itu.
2). Sependapat dengan sejarawan Leonard Andaya yang sudah penulis sebutkan di awal tulisan ini bahwa ada makna lain yang tersirat dari kegiatan ritual adat kololi kie ini. Hal ini merupakan aplikatif dari ungkapan masyarakat dan penduduk pulau ini terhadap sebuah kekuatan alam yang berbentuk ancaman berupa bencana alam yang ditimbulkan oleh gunung berapi Gamalama yang dianggap oleh mereka sebagai representasi penguasa alam. Bagi masyarakat tradisional di Ternate, keberadaan gunung Gamalama harus selalu dihormati dengan cara melakukan beberapa ritual tertentu seperti ritual adat kololi kie ini.

3). Sedangkan makna utama dari ritual adat kololi kie ini adalah aktivitas ritual untuk menziarahi makam dan keramat para auliyah, mubaligh, dan beberapa orang ulama tasawuf Ternate jaman dahulu. Makam-makam keramat mereka ini tersebar di tempat-tempat tertentu di sekelilingi pulau ini, sehingga untuk menziarahi keseluruhannya dalam waktu yang bersamaan, harus dilakukan dengan mengitari pulau tersebut. (orang Ternate menyebut makam-makam para Joguru Lamo di jazirah ini dengan istilah “Jere”).

4). Makna verbalistis yang bisa dipetik dari ritual adat kololi kie ini juga adalah mendoakan untuk keselamatan dan kemaslahatan negeri “Limau Gapi” ini baik di darat maupun di laut agar tetap kokoh sebagaimana tegaknya huruf alif dan berada dalam satu wadah laksana sebuah perahu yang bentuk seperti huruf baa, serta mensyukuri atas apa yang telah dilakukan oleh para mubaligh dan para sufi pendahulu di negeri para raja-raja ini, seperti; telah diletakkannya dasar aqidah Islam dan ke-tauhid-an yang tetap ada dan masih dipertahankan hingga anak cucu sekarang ini.

Sikap bersyukur dan ungkapan terima kasih tersebut diekpresikan dengan cara tradisional yakni kegiatan ritual menziarahi tempat-tempat tertentu yang diyakini sebagai tempat makam atau Jere mereka yang berada di sekeliling pulau ini. Kebiasaan inilah yang kemudian menjadi suatu tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini, yang kita kenal dengan ritual kololi kie ini. Menurut saya pribadi sebagai penulis, tradisi ini merupakan asset budaya daerah yang harus tetap dilestarikan oleh Pemda setempat.

5). Ritual adat kololi kie ini adalah juga kegiatan “napak tilas” yang wajib bagi setiap warga pribumi Ternate jaman dahulu, yakni melakukan patroli darat dan laut dari kampung ke kampung untuk berjaga-jaga dan memantau situasi kampung-kampung dan perairan sekitar jikalau adanya ancaman yang datang dari pihak luar terhadap penduduk dan warga pesisir di sekeliling pulau Ternate melalui jalur laut. Hal ini sering dilakukan pada masa lampau oleh pasukan angkatan laut kesultanan Ternate dengan “Armada Kora-Kora” dalam memantau situasi negeri sepanjang pantai dan lautan sekeliling pulau Ternate waktu itu.

Makna pedagogis yang tersirat dari tradisi ritual adat ini adalah mengajari kita tentang kewaspadaan territorial nasional dalam artian sempit (khusus lingkungan wilayah territorial kedaulatan kesultanan) atas gangguan-gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang datang dari pihak luar.

6). Makna pedagogis yang tersirat sebenarnya adalah "kebersamaan". Mengapa penulis berasumsi demikian? karena sejak mulainya perjalanan ritual ini, tidak ada dari perahu-perahu peserta tersebut yang berkejar-kejaran atau saling mendahului. Semua dalam rasa dan nuansa kebersamaan. Semua sudah tahu dan menyadari bahwa perahu atau kapal yang ditumpangi Sultan adalah yang paling depan dan menjadi penjuru iring-iringan. Perahu yang berseliweran ke kiri atau ke kanan ataupun kadang kadang berubah posisi konfigurasi hanya perahu atau speedboat yang ditumpangi para juru dokumenter yang mengabadikan gambar kegiatan ini, baik melalui handycam maupun dengan camera. namun demikian hampir setiap peserta dalam rombongan juga memiliki peralatan dokumentasi pribadi masing-masing.

Catatan tambahan Penulis :

Bahwa dari makna filosofis dan pedagogis dalam ritual adat ini yang sudah penulis sebutkan di atas, akan terlihat jelas sekali pada tahap-tahap pelaksanaan ritual adat ini. Jika anda berada di Ternate dan ikut serta dalam ritual ini dan perhatikan dengan seksama, tentu anda pasti tahu seperti apa tahap-tahap pelaksanaan ritual adat ini termasuk pembacaan doa-doa khusus di tempat-tempat khusus yang dilewati sepanjang jalur kololi kie tersebut. (dijelaskan pada sub judul tentang tahap-tahap, di bawah…).

Bahwa arah pergerakan semua kegiatan ritual adat kololi kie untuk mengelilingi pulau ini, baik melalui jalur darat maupun melalui jalur laut, adalah dilakukan berlawanan arah dengan putaran arah jarum jam. Penulis yang juga putra daerah asli Ternate pernah beberapa kali turut serta dalam rombongan ritual ini, baik kololi kie toma ngolo maupun kololi kie toma nyiha.

Nara sumber penulis yang minta dirahasiakan identitasnya menjelaskan bahwa arah mengintari atau perputaran dalam ritual adat kololi kie ini yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam adalah menyamakan arahnya persis seperti pelaksanaan tawaf oleh jemah haji yang mengelilingi kabah di Mekkah.

Asumsi penulis, putaran arahnya memang sama atau disamakan sejak awalnya mulanya pelaksanaan ritual ini dahulu, tapi hakekat dan makna mungkin berbeda. Wallahu wa’lam ? Tidak ada penjelasan detail dari nara sumber.

Perihal sebutan, orang Ternate menyebut pulau mereka dengan sebutan “Limau Gapi” dan menyebutkan nama gunungnya dengan sebutan “Kie Gam Lamo” (=negeri yang besar) yang merupakan asal kata dari sebutan Gamalama yang kita tahu sekarang ini, kata “Gam Lamo” diucapkan oleh orang Portugis dan Belanda dengan ucapan Gamma de Lamma yang akhirnya diucapkan menjadi Gamalama hingga sekarang ini. Nama gunung ini kemudian dipakai oleh artis serba bisa Dorce Gamalama, setelah mendapat restu langsung dari Sultan Ternate, Drs. H. Mudafar Syah, sesuai pengakuan ybs di acara TV, Dorce Show.

Perihal sebutan orang Ternate terhadap pulau-pulau sekitarnya. Misalnya pulau Tidore yang oleh orang Tidore sendiri menyebutnya dengan sebutan “Limau Timore” atau “Todore” dan menyebut gunung Tidore dengan sebutan “Kie Matubu” (=gunung yang tertinggi) namun orang Ternate menyebutnya dengan “Limau Duko”. Orang Ternate juga menyebut pulau Moti dengan sebutan “Limau Tuanane” sedangkan gunungnya disebut “Kie Moti”. Demikian juga orang Ternate menyebut pulau Makian dengan sebutan “Mara” sedangkan gunungnya disebut “Kie Besi”.


TAHAP-TAHAP RITUAL INI

Khusus pada pelaksanaan ritual adat kololi kie toma ngolo (melalui jalur laut), selalu diawali tepat di perairan depan keraton kesultanan Ternate, yakni dari ujung jembatan kesultanan (semacam pelabuhan kerajaan jaman dahulu) yang dikenal dengan nama jembatan “Dodoku Ali” atau “Dodoku Mari”. Walaupun kadang-kadang para peserta menaiki perahu dari pelabuhan Dufa-Dufa, tapi tetap harus menuju ke posisi awal ini untuk mulai pelaksanaan ritual keliling pulau ini.

Pembahasan tentang tahap-tahap dalam pelaksanaan ritual kololi kie ini dalam tulisan ini adalah ritual adat kololi kie pada hajatan besar dari kesultanan yang merupakan kegiatan ritual adat terbesar yang dilakukan setiap tahun, yang menjadi salah satu paket dari upacara adat pesta rakyat yang dikenal dengan “Legu Gam”.

Sebelum rombongan Sultan dan para pembesar kerajaan menaiki perahu masing-masing, Imam Agung Kesultanan di Masjid Sultan Ternate yang bergelar “Jou Qalem” atau “Kadhi” yang akan membacakan doa keselamatan di jembatan ini. Usai berdoa, sultan diikuti para pembesar kerajaan serta para pemimpin soa (kampung) yang bergelar “Fanyira” akan menaiki perahu masing-masing.

Perahu yang ditumpangi Sultan, Permaisuri dan para pembesar kerajaan biasanya dihiasi lebih megah dan memiliki ukuran yang lebih besar dan selama perjalanan senantiasab selalu berada paling depan dari semua rombongan yang turut serta. Perahu besar ini dijuluki dengan sebutan “oti Juanga” yang dihiasi ukiran kepala naga di bagian haluan dan ekor naga di buritan. Selain itu dihiasi pula dengan umbul-umbul dan bendera kebesaran kesultanan.

Sementara perahu-perahu berukuran lebih kecil lainnya yang disebut “oti kora-kora ici” dinaiki oleh para kepala soa (Fanyira) yang selalu berdiri di haluan depan dan masyarakat umum lainnya sebagai penumpangnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini diikutsertakan juga perahu modern seperti Speedboat viber untuk meramaikan kegiatan ini.

Kegiatan ritual adat ini diawali dengan mengitari pusaran kecil di perairan depan keraton kesultanan Ternate, dan biasanya seluruh rombongan armada mengitari perahu yang ditumpangi sang Sultan, Permaisurinya dan para pembesar kesultanan lalu disertai pembacaan beberapa doa khusus, masing-masing :
1). Khusus pada putaran pertama dibacakan doa “Asmih”, lalu
2). Pada putaran yang ke-2 dibacakan doa “Taiyyibi”, sedangkan
3). Pada putaran ke-3 dibacakan doa “Abdul Qadir Djaelani”.

Pada kegiatan ritual adat kololi kie kategori hajatan kesultanan yang dilakukan secara besar-besaran (seperti yang terlihat dalam gambar-gambar ini), pembacaan doa-doa ini biasanya dilakukan oleh salah satu dari lima orang imam besar mesjid kesultanan. Pembacaan doa dilakukan di depan tempat duduk sang Sultan (Jou Kolano) dan Permaisuri (Jou ma Boki) yang sudah disiapkan di atas geladak salah satu perahu / kapal motor yang mereka tumpangi saat itu. Tempat duduk Sultan dan Permaisuri selalu dibungkusi dengan kain warna putih.

Untuk meramaikan suasana upacara ritual ini, sejak dahulu tiap perahu dilengkapi dengan berbagai alat musik, seperti tifa, gong, dan fiol (sejenis alat musik gesek) yang terus-menerus dikumandangkan untuk mengiringi sepanjang perjalanan rombongan armada Kololi Kie ini hingga selesai atau istirahat di Ake Rica.

Dalam perjalanan mengelilingi pulau ini, rombongan perahu akan berhenti di beberapa tempat untuk melakukan tabur bunga dan memanjatkan doa. Tempat persinggahan yang agak lama dan biasanya peserta rombongan turun ke darat adalah di Ake Rica ini. Ritual adat ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para leluhur kesultanan yaitu; Syai’idinaa Maulana Syekh DjaffarShaddiq sang pembawa agama Islam ke pulau ini.

Perlu digaris bawahi bahwa dalam ritual adat kololi kie di pulau Ternate ini, semua peserta yang ikut dalam pelaksanaan ritual ini akan melewati 4 (empat) sudut utama dari lingkaran pulau Ternate. Istilah untuk keempat sudut ini adalah “Libuku Raha” (libuku=sudut, raha=empat). Dalam ritual ini terdapat terdapat 13 (tiga belas) titik keramat yang wajib diziarahi sepanjang route mengelilingi pulau hingga kembali ke posisi semula. Keempat sudut utama yang disebut Libuku Raha ini adalah :

1). Tabam ma-Dehe
2). Buku Deru-Deru
3). Banding Mari Hisa
4). Foramadiyahi

Sedangkan ke-13 (tiga belas) titik keramat dimaksud tersebut, diantaranya adalah :

1). Kadato ma-Ngara
2). Jere Kubu Lamo
3). Libuku Tabam ma-Dehe
4). Jere Kulaba
5). Sao Madaha (di Sulamadaha)
6). Libuku Buku Deru-Deru
7). Libuku Bandinga Mari Hisa
8). Ruwa Ake Sibu (Ake Rica)
9). Jere toma Foramadiyahi
10). Ngade (gam ma duso)
11). Talangame
12). Benteng Oranye / Malayu Cim
13). Jere toma Sigi Lamo

Setelah tiga kali mengitari pusaran kecil di perairan depan keraton kesultanan, seperti yang penulis uraikan di atas, armada kololi kie ini memulai perjalanan ke arah utara yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Setelah perjalanan sekitar 15 menit atau sekitar 6 km dari depan keraton kesultanan Ternate, rombongan armada kololi kie ini akan melewati “Jere Kubu Lamo” yakni makam keramat salah seorang sufi Ternate yang dahulu pada zamannya dikenal dengan sebutan “Joguru Lamo” (Joguru=Tuan Guru, Lamo=Besar) yang namanya asli tokoh ini sangat dirahasiakan oleh nara sumber yang penulis wawancarai. Pembacaan doa di pos pertama ini dilakukan sambil berlalu tanpa berhenti.

Menurut nara sumber penulis, seorang Joguru Lamo yang dimakamkan di sini dahulunya adalah guru tasawuf terkenal. Lokasi makam ini tepat berada beberapa puluh meter di belakang deretan kuburan di lokasi Taman Makam Pahlawan Banau di kelurahan Sangadji Ternate utara.

Doa-doa yang dibacakan pada tiap-tiap pos tempat keramat adalah doa “Akrim naa” yang disambung dengan lafadz Allahummaj al naa yaa maulaana alaika dzaa kiriin, kemudian dilanjutkan dengan doa “Tolak Bala”.

Sekitar 20 menit melewati jere Kubu Lamo ke arah utara, rombongan armada kololi kie tiba pada pos keramat berikut, yaitu “Libuku Tabam ma-Dehe”. Tempat ini oleh orang Ternate secara ritual adalah merupakan salah satu sudut pulau karena posisinya seperti sebuah tanjung.

Sepanjang perjalanan mengelilingi pulau, selain pada pos-pos keramat dibacakan doa-doa khusus yang sudah disebutkan di atas (=Asmih, Taiyyibi, Abdul Qadir Djaelani, Tolak Bala), juga dibacakan doa “Alhamdu Tarekat”, doa “Sawwabah”, doa ”Tahlil”, serta “Doa Salamat” dan “Doa Kie”.

Kurang lebih 10 menit dari tempat itu, peserta ritual adat kololi kie melewati perairan yang di pantainya terdapat bentangan bebatuan bekas lelehan lava gunung berapi Gamalama yang sudah membatu, yang disebut “Batu Angus” atau “Mari Hoku” oleh orang Ternate. Sekitar 500 meter dari tempat ini adalah rombongan melewati pos keramat yang ke empat, yakni “Jere Kulaba”.

Jere Kulaba adalah makam keramat salah satu dari beberapa orang sufi Ternate yang terkenal di masanya dengan peran utamanya adalah memperkokoh tegaknya syariat Islam di Ternate pada pada sekitar tahun 1705. Menurut keterangan dari salah satu nara sumber penulis Abdul Kadir Mailudu atau sering disapa Tete Baa (sudah almarhum), yang keterangannya diperoleh penulis beberapa tahun lalu, terungkap bahwa nama pemilik makam dengan batu nisan tertinggi di Jere Kulaba ini adalah seorang ahli tasawuf Ternate yang hidup sekitar akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18 Masehi, yang bernama; “Syekh Abdul ibnur-Rachman" yang bernama asli Ternate adalah; "Dumade”.

Tidak semua orang di sini tahu nama makam keramat yang sangat sering diziarahi penduduk Ternate ini. Semua penduduk Ternate hanya tahu makam keramat ini dengan sebutan Jere Kulaba saja. Sengaja penulis tuliskan dan publikasikan nama yang sangat dirahasiakan oleh orang tua-tua ini dengan tujuan agar generasi muda Ternate juga mengetahuinya.

Makam ini sangat terkenal di seantero pulau Ternate dan pulau sekitarnya. Makam keramat ini memiliki batu nisan tertinggi di pulau Ternate, yakni kurang lebih hampir 1,7 meter atau setinggi tubuh orang dewasa. Orang banyak sering menyebutnya Jere Kulaba karena lokasinya berada tepat di belakang desa Kulaba di pulau Ternate.

Kira-kira sekitar 20 hingga 30 menit meninggalkan tempat itu rombongan perahu ini melewati salah satu tempat keramat di desa sulamadaha yakni “Sao Madaha”. Tempat yang dianggap keramat ini berada di dalam sebuah teluk kecil di ujung desa ini.

Nun jauh di atas di lereng pegunungan gunung Gamalama terdapat sebuah bukit yang disebut dengan “Buku Deru-Deru”. Bukit ini oleh orang Ternate secara ritual juga dianggap sebagai salah satu sudut pulau dari empat sudut (Libuku Raha) yang ada di pulau ini. Sambil melewat tempat ini juga dilakukan pembacaan doa khusus oleh salah satu Imam yang turut menumpangi perahu Sultan berada.

Sekitar 20 menit dari tempat ini rombongan tiba di perairan desa Bandinga. Tempat ini juga dianggap oleh masyarakat Ternate merupakan sudut pulau yang ketiga yang dikenal “Libuku Bandinga Mari Hisa”. (mari=batu, hisa=pagar). Libuku Bandinga Mari Hisa ini merupakan salah sudut pulau yang dianggap keramat dimana pulau Ternate dibagi dua dengan patokan posisi awal dari depan Keraton kesultanan Ternate. Artinya rombongan upacara ritual kololi kie ini sudah melewati separuh lingkaran keliling pulau Ternate (50 %).

Pada masing-masing tempat-tempat yang disebutkan ini juga dilakukan pembacaan doa-doa khusus, tapi tidak berhenti, yakni dibacakan doa sambil berlalu.

Selain berhenti di beberapa tempat sambil memanjatkan doa-doa khusus, Sultan dan rombongan armada kololi kie ini juga akan turun ke darat di desa Ruwa setelah sekitar 20 menit melewati Libuku Bandinga Mari Hisa.

Segera setelah seluruh armada merapat ke tepian pantai, Sang Sultan dan Permaisuri disambut dengan melakukan upacara “Joko Kaha” (joko=injak, kaha=tanah), yaitu upacara penyambutan yang dilakukan oleh masyarakat adat sekitar desa Rua dan Monge yang sudah sejak dari tadi berjejer di tepian pantai “Ake Rica” yang ada diantara dua desa itu. Dahulu nama ake rica ini dikenal dengan sebutan “Ake Sibu”.

Sebagian masyarakat menuju ke sebuah kolam sumber air kecil yang berada di seberang jalan raya yang membentang sepanjang pantai Ake Rica ini. Kolam kecil dengan sumber air yang tak pernah habis ini diyakini dan dipercaya sebagai tempat mandinya para bidadari di jaman dahulu ketika masa kedatangan Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddiq, sang pembawa agama Islam ke pulau ini. Di tempat ini sebagian masyarakat mengambil air dari sumber air yang keluar dari celah bukit yang tumpah langsung ke kolam, ini, atau sebagian dari mereka sekedar mencuci dan membasuh muka.

Setelah perahu-perahu merapat di tepi pantai, sang Sultan dan permaisuri akan turun untuk mencuci kaki dan menginjakkan kakinya pada segenggam rumput Fartago yang sudah disiapkan di atas piring kecil.

Rombongan lalu disambut secara adat oleh para tetua desa dan disuguhi berbagai hidangan makanan adat yg lezat, seperti nasi kuning, ayam bakar, serta ikan bakar. Upacara penyambutan rombongan ini diiringi oleh alunan berbagai alat musik pukul dan gesek tradisional. Suguhan ini menggambarkan pengakuan masyarakat Ternate terhadap kebesaran sang Sultan dan kerajaannya.

Setelah menikmati hidangan yang ada, Sultan dan Permaisuri beserta seluruh rombongan upacara ritual ini melanjutkan pelayaran mengelilingi Gunung Gamalama dan pulau Ternate. Selama perjalanan, peserta ritual adat kololi kie, rombongan armada ini selalu memperoleh sambutan meriah dari masyarakat yang menyaksikan iring-ringan perahu dari tepi pantai sambil melambai-lambaikan tangannya kepada rombongan sang Sultan yang melewati kampungnya.

Tak hanya itu, sepanjang perjalanan, jika cuaca baik, banyak pemandangan indah laut Ternate yang tenang bias dinikmati, indahnya deretan pulau-pulau kecil di sekitar Ternate, serta keanggunan sosok gunung Gamalama tak akan mudah dilupakan oleh mereka yang mengikuti pelayaran sakral ini. Banyak peserta perjalanan dalam acara ritual ini mengabadikan setiap moment dengan camera dan handycam yang dimilikinya masing-masing.

Sekali lagi dijelaskan, bahwa selama melalukan perjalanan mengelilingi pulau ini, iring-iringan perahu tiap "Soa" (kampung) dilengkapi dengan alat musik Tifa, Gong dan Fiol (alat musik gesek), suasana adat dan tradisional sangat terasa dalam perjalanan ini.

Selepas dari tempat Ake Rica ini, rombongan armada melanjutkan perjalanan yang kurang lebih sudah mencapai 50 % dari lingkarang keliling pulau Ternate. Kira-kira sekitar 25 menit, rombongan melewati pemukiman Foramadiyahi yang terletak jauh di atas lereng gunung Gamalama. Di tempat ini terdapat makam Sultan Babullah ibn Khairun Djamilu sang legendaris pengusir penjajah dari bumi Ternate. Dari kejauhan di laut, rombongan ini melakukan pembacaan doa-doa khusus untuk makam ini.

Selanjutnya beberapa saat setelah meninggalkan tempat itu, rombongan melewati sebuah danau laguna yang berada di pantai selatan bibir pulau ini. Danau laguna ini oleh orang Ternate disebut “Danau Ngade”. Rombongan juga melakukan pembacaan doa-doa khusus ketika melewati tempat ini tanpa berhenti atau singgah.

Kira-kira 15 menit setelah melewati danau Ngade ini, arah rombongan sekarang sudah mengarah ke timur laut yakni kira-kira sudah 75 % menyelesaikan perjalanan ini. Saat ketika melewati daerah pesisir pantai Talangame (sekarang kelurahan Bastiong), juga dilakukan pembacan doa-doa khusus.

Sepuluh menit dari pesisir pantai Talangame, rombongan mulai memasuki pesisir kota Ternate, dan arah perjalanan rombongan sudah menghadap ke utara. Perjalanan keliling pulau ini sudah mencapai 90 %. Setelah melewati mesjid raya Ternate Al-Munawar, dibacakan pula doa khusus ketika sedang melewati kawasan Malayu Cim (Benteng Oranye dan sekitarnya). Rombongan armada melewati perairan di pusat kota Ternate.

Perjalanan ritual adat kololi kie ini tinggal kira-kira 15 menit lagi. Sekitar satu kilometer menjelang tempat pemberhentian di pelabuhan Dokoku Ali (tempat memulainya perjalanan ini) dari laut dibacakan doa khusus untuk beberapa makam para Sultan Ternate yang berada di daratan tepatnya di dalam kompleks mesjid kesultanan, makam-makam disebut oleh orang Ternate dengan “Jere Sigi Lamo” (Makam raja di Mesjid Sultan).

Perjalanan ritual adat selama kurang lebih empat jam ini kemudian berakhir dan kembali ke Jembatan Dodoku Ali, tempat dimana perjalanan ritual ini dimulai di pagi hari.

CATATAN AKHIR PENULIS

Dalam kurun waktu sekitar 6 tahun terakhir ini, ritual adat kololi kie ini dilaksanakan dalam rangkaian acara tahunan, yaitu pada Festival Legu Gam Moloku Kie Raha, yang dilaksanakan setiap bulan April menjelang ulang tahun Sultan Ternate (Sultan Haji Mudaffar Sjah II). Dalam festival ini, selain dapat mengikuti pelayaran ritual adat kololi kie, wisatawan juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian, karnaval budaya, pameran kerajinan, serta berbagai perlombaan tradisional khas Maluku Utara.

Untuk menuju tempat pelaksanaan tradisi ritual adat kololi kie ini di kota Ternate, para wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara dapat menempuh perjalanan udara baik dari Ambon, Manado, Makassar, Sorong maupun langsung dari Jakarta menuju ke bandara Sultan Babullah di pulau Ternate. Selain melalui jalur udara, para wisatawan juga dapat memanfaatkan fasilitas pelayaran kapal-kapal Pelni dari berbagai pelabuhan di Nusantara yang merapat di Pelabuhan Laut Achmad Yani Ternate.

Selain itu, terdapat tiga pelabuhan lain di kota Ternate yang melayani pendaratan kapal-kapal sedang, yaitu Pelabuhan Fery, Pelabuhan Dufa-Dufa untuk kawasan utara serta Pelabuhan Bastiong untuk kawasan selatan. Dari bandara Sultan Babullah maupun dari pelabuhan laut Achmad Yani Ternate, atau dari ketiga pelabuhan sedang tersebut, para wisatawan dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi untuk sampai ke jembatan Dodoku Ali yang berada tepat di halaman alun-alun Keraton Kesultanan Ternate, yang menjadi lokasi permulaan atau tempat start kegiatan tradisi ritual adat kololi kie ini.

Dari gambaran pelaksanaan tradisi kegiatan kololi kie yang penulis gambarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi ini adalah sebuah kebiasaan masyarakat yang bersifat ritualistis karena pelaksanaannya tidak sekedar mengitari pulau ini, tapi harus dipandu dan dipimpin oleh orang yang mengetahui seluk beluk ritual ini. Kegiatan ritual kololi kie ini bukan sekedar aktivitas seremonial belaka, melainkan banyak makna yang tersirat dan tersurat yang mungkin bisa kita petik. Mungkin pula tradisi ritual seperti ini ada juga di tempat-tempat lain di nusantara ini, tapi dengan nuansa dan sebutan yang mungkin berbeda pula.

Apapun yang dikatakan orang, apapun yang anda komentari setelah membaca tulisan ini, namun pada kenyataannya tradisi ritual adat ini masih tetap bertahan di pulau ini hingga hari ini. Persoalannya, sejauh manakah tradisi ini bisa tetap bertahan dikala derasnya hempasan arus modernisasi yang melanda seluruh pelosok bumi ? Wallahu wa’lam…..!

Semoga tradisi khas Ternate ini tetap lestari. Harapan penulis, semoga event tahunan ini turut mewarnai promosi dan upaya mengangkat nilai jual pariwisata budaya Ternate ke daerah-daerah lain di Indonesia maupun ke manca Negara.
"...Save Ternate Heritage..."



Kapita Arab dan Kapita China

Sekilas Tentang “Kapita Arab” dan “Kapita Cina” Dalam Sejarah Ternate

~ Narasi oleh : Busranto Latif Doa ~

Dipastikan bahwa istilah LETNAN ARAB atau setingkat lebih tinggi yakni KAPTEN ARAB dan juga KAPTEN CINA pernah ada di dalam sejarah Kesultanan Ternate (Maluku Utara). Istilah atau sebutan “KAPTEN” ini berasal dari akar kata bahasa Portugis yakni kata “Capitão”, dan atau dari bahasa Spanyol “Capitán”. Saat Belanda datang ke Ternate, istilah ini disesuaikan dengan bahasa mereka, yakni “Kapitein”. Lalu kemudian orang2 Maluku Utara pada jaman itu mengadopsi istilah jabatan orang Eropa ini dengan istilah “KAPITA” dan dimasukan ke dalam jabatan2 pada struktur kesultanan Ternate.

Habib LetnanKapita Arab adalah salah satunya, selain Kapita Cina. Kedua istilah ini mungkin hanya lahir dalam sejarah Ternate (Maluku Utara). Sebutan Kapten Arab yang kita bahas ini  dalam bahasa Ternate disebut “Kapita Arab”, demikian pula dengan Kapten Cina disebut dengan “Kapita Cina”. Selain dua Kapita ini juga ada banyak jabatan Kapita untuk komunitas lokal lainnya. Banyak sekali jabatan “Kapita” ini di wilayah kesultanan Ternate yang disandang berdasarkan jumlah klan yg ada dalam struktur masyarakat tradisional di kesultanan Ternate. Belum diketahui dengan pasti sejak kapan istilah “Kapita Arab” dan “Kapita Cina” ini mulai digunakan dalam struktur sosial di kesultanan Ternate, karena belum banyak data sumber yang menjelaskan tentang hal tersebut. Ini membutuhkan penelitian tersendiri.

Pasar Ternate (@...Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kita ketahui bahwa, dalam struktur masyarakat tradisional di kesultanan Ternate tercatat terdiri dari 41 kelompok kekerabatan klan/marga yang disebut "Soa". (Fraassen menyebut jumlah Soa ada 43). Mereka terdiri dari seluruh elemen masyarakat tradisional yang ada, termasuk pendatang Melayu lainnya yakni; Suku Jawa, Bugis-Makassar. Selain itu di dalam keragaman masyarakat Ternate juga terdapat beberapa klan/marga yang non-melayu, yakni keturunan orang2 Cina dan Arab yang jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda) mereka ini sudah lebih dahulu eksisi atau ada di Ternate, dan sudah menjadi bagian dari masyarakat tradisional di kerajaan Ternate.

Kampung Cina Ternate Tahun 1920Berdasarkan sumber2 sejarah, dapat kita rekonstruksikan bahwa pergaulan sosial kedua pendatang non-Melayu ini (Cina dan Arab) agak berbeda. Orang2-orang keturunan Cina Ternate misalnya, jarang terjadi asimilasi sosiologis dengan penduduk pribumi selain dari urusan atau kegiatan perdagangan. Mereka punya kawasan pemukiman tersendiri di pusat kota Ternate sebagai kota perdagangan. Lain halnya dengan orang2 keturunan Arab Ternate, yang nampaknya asimilasi social dan budaya dengan penduduk pribumi lebih tampak.

Hal ini dapat dimungkinkan karena antara penduduk pribumi Ternate dengan para komunitas Hadrahim (keturunan Arab) terdapat kesamaan aqidah (Islam), penduduk pribumi Ternate yang nota bene juga telah lama memeluk agama Islam adalah faktor yang menjadi perekat antara klan/marga keturunan Arab dengan penduduk pribumi Ternate. Walaupun demikian kedua komunitas Ternate non-Melayu ini masih tetap mempertahankan kemurnian genealogisnya dengan meminimalisir perkawinan campuran komunitas mereka dengan penduduk lokal. Walaupun hal demikian perah terjadi di beberapa generasi, namun sangat jarang. Walaupun demikian, sangat jarang dan nyaris tidak tercatat dalam sejarah, terjadi pertikaian atau konflik horizontal antara penduduk pribumi Ternate dengan masing2 dari kedua klan/marga penduduk Ternate non-Melayu ini. Ini yang mesti kita pertahankan sampai kapanpun di negeri pulau yang bernama Ternate yang kita cintai ini.

Hela Kereta, 1890 - CopyKembali kepada soal “KAPITA ARAB” dan “KAPITA CINA”. ~ @ Bahwa dari ke-41 (atau 43) jumlah Soa yang ada dalam struktur masyarakat tradisional Ternate yang mana klan Melayu seperti Jawa, misalnya, mereka mendapat kedudukan yang boleh dikatakan setara dengan klan2 yang asli Ternate, yakni meteja juga menjadi salah satu Soa. Sedangkan keturunan Cina dan Arab tidak menjadi salah satu Soa di Ternate. Eksistensi mereka ini dilihat dari sisi lain. Ada peran-peran tertentu yang tidak dapat dilakoni oleh penduduk lokal Ternate atau Soa2 yg ada namun hanya dapat dilakukan oleh kedua komunitas Ternate ini. Oleh karena itu eksistensi mereka sangat dibutuhkan oleh pihak kesultanan. Dapat dikatakan bahawa peran central dari komunitas Cina Ternate waktu itu adalah dalam bidang perniagaan dan permodalan (kapitalis lokal), sedangkan peran central dari komunitas Arab Ternate selain juga dalam bidang perniagaan, juga dalam bidang pembinaan kerohanian Islam (dakwah).

Sebelum tahun 1859, pemimpin komunitas Cina dan Arab ini mendapat kehormatan di kesultanan sebagai kelompot elite dan memiliki perwakilan (pemimpin) dalam struktur kesultanan dengan pangkat KAPITA CINA dan KAPITA ARAB. Dengan struktur dan fungsi seperti ini, dapat diperkirakan bahwa pada masing masing dari kedua komunitas elite ini, masing2 terdapat pemimpin spiritualnya secara internal komunitas, dan juga pemimpin perwakilan dalam pemerintahan kesultanan. Yang dimaksud kedua ini adalah Kapita Cina Dan Kapita Arab. Fungsi mereka adalah sebagai penyambung antara komunitas mereka dengan istana (kadato).


Kapita Cina, Ternate, Tahun 1870Namun setelah C. Bosscher menjadi Residen Ternate ke-11 pada tahun 1856,dan dan tiga tahun kemudian yakni tahun 1859, pemerintah Belanda di Ternate membuat aturan (semacam undang-undang) yakni Peraturan No.20, yang dalam pasal 2, berisi arahan untuk kepala untuk komunitas keturunan Arab, Bugis-Makassar dan komunitas Melayu lainnya di Ternate, mereka dianggap sama dengan warga Muslim Ternate dalam status hokum Belanda. Para kepala dari kelompok ini memegang pangkat tituler “Kapitein” di tentara sipil, yang tugasnya selain ke pihak istana (kadato) juga harus melayani di tentara sipil dan tugas jaga. Dengan tugas ini, maka pihak Belanda menganggap diri mereka (Kapita Arab dan kapita Cina) lebih unggul dari kapita2 Ternate lainnya yang ada di kampung2. Yang hanya subjek langsung dari Sultan. Dalam hal berpakaian, Kapita Cina dan kapita Arab berbeda dgn kapita dari klan lokal, mereka tetap menggunakan busana khas Cina dan Arab, tidak seperti kapita2 dari komunitas lokal yang menggunakan Lastar berwarna hitam yang ditaruh melingkar di kepala.

Satu hal lai yang harus diketahui bahwa, dalam struktur pemerintahan kesultanan Ternate, jabatan Kapita dikategorikan dalam 2 kategori, yakni kapita level atas dan kapita level bawah. Kapita level atas hanya terdiri dari Kapita Laut (Panglima Armada Laut Kesultanan), dan Kapita Kie (Panglima Keamanan Darat di Wilayah Ibukota Kesultananan), sedangkan yang dimaksud dengan kapita level bawah adalah kapita2 selain dua kapita level atas tersebut termasuk kapita2 yang kita bahas ini.

Tercatat dalam sejarah, untuk Kapita Arab Ternate, menurut Iis Nurcan, seorang Dosen IAIN Ambon yang kini sedang menjalani studi Islam di Universitas Leiden Belanda dan melakukan riset di University of Groningen, melakukan kajian dn pengumpulan data tentang komunitas Arab di Maluku termasuk para Habib dan keluarganya, menyebutkan bahwa Letnan Arab (Kapita Arab) pertama di Ternate adalah Habib Muchsin bin Muhammad Albaar (masa jabatan 1890-1904), Letnan Arab yang ke-2 adalah Habib Abdullah bin Salim Alhaddar dengan masa jabatan 1904-1922, dan Letnan Arab yang ke-3 (terakhir) adalah Habib Abubakar bin Salim Alhaddar yang menjabat dari tahun 1922-masa Jepang. Habib Abdullah dan Habib Abubakar kemungkinan dua bersaudara.

Kapita dari kalangan penduduk lokal di TernateBerdasarkan data2 sejarah ini, maka bila kesultanan Ternate dalam rangka melestarikan budaya dan ingin menjalin kembali silaturrahmi yang terputus antara pihak kesultanan dengan komunitas keturunan Arab Ternate dalam bingkai melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari budaya Nasional, maka bagi saya pribadi, jabatan Kapita Arab harus ditunjuk atau diambil dari keturunan dari Habib Abdullah dan atau Habib Abubakab bin Salim Alhaddar ini. Persoalannya, apakah pihak keluarga keturunan masih mau melibatkan diri dalam rangka melestarikan budaya dan dalam rangka menjalin kembali tali silaturrahmi yang sempat terputus ini, dalam kondisi kesultanan Ternate yang nampak sudah kehilangan arah dalam satu dasa warsa terakhir ini ? Ini yang menjadi kendala menurut saya.



Sedangkan untuk jabatan KAPITA CINA, setahu saya hingga saat ini dijabat oleh : Chritopher Harliem, yang biasa disapa Ko Hui (keluarga pemilik bioskop benteng Ternate). Bila ingin mengatahui banyak tentang sejarah komunitas Cina di Ternate, silahkan baca Skripsi dari Sdri. Irza Arnyta Djaafar (Almarhum Ibu Ita, kakak kelas saya pada saat masih mahasiswa di program studi Sejarah waktu kuliah dulu).

Akhir kata, hikmah yang dapat kita petik dari paparan ini, adalah, bahwa kita semua orang Ternate adalah bersaudara, siapapun dia, keturunan Cina,urunan Arab atau keturunan penduduk asli local. Leluhur kita semua sudah menjalin ikatan persaudaraan sejak dahulu, kita generasi penerus ini harus tetap memelihara hubungan emosional itu. “MARIMOI NGONE FUTURU”. Itulah salah satu dari apa yang disebut oleh orang2 pintar dengan istilah “Local Wisdom” (Kearifan Lokal). Tks…   (Cibubur, 12 April 2014)

Tradisi Taji Besi Ternate Tidore

“DABUS”, Ritual Kebal Senjata Tajam di Ternate

Oleh : Busranto Abdullatif Doa

Seperti halnya di dua tempat lain di Nusantara yakni; Aceh dan Banten, Ternate dan sekitarnya juga adalah tempat tumbuh dan berkembangnya seni Debus di wilayah timur Nusantara yang ada sejak ratusan tahun lalu. Debus di Ternate disebut Dabus atau Badabus. Ritual ini biasanya dipertunjukkan atau dilakukan dalam suatu hajatan yang berupa upacara ritual untuk menebus kaul seseorang yang pernah mengucapkan hajat akan mempertunjukkan Dabus, apabila ia selamat dari sesuatu musibah atau penyakit berat yang dideritanya.
Atraksi Dabus di Ternate

Pertunjukan Dabus ini terdapat hampir di seluruh jazirah Maluku Utara, termasuk Ternate dan Tidore. Pelaksanaan ritual Dabus biasanya dipimpin oleh seorang guru agama ahli kebatinan, yang biasanya disebut “Joguru” yang dalam pelaksanaannya Dabus ia harus disapa; “Syekh”. Ia dibantu oleh para muridnya/santri yang berjumlah sekitar lima hingga sepuluh orang.

Alat khusus untuk pertunjukkan Dabus terdiri dari dua buah batang besi bulat sebesar ibu jari yang ujungnya diasah runcing dan tajam dan di bagian ujung lainnya dibentuk dengan kayu bulat sebesar kepalan tangan dan dihiasi dengan untaian rantai besi kecil. Alat Dabus di Ternate tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya lihat di Banten. Materi ritual lainnya adalah seperangkat alat untuk tempat bakar kemenyan, arang dan semacam Anglo beserta beberapa gumpalan kemenyan yang akan dibakar selama pelaksanaan ritual ini. Sedangkan peralatan pendukung lainnya adalah rebana dan cikir serta kitab zikir yang dipakai untuk mengiringi pelaksanaan ritual.

Pertunjukkan Dabus di Ternate biasanya dilakukan pada malam hari dan lokasi yang dipilih sebagian besar di ruang utama rumah tinggal atau di teras rumah yang agak lebar. Pertunjukkan itu dimulai pada ba’da Isya. Setelah segala sesuatu dipersiapkan oleh pelaksana hajatan. Pelaksana hajat duduk berhadapan dengan sang Syekh lalu didoakan, selanjutnya dipersilakan menyaksikan pelaksanaan ritual tersebut.

Ritual dimulai dengan pembacaan lirik-lirik dan disertai zikir dan semacam mantra-mantra rahasia dalam bahasa Ternate campur Arab. Syekh dengan mengenakan jubah kebesaran (biasanya berwarna putih) duduk menghadap kiblat, dan dikelilingi oleh murid-muridnya serta orang-orang yang ingin berpartisipasi dalam pertunjukkan tersebut dan mengikuti setiap pembacaan doa dan zikir dari sang Syekh. Ritual ini berlangsung sekitar sepuluh menit.

Setelah itu, kemenyan dibakar dan bila asap telah mengepul, alat Dabus yang terbuat dari besi dan berantai tersebut diasapi. Biasanya alat Dabus ini terdiri dari beberapa pasang. (3 sampai 5 pasang). Setelah proses ini selesai, sang Syekh mencoba menikam besi tajam tersebut ke dada dan pahanya untuk memastikan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai rencana dan alat tersebut sudah bisa dipergunakan peserta untuk memulai pertunjukkan Dabus.

Sang Syekh memberikan isyarat kepada orang pertama yang memulai pertunjukkan untuk maju sambil jalan jongkok ke dapat sang Syekh untuk bersalaman dan menerima alat Dabus. Pada saat itu irama rebana dan sair-sair serta nyanyian zikir mulai didendangkan oleh peserta lain yang sudah memegang rebana dan kitab zikir.

Setelah menerima ia terus duduk di depan Syekh dan diasapi sekedar saja oleh Syekh kemudian ia menggoyangkan kepala dan badannya ke kiri dan ke kanan beberapa kali lalu membasuh alat Dabus tersebut dari pundak kanan ke atas kepala dan turun ke pundak kiri. Ia lalu mengangkat alat besi tajam tersebut yang sudah dipegang masing-masing di tangan kiri dan kanan dan mencoba menghujamkan ke dadanya bertubi-tubi beberapa kali. Kemudian ia berdiri dan mulai menari-nari sambil menghujamkan besi ke dada bahkan juga ke pahanya. Masing-masing peserta tidak dibatasi waktu, ada yang Cuma lima menit, ada pula yang sampai setengah jam tanpa henti. Kadang kala darah menetes tapi hanya sedikit pada saat pertama memulai pertunjukkan, setelah itu tidak ada darah lagi.

Kadang pula ada peserta ritual yang menanggalkan baju/kaos dan bertelanjang dada. Sebagian besar peserta yang melaksanakan ini rata-rata antara lima hingga sepuluh menit. Pertunjukan diganti lagi oleh beberapa orang lain secara bersamaan. Setiap peserta bisa mengulangi lagi beberapa kali. Dalam pelaksanaannya, biasanya pada menit kedua atau ketiga masih dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan, tapi setelah itu semakin keras dan sebagian besar perserta melakukannya sambil berjingkrak-jingkrak bahkan sambil melompat.

Semua para peserta melakukan ritual ini sambil menari sesuai iringan rebana yang terus didendangkan. Menurut mereka, besi tajam yang ditusukkan ke dada atau kulit kita tidak sakit sama sekali melainkan terasa gatal sehingga memacu peserta untuk berjingkrak dan melompat-lompat, bahkan ingin mengulangi lagi setelah turun istirahat beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada orang lain.

Biasanya gerakan tusukan mengikuti irama rebana yang kadang lambat kadang cepat. Seluruh peserta yang melaksanakan ritual Dabus ini dalam keadaan sadar. Namun kadang ada juga sering terjadi kesurupan, dan biasanya peserta tersebut langsung dihentikan oleh sang Syekh, tapi hal ini jarang terjadi.

Sebelum pergantian atau selesai tahapan pertunjukan, setiap orang yang hendak istirahat harus mengembalikan alat Dabus ke sang Syekh dengan cara seperti menerima alat Dabus tadi. Setelah diserahkan ke sang Syekh dan diletakkan di atas sebuah bantal di depan sang Syekh sebelum diambil oleh orang yang menggantikannya.

Peserta yang melakukan ritual ini biasanya tiga sampai lima orang sekaligus, sehingga ruangan yang digunkan untuk ritual ini harus mendukung. Luka-luka kecil akibat Dabus ini kemudian dibacakan mantra oleh sang Syekh dan dibasuh ke lukanya, lalu mereka bersalaman, setelah itu barulah pesertanya berdiri untuk istirahat atau berhenti.

Sementara itu pertunjukkan Dabus terus berlangsung yang dilakukan oleh yang lainnya secara bergilir. Siapa pun bisa menjadi peserta dalam hajatan ini. Ritual ini menjadi tontonan warga di sekitar hingga selesai pada tengah malam. Tidak satu pun peserta Dabus yang terinfeksi sebagai akibat dari pertunjukkan Dabus ini. Anehnya, karena keesokan harinya luka kecil bekas tusukan besi tajam sudah mengering dan hanya meninggalkan bekas kecil yang tidak seberapa.

Dari gambaran pelaksanaan Dabus ini, dapat disimpulkan bahwa Dabus adalah pertunjukkan rakyat yang bersifat ritual karena pelaksanaannya harus dipandu dan dipimpin oleh orang yang mengetahui seluk beluk ritual ini, yaitu seorang “Syekh” dan para “Syaman”. 


Setahu saya di Indonesia, ritual Dabus atau Debus seperti ini, hanya terdapat di tiga tempat, yaitu; Nanggro Aceh Darussalam, Banten dan Ternate. Mungkin pula ada juga di tempat-tempat lain, tapi dengan nuansa dan sebutan yang berbeda pula. Wallahu wa’lam. 
(Artikel ini hanya ada di : http://www.busranto.blogspot.com/)

Islam Nusantara Menurut Habib Abdullah Baharun Yaman


Islam Nusantara Menurut Habib Abdullah Baharun Yaman



Islampers.com - Jatim
Islam Nusantara Menurut Perspektif Prof. Dr. Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun (Rektor Univ. Al-Ahqaff, Hadhramaut, Republik Yaman)

Oleh Abdul Aziz Jazuli
Pada hari Senin 17 Agustus 2015, Alhamdulillah guru kita yang mulia Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun akhirnya sampai di pondok Mambaus Sholihin, Suci, Gresik. Walaupun pertemuan dengan beliau tidak terlalu lama akan tetapi hal itu cukup menghibur; karena sudah lama tidak berjumpa dengan beliau.
Dan Alhamdulillah di dalam pertemuan yang sebentar itu kita dapat menimba ilmu dari beliau. Mulai dari birrul masyayikh (pada pertemuan pertama) ; karena beliau melihat murid-murid serta alumnus Universitas Al-Ahqoff berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau, walaupun rumah secara rata-rata tergolong jauh dari Gresik, tempat beliau beristirahat.
Kemudian pertemuan untuk keduanya dilaksanakan pada keesokan harinya, Selasa 18 Agustus 2015, sekitar jam 9.30 WIB.
Dan pada pertemuan itu, saya sempat menyodorkan pertanyaan kepada beliau. Dan kurang lebih yang saya tanyakan adalah demikian:
يا سيدي، ما وجهة نظركم عن إسلام نوسانتارا، هل فيه تفريق للأمة الإسلامية أو توحيدها ؟؟
"Ya habib, apa pandangan jenengan tentang Islam Nusantara, apakah di dalamnya terdapat perpecahan umat Islam atau sebaliknya ??"
Beliau tentu saja sudah mendengar istilah ini, karena memang sebelumnya ada teman-teman yang bertanya kepada beliau dan tentunya beliau itu tidak telat Info; karena beliau memiliki perhatian khusus serta wawasan luas tentang Islam di Indonesia. Segala pemikiran-pemikiran di Indonesia, beliau mengetahuinya.
Sebenarnya beliau menjawab pertanyaan saya dengan panjang lebar. Tapi sayang, tidak semuanya saya ingat. Dan yang akan saya tulis, hanya yang tersisa di memori saya, dan mungkin pengutipannya dengan makna saja (tanpa merubah pendangan global beliau). Dan tak lupa akan saya cantumkan jawaban beliau terkait masalah ini. Yang saya ambil dari chat beliau dengan Habib Abdurrahman al-Musawa, alumnus Univ. Al-Ahqaaf, dan akan saya tuangkan dalam tulisan yang ke dua.
Jawaban beliau kurang lebih demian –kutipan ini tidak secara harfiyah tapi semakna dengan yang beliau sampaikan-:
هذه الفكرة سمعت عنها قبل فترة، وأنّها تختلف باختلاف المفسرين. منهم من يفسرّها بأنّها الإسلام الذي جاء به الأولياء التسعة، وهو الذي يتناسب مع عادات أهل جاوة وأعرافهم، لا توجد فيه قسوة ولا جفاء ولا غلظة. بل فيه لين ورفق يمكن أن يتأقلموا معهم ويرفقوا بهم حتّى أسلموا تحت أيديهم عموما في فترة وجيزة متمسكين بمذهب الشافعي وعقيدة الأشعرية وطريقة الصوفية. لا يوجد فيه إكراه ولا تكفير ولا شدة ولا غلظة، بل بعكس ذلك كله. وقد تلَّقَوه هكذا سلفا عن سلف خلفا عن خلف. وهو الذي قام به العلماء الإندونسيون المتأخرون كأمثال الشيخ هاشم أشعري والشيخ بشري شنشوري والشيخ خليل بنكالان.
"Pemikiran ini sudah saya dengar sebelumnya, dan pemikiran ini berbeda dengan berbedanya sudut pandang yang digunakan. Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan islam yang dibawa oleh wali singo, yaitu yang sesuai dengan adat-istiadat orang Jawa (maksudnya Indonesia secara umum; karena penggunaan lafal jawa digunakan untuk jawa dan sekitarnya/Nusantara). Tidak ada kekerasan, dan sikap kaku. Justru mereka menggunakan metode dakwah dengan kelembutan dan toleransi. Sehingga dimungkinkan untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan adat sekitar. Sehingga, dalam masa yang pendek, penduduk Jawa (Indonesia) mudah untuk menerimanya dan pada akhirnya mayoritas penduduk Indonesia masuk Islam tanpa ada keterpaksaan sedikitpun. Madzhab fiqh yang mereka anut adalah madzhab Syafii dan akidah Asyariyyah, serta thoriqoh Shufiyyah. Tak ada nilai-nilai kekerasan sedikitpun, justru sebaliknya. Seperti inilah yang dikembangkan dari generasi ke generasi. Diantara beberapa ulama Nusantara yang mengembangkan pemikiran seperti ini ialah KH. Hasyim Asy'ari, KH. Bisyri Syamsuri , KH. Kholil Bangkalan dan lain sebagainya".
فإذا فسّر إسلام نوسنتارا بهذا التفسير، فهذا قُوَيْس لا إشكال فيه، ونحن موافقون مع هذه الفكرة؛ لأنّ هذا هو الواقع الذي وجدناه مسطورا في كتب سير السلف الصالحين. ومعلوم أنّ دعوة أهل حضموت أنظف الدعوات، لا فيها قصد جمع المال ولا فيها قصد الاستعمار ولا فيها تأثير العوائد الفاسدة ولا فيها إكراه الآخرين للدخول إلى الإسلام. لو نظرنا إلى دعوة الهولانديين، فقد استعمروا إندونسيا في مدة 350 سنة، ولكن ماذا تركوا ؟؟ ما تركوا شيئا، لا اللغة تركوا ولا اللباس ولا المدارس ولا النهوض إلى التقدّم، بل بعكس ذلك كله؛ فإنّهم أخذوا كل شيء ثروات وأموال البلاد وأضف إلى ذلك الكتب والمخطوطات التي كتبها أعيان أندونسيا وعلماؤها ما تركوها إلّا نزرا يسيرا، فهم لا يزوّجون ولا يتزّوجون مع أهل البلد، وإذا تزوّج أحدهم مع أهل البلد طردوه من قبيلتهم، ويرفضونه رفضا باتا. ومع ذلك فإنّ هولنديين لا يتأقلمون مع أهل جاوة بل استخفوا بهم، ويعتبرون كالبهائم التي تقاد لقضاء حوائجهم اليومية ولا يحترمونهم كالإنسان وشاهد ذلك هو الواقع. وأمّا علماء حضرموت بعكس ذلك تماما، فإنّهم تزوّجوا مع أهل البلد ويزوّجون فيما بينهم. فإنّي وجدت أهلي –من قبيلة جمال الليل- كم وكم وجدت أبناءهم سودا؛ لأنّ جدّهم يدعو ويتزوّج بأفريقية عندما كانوا يعملون الدعوة بها، ووجدتهم بيض اللون؛ لأنّهم دعوا وتزوّجوا بالأتراك، وكذلك وجدت فيهم ممن وجوههم لم تكن فيها ملامح عربية أصلا؛ لأنّهم كانوا يدعون ويتزوّجون مع أهل جاوة أو أهل الصين. لم كان هذا ؟؟ لأنّهم استطاعوا أن يتأقلموا معهم ويدخلون في أعرافهم ولغاتهم ويندرجون في عوائدهم، ولا يكلفون أنفسهم أن تتأثروا بدعوات أهل حضرموت، بل أهل حضرموت تتأثّر بعوائد وأعرافهم. لم كان ذلك ؟؟ لتكون الدعوة أقرب إلى القبول والاستجابة. وكانت بعض اللغات التي يتكلم بها أهل حضرموت اندرجت في لغات أهل جاوة، وينشرون الآداب والأخلاق وكيفية احترام الآخرين. فهذا ميزة من مزايا دعوات أهل حضرموت، وخاصة الأولياء التسعة فإنّ أصولهم حضارم لا الهنود ولا الصين.
"Jika Islam Nusantara ditafsirkan dengan penafsiran tersebut, maka oke tak ada yang dipermasalahkan. Kita setuju dengan pemikiran tersebut; karena seperti inilah yang kita temui di buku-buku sejarah ulama-ulama salaf sholih. Dan perlu diketahui bahwa dakwah tokoh-tokoh Hadramaut adalah dakwah yang bersih. Tidak ada niatan untuk mengumpulkan harta, apalagi menginginkan kekuasaan dan menjajah, apalagi mempengaruhi mereka dengan menyebarkan adat-adat yang tidak beres, tidak memaksa yang lain untuk masuk Islam.
Coba kita lihat, dakwah (baca : ekspansi) Belanda. Mereka telah menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Apa yang mereka tinggalkan ?? mereka tak meninggalkan apapun, tidak meninggalkan bahasa, pakaian, sekolah-sekolah ataupun memberikan kemajuan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, mereka mengambil segalanya dari Indonesia, dari kekayaan dan harta Indonesia. Ditambah lagi dengan merampas buku-buku serta manuskrip-manuskrip yang telah ditulis oleh tokoh-tokoh Indonesia. Mereka tidak mau kawin atau mengawinkan dengan penduduk pribumi. Jika salah satu dari mereka ada yang kawin dengan penduduk pribumi mereka tidak segan-segan mengusir dari kalangan mereka dan menolak mereka dengan keras. Tidak mungkin bagi mereka untuk menerima dan berbaur dengan kehidupan orang Indonesia, tapi mereka hanya menganggap mereka hanya sebagai binatang yang ditunggangi untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, tidak memandang mereka sebagai manusia. Dan bukti nyatanya ialah realita.
Jika kalangan tokoh Hadromaut, berbalik 180 derajat; karena mereka menikah dan menikahkan dengan pribumi. Saya sendiri (al-habib) menemui keluarganya (dari kabilah Jamalullail), berapa banyak dari mereka yang berkulit hitam; karena kakek-kakek mereka berdakwah dan menikah dengan penduduk Afrika. Dan aku temukan yang lainnya berkulit putih; karena mereka dakwah dan menikah dengan orang-orang Turki. Begitu pula sebagian yang lain wajahnya sama sekali tidak mirip dengan orang arab; karena mereka berdakwah dan menikah dengan orang Indonesia. Kenapa bisa demikian ?? karena mereka bisa berbias dengan orang Indonesia dan bisa memasuki adat-istidat mereka, mereka tidak memaksakan diri mereka untuk memasukkan adat-istiadat Hadramaut ke dalam lingkup Nusantara. Justru sebaliknya, mereka lah yang berbaur dengan adat istiadat Nusantara. Kenapa demikian ?? karena dengan itulah lebih bisa diterima. Terkadang sebagian bahasa Indonesia terpengaruh dengan bahasa Arab. Mereka menyebarkan adab, dan sopan santun dan bagaimana menghormati orang lain. dan inilah salah satu karakteristik dari dakwah-dakwah tokoh Hadramaut di Indonesia. Terlebih dengan wali songo, yang notabene leluhur mereka adalah dari asli Hadramaut bukan dari India ataupun Cina".
لكن إذا قام السياسيون بتفسير إسلام نوسانتارا، فشيء آخر، وله حالة أخرى. فإنّهم حاولوا تغيير مفهوم معناه للوصول إلى أغراضهم. خذ من ذلك مثالا: فإنّ إسلام نوسانتارا قام بالتسامح مع الأديان الأخرى فيجوز من المسلم أن يتزوج من البوذية ويجوز للبوذي أن يتزوّج بالمسلمة، وعلى ذلك فقس. فإن كان قولهم كالذي ضربنا مثاله، فنحن قطعا لا نوافقه؛ لأنّهم جعلوا إسلام نوسانتارا حصنا يلجؤون إليه لتحقيق أغراضهم الفاسدة والحصول على مرامهم الكاسدة وحائطًا يتسترون به عن عيوبهم. لأنّ منهم من يقوم مقام هذا الأخير. فإذا اعترض علينا هذه الطائفة الأخيرة، فنقول لهم -كما في قصة أحد العلماء (لو لم تخن الذاكرة أنّ صاحب القصة هو الجاحظ) في معرض الردّ على اليهودي أو النصاري في عدم قبول المسلمين لدين اليهود والمسيحي (ثمّ ذكر قصّته)-: إن كان تفسيرك لإسلام نوسانتارا كما فسّره الأولياء التسعة والشيخ هاشم أشعري وغيرهم من علماء إندونسيا عقيدةً وفقهًا وطريقةً فنحن قبلناه، وإن لم يكن كما فسّروه فنحن قطع بردّ تفسيركم لإسلام نوسانتارا.
"Namun jika para politisi memolitisir penafsiran Islam Nusantara maka itu adalah hal lain, dan memiliki keadaan yang lain. karena mereka berusaha merubah makna Islam Nusantara dari makna aslinya. Ambillah sebagian contoh seperti perkataan mereka: Islam Nusantara mengembangkan sikap toleransi beragama dengan agama-agama lain, yang dengan demikian boleh seorang muslim menikah dengan yang beragama budha, atau seorang wanita muslimah boleh menikah dengan pengikut agama budha (atas dasar Islam Nusantara), dan hal ini bisa dikiaskan dengan yang lainnya.
Jika mereka berpendapat dengan pendapat yang seperti ini atau mendekatinya, maka secara pasti kita menolaknya; karena mereka menjadikan Islam Nusantara sebagai tameng yang memberi perlindungan kepada pemikiran-pemikiran nyleneh mereka dan mendapat semua tujuan-tujuan mereka. Dan menjadikannya sebagai tembok yang menjadi tempat persembunyian mereka di belakangnya. Karena memang ada orang yang seperti ini. Jika mereka menyangkal kepada kita terkait penafsiran diatas (yang pertama versi ulama ahlussunnah). Maka kita katakan kepada mereka –seperti salah satu kisah ulama, kalau gak salah namanya Al-Jahidh ketika berduskusi dengan orang yahudi atau nashroni ketika melihat orang-orang muslim tidak menerima ajaran Yahudi dan Nashroni-: jika penafsiranmu atas Islam Nusantara sebagaimana penafsiran wali songo dan KH Hasyim Asyari atau yang lainnya dari kalangan ulama Indonesia masa itu baik dari segi akidah, fiqh ataupun thoriqoh maka kami pasti menerimanya. Jika tidak maka sama sekali kami menolak mentah-mentah penafsiranmu.
فلهذا يا أولادي، لا تغتروا بالمسميات، بل انظر إلى حقائقها فإن كان موافقا للشرع فاقبلوه وإلّا فردّوه.
والحاصل أنّ في إسلام نوسانتارا إيجابيات وسلبيات، والشيء الإيجابي هو لنعلم ونعرف أنّ الإسلام في إندونسيا هو الإسلام الذي ينبغي أن يقلده المسلمون في بقية البلدان لما فيه من لطف الأخلاق وجمال الأسلوب وتطبيق حقيقة الإسلام، ولكن لا نحجر الباقين أنّ فيهم كذلك إلّا أنّ في إندونسيا زيادة على غيرها، ولغيرها زيادة على إندونسيا. فنحن نعتقد أنّ في حضرموت عوائد حسنة لم تكن في إندونسيا، وفيها كذلك عوائد حسنة لم تكن في حضرموت، فقس على سائر البلدان الإسلامية. فكلّ أحد منهم يأخذ الأشياء الحسنة من الآخرين بعضهم البعض؛ لأنّ المسلمون بعضهم البعض كالبنيان يشدّ بعضهم البعض. فينبغي لكل المسلمين أن يقوم بهذا، ولا يسعى في تفريق الأمة الإسلامية. وكنت قبل خمس سنوات من الآن أنوي أن أعمل دورة علمية حول الإسلام في إندونسيا مع العلماء في ندونسيا، وهذه الفكرة غير بعيدة عن فكرة إسلام نوسانتارا إن لم تكن عينها وينبغي للإندونسيين أن ينشروا هذه الدعوة للمسلمين في البلدان، ولكن شاءت الأقدار أن تفعل ما تريد.
والشيء السلبي ممن قبل هذه الفكرة، هو أنّ منهم من قام بالموازنة بين إسلام نوسانتارا وإسلام أفريقيا وإسلام أمريكا والإسلام في البلدان الأخرى، ثمّ يسعى في الاستكبار على الآخرين فهذا خطأ؛ لأنّه كما قلنا: المسلمون يشدّ بعضهم بعضا، فإذا أخطأ أحدهم ينبغي أن يصوّبه آخرون. ولا يجوز أن يستخفّ بهم لا سيّما يستكبر عليهم ويدّعي أنّه هو الوحيد صاحب الحق الذي لا يشاركه غيره ويدّعي أنّ الآخرين هم أصحاب الأخطاء فينبغي أن يقلّدهم في كل الأمور حتى فيما تتعلق بالعوائد والأعراف. فهذا خطأ قطعا؛ فإنّ هذا من الاستكبار والتكبر الذي نهانا الله تعالى عنه.
"Oleh karenanya wahai anak-anakku, jangan terkecoh dengan nama-nama, tapi lihatlah hakikat dan isinya. Jika sesuai dengan ajaran syariat maka terimalah, kalo tidak maka tolaklah.
Inti dari permasalahan ini bahwa Islam Nusantara memiliki nilai positif dan negatif.
Hal yang positif ialah agar kita ketahui bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang selayaknya harus diikuti dan ditiru oleh para muslim di Negara-negara lain; karena di dalamnya mengandung akhlak-akhlak yang lemah lembut, ungkapan yang indah, dan terdapat penerapan syariah yang sempurna. Tetapi kita tidak menutup-nutupi bahwa muslimin di Negara-negara lainnya juga demikian. Hanya saja di Indonesia memiliki nilai plus, begitu pula dengan yang lain, mereka juga memiliki nilai lebih. Kita yakin dan tau bahwa di Hadromaut terdapat adat-istiadat yang positif yang tidak ada di Indonesia. Begitu pula dengan sebaliknya, dan hal ini bisa dikiaskan kepada Negara-negara lain.
Maka sebaiknya, setiap muslim mengambil hal-hal yang positif dari Negara muslim yang lain; karena muslim satu dengan yang lainnya seperti bangungan kokoh yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Jangan sampai memecah persatuan Umat Islam di dunia. Ini adalah nilai positifnya.
Lima tahun sebelumnya saya memiliki proyek untuk membuat dauroh dengan kajian Islam di Indonesia dengan para kyai dan ulama di Indonesia, dan seharusnya mereka sebarkan dakwah ini ke negara-negara lainnya. Tapi kehendak-kehandak Allah memiliki kehendak lain.
Sementara sisi negatifnya ialah diantara mereka ada yang membanding-bandingkan bahwa Islam Nusantara itu lebih baik dari Islam Afrika, Amerika, dan Islam di Negara-negara lainnya. Kemudian berusaha unjuk gigi dengan merasa paling benar, dan ini merupakan sikap yang pasti salahnya; karena sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa para muslimun menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Jika salah satu dari mereka ada yang bersikap salah, benarin dong !!. Jangan sampai hanya menyalah-nyalahkan apalagi dengan merasa paling benar dan mengaku-ngaku hanya dirinyalah yang memiliki tongkat kebenaran, bahkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat, dan inilah yang termasuk dalam kategori sombong yang telah Allah swt larang".
وقد يحكمون على شيء في البلاد العربية، والإسلامُ براءٌ منه، كالتكفير وقتل المسلمين بغير سبب مقبول ومعتبر عند الشرع الذي طالما وجدناه في الأخبار كأمثال (داعش، ISIS)، فهذا لا ينسب إلى شيء من الإسلام، فكيف يحكمون أنّ هذا إسلام العرب أو ما يسمّون بإسلام الشرق الأوسط؛ و(الشرق الأوسط) صار اصطلاحا مشهورا فيما بين المسلمين؛ فإنّ هذا الاصطلاح في الأصل استعمله الغربيون من أهل أوربا فإنّ الجزيرة العربية جغرافيًا تقع في الشرق الأوسط بالنسبة لمن في الأوربا الغربية لا لغيرهم كإندونسيا مثلا، لكن صار هذا مصطلاحا شائعا فيما بين الناس.
في النهاية أنّ هذا الاصطلاح –أي إسلام نوسانتارا- يجوز أن يستخدم ولكن على التفسير الذي ذكرنا، سوى ما فسّره السياسيون؛ فإنّ هذا الثاني مرفوض قطعا وإنّها تفسير بالهوى والأغراض. فكل شيء لا سيّما مثل هذه الأسماء نعرضه على كتاب الله وسنة رسول الله، فإن وجدناه موافقا لما فيهما فبها ونعمت، وإلّا فاحكم ببطلانه، ولا تغترّوا بالمسميات وانظروا إلى الحقائق.
"Terkadang mereka memvonis atas sesuatu yang terjadi di Negara-negara Arab dan menganggapnya sebagai bagian dari Islam, padahal sama sekali tidak termasuk dalam Islam sedikitpun, seperti fenomena takfir, membunuh para muslimin tanpa ada sebab yang diterima dan diakui oleh syariat yang sering kita temui di medsos, seperti ISIS.
Hal yang seperti ini sama sekali tidak bisa dimasukkan ke dalam ranah Islam. Bagaimana mereka bisa menilai bahwa ini adalah Islam versi Arab atau Timur tengah. Bahkan timur tengah sendiri sudah menjadi istilah yang popular di kalangan muslimin; karena istilah ini asal mulanya digunakan oleh Eropa Barat; karena letak goegrafi semenanjung Arab berada di timur tengah Eropa Barat, bukan untuk yang lainnya seperti Indonesia. Tapi sudah menjadi istilah yang popular mau bagaimana lagi ?.
Ujung-ujungnya, istilah ini (Islam Nusantara) bisa digunakan, tapi dengan penafsiran pertama yang telah disebutkan. Bukan dengan penafsiran yang dipelintir oleh politisi; karena yang demikian ini ditolak mentah-mentah dan merupakan penafsiran orang-orang berkepentingan.
Maka, semua hal terutama hal-hal yang di atas, harus kita nilai dengan pandangan syariat. Jika sesuai dengan isi kitab dan sunnah rasul maka betapa indahnya hal itu, jika tidak tinggal kita buang aja, jangan sampai kita tertipu dengan yang beginian, dan lihatlah inti dan isi dari hal-hal yang baru tersebut".
***
Inilah yang dapat saya tuliskan setelah memeras otak sampai habis isinya; karena waktu itu tidak bawa buku catatan atau merekam pengajian beliau dan sudah lewat dua hari dari muhadhoroh itu. Tetapi sebagai mana dalam pepatah arab yang berbunyi: "maa laa yudrok kulluh laa yutrok kulluh (suatu hal yang tidak bisa diambil semuanya, tidak bisa ditinggalkan semuanya)" yakni sebagian harus ada yang diambil. Terlebih ketika beliau dawuh waktu itu setelah muhadhoroh: "kamu jangan bergantung pada rekaman-rekaman seperti ini, tapi ukirlah di dalam hati-hati kalian. Karena yang demikian itu pengaruhnya lebih besar dari yang lain dan lebih langgeng". Semoga kita semua termasuk golongan yang beliau sebutkan. Amiin.
Yang saya sebutkan adalah versi saya pada hari selasa, 18 Agustus 2015, 3 Dzul Qo'dah 1436 H.
***
Abdul Aziz Jazuli, Lc (Mahasiswa Dirosah 'Ulya, Universitas Al-Ahqaff Yaman).
Purwodadi, 5 Dzulqo'dah 1436 H.



Sumber islampers.com

Al-Ghazali tentang akhlak

#CatatanJumat

Al-Ghazali tentang akhlak

Minggu-minggu ini, saya amat menikmati Ngaji Ihya' yang saya ampu setiap minggu, baik melalui online atau Kopdar di mana saya bertemu dengan audiens secara langsung di sejumlah daerah.

Saya menikmati, karena pembahasan kitab Ihya' yang sedang saya baca saat ini sedang mengulas tema penting -- soal akhlak. Saya sangat menikmati ulasan filsafat etika dalam gagasan Imam Ghazali ini.

Pembahasan Imam Ghazali mengenai tema ini sangat mendalam, sistematis, dengan pendekatan yang dengan jelas menampakkan keakraban imam besar ini dengan filsafat etika yang digeluti oleh para filsuf Muslim besar seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Abu Bakr al-Razi, dll.

Saya mulai dengan definisi Imam Ghazali tentang akhlak. Beliau men-takrif-kannya sebagai: kondisi kejiwaan yang permanen (dalam teks Arab-nya: hai'atun li al-nafsi rasikhatun), dan keadaan ini memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan tertentu dengan mudah, alamiah, tanpa dipaksa, atau dibuat-buat (artifisial).

Seseorang yang berakhlak dermawan atau pelit, misalnya, kedua sifat itu menetap pada orang tersebut, sehingga tindakan kedermawanan atau kepelitan keluar dari dirinya, dengan mudah, tanpa dipaksa-paksa. Akhlak membuat suatu tindakan nampak alamiah, normal, tanpa ada kesan keterpaksaan di dalamnya.

Jika seseorang menjadi dermawan mendadak karena kondisi tertentu (misalnya karena menjelang Pilpres atau Pileg), tetapi setelah itu kemudian ia menjadi pelit kembali, maka tindakan kedermawanan pada  orang tersebut tidaklah terbit dari kondisi kejiwaan yang permanen. Kedermawanan pada orang itu, denna demikian, tak bisa disebut sebagai akhlak.

Dengan kata lain, sesuatu disebut sebagai akhlak manakala ia telah melekat pada struktur kejiwaan seseorang, sehingga menyerupai sebuah tabiat atau kebiasaan. Cak Nur pernah menyebut akhlak sebagai “second nature”, tabiat kedua yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang lama.

Dalam pandangan al-Ghazali, akhlak bukanlah sesuatu yang secara alamiah ada pada seseorang. Akhlak adalah sesuatu yang bisa diperoleh seseorang melalui sebuah latihan -- atau "riyadlah" dalam bahasa Imam Ghazali.

Salah satu gagasan penting Imam Ghazali adalah kemungkinan akhlak untuk berubah (taghyir al-akhlaq), melalui sebuah latihan yang sabar dan konsisten. Ia serupa dengan sejumlah kecakapan pada seseorang yang bisa diperoleh melalui sebuah latihan pelan-pelan, misalnya kecakapan bermain bola.

Kecakapan main bola bisa “ditanamkan” pada seseorang yang memang memiliki bakat bermain bola, melalui sebuah “training”. Latihan ini akan membentuk apa yang oleh para filsuf etika Muslim seperti Ibn Miskawayh (w. 1030 M) sebagai “malakah”.

Malakah adalah kecakapan (skill) yang melekat sehingga menyerupai suatu “property”, hak milik (ada keserupaan akar kata antara istilah malakah dan “milk” yang artinya hak milik).

Dalam pandangan al-Ghazali, fondasi akhlak adalah dua daya atau "quwwah", force, yang ada pada manusia: yaitu daya syahwah dan daya ghadlab.

Syahwah adalah daya yang secara alamiah ada pada semua manusia. Melalui daya ini seseorang memiliki hasrat akan sesuatu; misalnya hasrat untuk mengonsumsi makanan atau minuman.

Sementara ghadlab (marah) adalah daya yang melahirkan pada diri manusia apa yang oleh Imam Ghazali disebut sebagai "hamiyyah", atau semangat, passion, motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu.

Teman saya, Habib Anis Soleh Baashin mempunyai observasi yang menarik tentang dua daya ini. Menurut dia, karakter syahwah adalah “menyerap sesuatu ke dalam diri manusia”. Sementara karakter ghadlab (marah) adalah “mengeluarkan sesuatu ke luar diri manusia.”

Pada dirinya sendiri, syahwat dan marah bukanlah hal yang jelek, negatif. Menurut al-Ghazali, baik syahwat dan gadlab adalah daya-daya yang secara niscaya ada pada semua manusia, dan diciptakan oleh Tuhan karena tujuan tertentu (khuliqat li fa'idatin).

Akhlak yang baik muncul pada diri seseorang manakala ia berhasil mengendalikan dua daya itu agar tak terjatuh pada dua titik ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah apa yang oleh al-Ghazali disebut dengan "ifrath", atau ekstrim kanan, berlebihan — esktrim surplus.

Ekstrim yang kedua adalah "tafrith", yaitu ekstrim kiri, berlebihan karena defisit, kekurangan. Seseorang menjadi berakhlak jika ia bisa mengendalikan dengan AKAL-nya kedua daya tadi -- syahwat dan marah.

Inti teori akhlak ala Imam Ghazali adalah ide tentang tengah-tengah ini (al-wasath, al-i'tidal, al-tawazun). Akhlak menjadi hilang manakala terjadi ketiadaan keseimbangan. Dengan kata lain, setiap kecenderungan ekstrim jelas berlawanan dengan, sebut saja, “ke-etika-an”, ke-akhlak-an.

Syahwat yang "njomplang" ke kanan (ifrath), akan melahirkan sikap-sikap destruktif seperti israf, berlebihan dalam mengonsumsi sesuatu. Sementara syahwat yang terlalu condong ke kiri (tafrith) akan melahirkan sikap "taqtir", thrift/frugality, medhit (bahasa Jawa: pelit), dsb.

Seseorang disebut berakhlak jika ia berhasil menyeimbangkan diri di antara dua titik ekstrim tersebut. Sikap yang muncul dari keseimbangan itu adalah apa yang oleh Imam Ghazali disebut dengan "sakha'" atau kedermawanan.

Begitu juga dalam hubungannya dengan daya ghadlab atau marah. Daya ini akan melahirkan akhlak yang baik jika bisa diseimbangkan, tidak "doyong" terlalu berlebihan ke kanan atau ke kiri.

Daya ghadlab yang terlalu doyong ke kanan (=marah yang berlebihan) akan melahirkan tindakan-tindakan agresif, menyerang, yang destruktif, merusak -- apa yang oleh al-Ghazali disebut dengan "tahawwur".

Sebaliknya, jika daya ghadlab ini doyong berlebihan ke kiri (mengalami kondisi kekurangan, defisit, yang berlebihan), yang muncul dari sana adalah sikap "jubnun", ketakutan, kepengecutan, kekhawatiran yang eksesif terhadap sesuatu.

Sebagaimana sikap agresif bisa destruktif, sikap takut yang berlebihan juga bisa merusak mental seseorang. Kondisi akhlak yang sehat tercipta manakala ada titik keseimbangan antara dua sikap ekstrem itu.

Inti teori akhlak dalam pandangan al-Ghazali, dengan demikian, adalah kemampun melakukan pengendalian diri, self-restrain; tidak membiarkan diri terserap ke dalam luapan jiwa yang berkobrar-kobar pada suatu saat. Syahwat dan gadlab bisa meluap seperti banjir bandang yang susah dikontrol. Saat “banjir” ini terjadi, biasanya akhlak menjauh dari seseorang.

Pandangan al-Ghazali tentang akhlak ini memang berseberangan dengan karakter zaman kita di mana semangat yang menonjol adalah “menenggak semaksimal mungkin kenikamatan sesaat”. Kapitalisme modern menciptakan “kelimpahan material” karena mesin-mesin modern yang mampu memproduksi barang secara massal.

Dalam situasi yang serba bekelimpahan seperti ini, godaan untuk “meluapkan syahwat konsumsi”, juga godaan untuk menikmati “the joy of consumption”, kelezatan mengonsumsi segala hal, sangatlah besar.

Teori akhlak al-Ghazali bisa kita pandang sebagai kritik atas kecenderungan-kecenderungan yang berlebihan yang menjadi karakter zaman kita sekarang.***

Keterangan gambar: Salah satu ajaran akhlak Plato, filsuf besar Yunani, adalah "moderation" yang dalam bahasa Imam Ghazali adalah i'tidal.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10161135718970533&id=762930532

Baju Koko Versi Betawi

Setelah melipir kekampung2 baru tahu bahwa Es Doger adalah singkatan dari "Es Dorong Gerobak", hari ini juga baru tahu kalau istilah Copet berasal dari "Comot Dompet".

Tiba-tiba berasa fakir ilmu dan polos sekali.. 😐


Ternyata baju koko juga bukan berasal dari bahasa china, *"siang ko"* [bhs betawi]  (tirai yg menutup pengantin perempuan dikepala) siangan dikit = ntar ntaran. Siang ko terbuka (bukakan jalan) ko = buka, *ko ko*, terbuka (baju tanpa kancing)  jd koko itu bhs betawi native, kearifan lokal  jgn diaku2 olh org lain, ude bener baju koko, bukan baju takwa, baju takwa itu rasa malu 😁🙏🏻🙏🏻 baju koko bukan yg dimaksud baju kokoh dan encim

*#Edisi nusantara*
*#ko* = buka (native betawi dahulu jaman goa)

Islam NUsantara Punya Apa ?

Islam nusantara punya KIAI
islam nusantara punya SANTRI
islam nusantara punya langgar/musolla
Islam nusantara punya BEDUG & KENTONGAN
islam nusantara punya PADASAN
islam nusantara punya KITAB KUNING
islam nusantara punya SARUNG & PICIS
islam nusantara punya QUR'ANan
islam nusantara punya YASINAN
islam nusantara punya TAKBIRAN
islam nusantara punya SOLAWATAN
islam nusantara punya HAUL
islam nusantara punya MANAQIBAN
islam nusantara punya SUNGKEMAN
islam nusantara punya UNGGAH UNGGUH
islam nusantara TAHLILAN
islam nusantara punya BUBUR MERAH PUTIH
islam nusantara punya BERKAT
islam nusantara punya INGKUNG
islam nusantara punya TUMPENGan
islam nusantara punya PENGAJIAN UMUM

SEMUA ITU HANYA ISLAM NUSANTARA YANG PUNYA.... DAN YANG LAIN GAK BAKAL PUNYA SEMUA ITU....

Makna 7 Hari versi Bijak

DINO IKU ONO PITU

Maksudte PITU ugo bisa kanggo  PITUTUR, PITUDUH, PITULUNGAN, PITUNGKAS,
monggo sareng² disimak nggih...

*1. SENEN :*
tegese ojo boSEN marang uNEN² (unen² Wong Jowo sing kang bisa kanggo tuntunan marang kauripan)

*2. SELOSO :*
SElakno NGAMAL MARANG SOPO² (wong ngamal iku ora pilih², ora pandang wonge sopo)

*3. REBO :*
KEREPO SINAU BEN ORA BODHO (mumpung isih urip ditlateni anggone luru ilmu, mergo luru ilmu iku penting, kanggo sangune urip)

*4. KEMIS :* 
LUWIH BECIK MINGKEM TINIMBANG LAMIS (ojo podho ngumbar omongan kelawan wong liyo. Luwih² ngrasani tonggo)

*5. JUM'AT :*
JUMBUHNO LELAKON KARO KEKAREPAN / NIAT  (yen nduwe niat/cita² kudu usaha/ikhtiar lan ndungo supoyo kekarepanne biso kaleksanan)

*6. SABTU :*
INSAP -PO MARANG BARANG SING WIS KEWETU (sak bejo bejane wong nglali, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodho)

*7. MINGGU :*
MINGGIRNO BARANG SING ALA, LAKONONO BARANG SING RAHAYU (sing apik ayo podho dilakoni)

Mugi mugi migunani

9 Filosofi

☕SECANGKIR KOPI ala SANTRI NDESO.

*SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG SERING DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA* 

*1. URIP IKU URUP*

" Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik ".

*2. MEMAYU HAYUNING BAWANA*

" Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak ".

*3. SURO DIRO JOYO JAYADININGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI*

" Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar "

*4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO*

" Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan "

*5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN*

" Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu "

*6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN*

" Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja "

*7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN*

" Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi "

*8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRA MUNDAK CILAKA*

" Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka "

*9. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO*

" Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti ".
Di atas langit masih ada langit.