Ustads Radikal vs Ustads NU

KENAPA USTAD RADIKAL LEBIH TERKENAL DARI USTAD NU ??

"Kenapa ustad radikal itu lebih laku daripada ustad NU ?"

Ini pertanyaan besar dari seorang teman melihat tidak adanya jejak ustad NU muda yang terkenal dan digandrungi banyak orang sekarang ini. Yang ada malah banyak dari HTI.

Dan kita coba jawab pertanyaan ini dengan sebuah penggambaran..

Gerak perkotaan yang tumbuh semakin cepat, menciptakan masyarakat yang juga bergerak dengan cepat. Masyarakat urban ini dibentuk oleh situasi dan kondisi kota besar, sehingga mereka punya gaya hidup yang selalu berubah mengikuti trendnya. Semua menjadi serba instan dan mudah didapat.

Perubahan paling jelas terlihat dari perubahan gaya makanan.

Masyarakat kota besar - terutama generasi baby boomer dan milenial - sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk makan dengan makanan nuansa kampung dengan sajian komplit diatas piring.

Mereka sudah terbiasa instan dengan adanya mie dan makanan fastfood seperti burger dan pizza. Pokoknya kalau bisa gak bangkit dari tempat duduknya, itu lebih baik..

Dan situasi ini diperkuat dengan semakin murah dan mudahnya mengakses internet...

Ketika manusia urban ini memasuki fase rohani, hukum yang berlaku bagi mereka juga sama. Mereka cukup buka internet dan melihat siapa ustad yang terkenal disana.

Mereka juga lebih sering googling untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan dalam benak mereka dan mengamini ketika itu datang dari seorang yang dipercaya sebagai "ustad" oleh banyak orang.

"Banyak" menjadi ukuran kebenaran. Yang dilihat kuantitas jamaah, bukan kualitas ceramah..

Tidak ada lagi diskusi bermalam-malam tentang nilai-nilai. Masyarakat urban hanya butuh fatwa halal dan haram sebagai hukum mereka. Tidak perlu bertanya - apalagi menggunakan logika - kenapa ini haram dan kenapa itu halal.

Semua tersedia dalam bentuk kemasan, tinggal buka bungkusnya, panaskan air dan tuangkan, lalu silahkan makan. Persis mie instant..

Dan ustad2 radikal sangat mengerti ini. Dengan kuatnya jaringan dan sumber daya mereka - termasuk keuangan - mereka membangun konten2 ringkas berisi hukum dan fatwa yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaahnya.

Mereka juga berani membeli slot-slot acara di televisi yang mahal, supaya bisa menciptakan "penceramah2" muda dan bisa menguasai teknik berbicara.

Dan acara televisi yang sebenarnya untuk konsumsi kota besar, dikonsumsi pula oleh warga daerah yang sebenarnya "tidak siap makan fastfood", tapi apa daya daripada dibilang ketinggalan jaman..

Bumbu pedasnya ada di "kontroversial".

Ketika kontroversial, maka ia akan semakin dipandang dan dicari. Gak penting ilmu yang dalam, cukup seadanya dan hapal beberapa ayat, lalu berjubah, jadilah ia seorang ustad. Makanya banyak mualaf yang tiba2 menjadi ustad, karena memang diciptakan. Padahal namanya mualaf ia seharusnya harus lebih banyak belajar daripada mengajar..

Inilah yang menciptakan supply dan demand yang besar. Ada penawaran dan ada permintaan. Semua dibentuk oleh pasar. Siapa yang menguasai pasar, dialah yang menguasai pembeli..

Sedangkan NU lebih rumit bagi mereka...

Ibarat makanan, NU ini adalah makanan kampung yang penuh dengan penyajian dan tidak cepat saji. Kalau ditanya "haram" dan "halal", ustad2 NU lebih banyak memberikan opsi supaya orang bisa berfikir dan menentukan pilihannya sendiri.

NU juga - sebagai kelemahan - gagap terhadap teknologi. Ketika ustad2 instan itu sudah menerapkan sistem franchise, orang NU tetap berprinsip "tidak buka cabang". Orang NU lebih senang hadir di acara2 pengajian dan duduk mendengarkan ceramah.

Perbedaan model inilah yang menjadi jurang pemisah yang lebar. Ustad NU kurang mendapat perhatian karena sorot lampu tidak tersedia kepadanya, sedangkan ustad instant lebih hidup ketika ada lampu kamera..


Glek. Mendingan bikin kopi dulu aja..

Konspirasi bisnis dan sains dalam pandemi Covid 19


Bedakan Konspirasi Sains Dan Konspirasi Bisnis Terkait Wabah Dan Vaksin
Bedakan antara konspirasi sains dan konspirasi bisnis terkait wabah dan vaksin. Dua hal ini berbeda, tetapi penganut teori konspirasi mencampur-aduknya dan memukul rata bahwa semua yang terkait wabah dan vaksin itu konspirasi semuanya.

Konspirasi sains yang dituduhkan oleh sebagian orang itu tentu TIDAK benar. Beberapa contoh:
1. Wabah Covid-19 ini buatan.
2. Vaksin itu tidak bermanfaat bahkan berbahaya.
3. Wabah Covid-19 ini tidak berbahaya, jadi tidak perlu social distancing dan physical distancing.
4. Wabah Covid-19 tidak berbahaya, orang kesehatan hanya menakut-nakuti saja.
5. Tenaga medis hanya korban saja, semua ini setingan dan bohongan. Covid-19 benar ada, tapi sebenarnya ringan sepeti flu biasa dan mudah menular.
6. Wabah Covid-19 ini dibawa oleh jin, konspirasi elit global dan terkait dengan kemunculan dajjal. Masjid sengaja dikosongkan, apabila masjid kosong semua nanti dajjal akan muncul.
Semua tuduhan di atas TIDAK BENAR.
Dampak dari tuduhan konsiprasi ini adalah:
1. Masyarakat jadi meremehkan anjuran social distancing dan physical distancing yang dapat mengurangi atau memutus rantai penularan Covid-19.
2. Tidak sedikit yang meremehkan tenaga medis, bahkan memberikan tuduhan bahwa tenaga medis ikut berperan dalam konspirasi ini.
3. Konspirasi membawa-bawa nama Islam, dengan beberapa fakta yang tidak benar, akan menjadi bumerang bagi agama Islam.
Wabah yang disebabkan oleh virus, “hukum asalnya” terjadi secara alami (natural) karena mutasi genetik, rekombinasi, atau proses genetik yang lainnya. Vaksin itu bermanfaat dan sudah terbukti secara mendunia. Wabah Covid-19 jelas berbahaya dan memakan cukup banyak korban di RS dan kita sangat perlu menerapkan social distancing dan physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ini semua terbukti dengan sains dan fakta di lapangan di rumah sakit dan pasien yang kami lihat langsung.
Kalau konspirasi bisnis yang MEMANFAATKAN wabah pandemik ini BISA JADI ADA. Konspirasi bisnis ini ada di semua bagian dan sendi kehidupan. Misalnya konspirasi bisnis beras, konspirasi rokok, konspirasi bisnis usaha ini dan itu yang memang dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
Tuduhan konspirasi terkait wabah Covid-19 kembali muncul oleh orang-orang tertentu. Mereka mendapatkan angin segar dengan adanya wawancara terbaru dengan mantan Menkes Siti Fadilah (saya tetap menghormati keilmuan beliau sebagai akademisi, karena beliau memiliki banyak jasa dalam ilmu pendidikan kedokteran). Tetapi perlu diketahui bahwa mantan Menkes Siti Fadilah lebih menekankan kepada “dugaan konspirasi bisnis” yang MEMANFAATKAN pandemi wabah. BUKAN konspirasi bahaya vaksin dan konspirasi elit global sampai membawa-bawa nama Dajjal.
Mari kita kembali melihat sejarah lama dahulu agar tidak terulang kembali. Ketika beliau menulis buku berjudul, “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung”, buku tersebut dijadikan alasan menolak vaksin dan ada yang menjadikan bukti sebagai konspirasi. Ternyata beliau malah mendukung vaksinasi dan tujuan buku bukan untuk itu (menolak vaksinasi)
Menanggapi hal itu, beliau mengatakan:
Semua anak di Indonesia HARUS diimunisasi. “Ada imunisasi yang wajib, yakni BCG, DPT, campak dan polio. Itu adalah imunisasi wajib yang sebetulnya semua harus diimunisasi dan capaiannya kalau bisa 100 persen anak Indonesia,” kata dia di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu.
Bahkan beliau heran sekali:
“Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi MENGAPA sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi,” katanya.
Buku beliau digunakan sebagai “hujjah” oleh oknum anti-vaksin untuk menyebarkan bahaya dan konspriasi vaksin, mulai dari vaksin bahaya, vaksin tidak dianjurkan, vaksin membuat autis, dan vaksin itu program Dajjal. Ketika tulisan ini kami sebarkan dan kami berikan kepada mereka, mereka tetap tidak terima dan tetap mengkampanyekan anti-vaksin secara total, padahal penulis bukunya sudah menganjurkan program vaksin untuk anak Indonesia.
Dalam buku ini, beliau hanya ingin virus flu burung H5N1 diteliti di Indonesia sehingga Indonesia mandiri. Tetapi pendapat beliau ini tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Kami nukilkan pendapat sahabat kami seorang ahli virus, yaitu dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc, Ph.D:
“Sebagian orang berdalih dengan buku “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung” karya Dr. Siti Fadhilah Supari, SpJP(K) sebagai dalih menolak vaksinasi.
Saya yakin, orang2 tersebut tidak pernah membaca buku tersebut sampai tuntas. Tahun 2009-2010, saya mendapatkan buku tsb melalui perpustakaan kantor dan saya baca sampai akhir. Tidak ada satu pun ajakan menolak vaksinasi dalam buku tsb.
Yg beliau soroti hanyalah, beliau ingin agar2 virus isolat Indonesia, dalam hal ini virus flu burung H5N1, bisa diteliti di Indonesia, tidak perlu sampai dibawa ke luar negeri. Beliau ingin kita mandiri dalam hal riset virus. Beliau menyoroti, mengapa setiap kali terjadi wabah, virus penyebab wabah itu dikirim ke luar negeri? Seolah-olah Indonesia tidak mendapatkan apa2.
Di sinilah yg saya kurang setuju. Ada beberapa alasan:
Pertama, wabah itu kerja bersama antar-negara2 di dunia. Virus dari Indonesia, bisa menyebar ke luar negeri. Sehingga harus bisa diantisipasi oleh negara lain. Jika Indonesia menjadi negara tertutup, lalu bgmn negara lain bisa mengetahui situasi di Indonesia? Virus apa yg muncul di Indonesia, bagaimana karakter virus tsb? Potensi perluasan wabah (pandemik), dst.
Ke dua, kapasitas lab virus di Indonesia harus kita akui masih kalah dibandingkan negara lain. Virus H5N1 masuk level BSL3 karena sangat berbahaya mengancam jiwa (saya belum tau ada berapa lab BSL3 di Indoensia). Demikian jg sequencing kita masih terbatas, dan seterusnya.
Ke tiga, harus dibedakan antara kepentingan sains dan komersial. Untuk kepentingan sains, para ilmuwan itu biasa saling bertukar virus yg dimiliki. Karena mmg tidak mungkin kita sendiri meneliti semua aspek virus tsb.
Selama saya di sini, beberapa kali kita minta virus dari Amerika, Jepang, dsb, itu dikasih gratissssss. Mengapa? Karena sains itu for humanity. Kita meneliti untuk kemaslahatan umat manusia, bukan melulu tujuan komersial.” [Selesai nukilan, sumber: postingan FB M. Saifuddin Hakim]
Wajar pendapat beliau tidak sesuai karena beliau adalah ahli di bidang jantung dan pembuluh darah. Sedangkan pendapat terkait wabah dan vaksin, kita lebih menerima pendapat ahli virus dan ahli vaksin.
Sebenarnya kita juga sangat ingin vaksin H5N1 diproduksi di Indonesia. Akan tetapi, apabila sarana dan prasarana tidak mendukung tentu tidak bisa, apalagi yang namanya wabah perlu segera ditemukan vaksinnya. Demikian juga dengan vaksin Covid-19 ini, kita sangat berharap bisa diteliti di Indonesia tentu dengan dukungan program, sarana dan prasarana dari pemerintah. Perlu diketahui bahwa program vaksin indonesia yang sekarang berjalan ini, vaksinnya diproduksi di dalam negeri oleh PT. BIOFARMA di Bandung, bahkan vaksinnya diekspor ke luar negeri mulai dari negara Asia sampai Arab Timur-Tengah (produksi dan meneliti ini berbeda). Jadi jangan sampai mengatakan program vaksin anak Indonesia itu konspirasi bisnis ya, karena BIOFARMA itu BUMN milik negara yang keuntungannya kembali untuk negara.
Kembali kepada Covid-19 ini, seakan sejarah kembali berulang. Ibu Siti Fadilah diwawancara dalam sebuah acara podcast di youtube baru-baru ini dan hasil wawancara beliau kembali “dimanfaatkan” oleh berbagai oknum untuk mendukung menyebarkan tuduhan konspirasi sains terkait wabah dan vaksin. Misalnya, wabah Covid-19 hanya settingan saja, seperti flu biasa dan tidak berbahaya dan lain-lainnya sebagaimana yang kami sampaikan di atas. Kami sempat mendengarkan wawancara terebut, dan yang kami tangkap adalah:
1. Beliau menekankan KONSPIRASI BISNIS dengan memanfaatkan pandemi wabah.
2. Ketika ditanya apakah wabah covid19 ini adalah buatan (rekayasa), beliau memberi jawaban mengambang yaitu “bisa jadi” dan tidak “mengiyakan”
Kami respon setiap poinnya:
1. Terkait dengan vaksin Covid-19 yang akan jadi wabah dan sudah diperkirakan oleh Bill Gate.
Jawabnya: sampai sekrang vaksinnya belum ditemukan, padahal seluruh dunia sangat butuh. Apabila memang wabah Covid-19 direkayasa lalu dijual vaksinnya, tentu sekarang saat yang tepat mengeluarkan vaksinnya dan dijual mahal. Tapi sampai sekarang belum ada vaksin yang bisa dipakai seluruh dunia (hanya klaim-klaim sepihak dan misinformasi dari portal berita). Mengenai prediksi Bill Gate, bukan hanya dia yang memprediksi, tetapi para ilmuan sebelumnya sudah memprediksi hal ini beradasarkan ilmu dan fakta sains.
2. Selanjutnya, apakah wabah Covid-19 ini virus buatan?
Dalam ilmu epidemiologi, wabah itu umumnya terjadi secara alami akibat mutasi genetik atau mekanisme molekuler yang lainnya. Jadi “hukum asalnya”, wabah itu adalah alami. Apabila ingin mengatakan buatan, dia harus membuktikannya dengan bukti ilmiah berupa jurnal ilmiah resmi yang diakui oleh ilmuan.
Wabah Covid-19 ini bukan buatan (rekayasa). Kami nukilkan tulisan seorang peneliti lengkap dengan jurnal ilmiahnya, yaitu Mila Anasanti:
“Jurnal penelitian tentang genom virus SARS2 secara kuat mengakhiri isu virus ini hasil rekayasa lab:
https://www.nature.com/articles/s41591-020-0820-9
Alasan terkuatnya adanya mutasi pada 2 bagian:
1. Domain pengikat reseptor dari spike protein virus corona SARS2 berevolusi untuk menargetkan ACE2  begitu efektif sehingga hanya bisa terjadi dari hasil seleksi mutasi di alam dan bukan rekayasa genetika.
Spike protein (ibarat kunci) pada SARS2 bahkan 10x lebih kuat mengikat ACE2 sehingga jauh lebih efektif menginvasi sel dibandingkan virus SARS-2003.
https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(20)30129-8/fulltext
Makanya transmisi penularan dari orang ke orang jauh lebih cepat dari SARS-2003.
http://virological.org/t/the-proximal-origin-of-sars-cov-2/398
Ibaratnya kalau virus SARS-2003 adalah maling yang buka gembok ACE2 butuh 10 jam, SARS2 butuh 1 jam saja.
2. Backbone (bagian struktur inti genom) SARS2 sangat berbeda dari coronavirus lainnya (punya kemiripan kurang dari 86% dibanding SARS 2003):
https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(20)30129-8/fulltext
Malah paling mirip dengan virus kelelawar dan trenggiling (tingkat kemiripan genomnya 96%).
Karakter virus RNA sebagaimana virus corona mudah bermutasi di alam, berevolusi terus menerus untuk beradaptasi terhadap sel inangnya agar mampu berpindah menginfeksi organisme berbeda (misal dari hewan ke manusia).
Virus juga bisa ‘mutasi’ secara rekayasa di lab. Tapi jika ilmuwan yang merekayasa, sangat sulit untuk merekayasa genom (rantai RNA) dari virus corona kelelawar agar punya kemampuan mengikat ACE2, karena selama ini virus corona dari kelelawar gak pernah ditemukan bisa menginfeksi manusia dan gak bisa mentarget receptor ACE2.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3372174/
Ibarat anda perlu memodifikasi kunci untuk membuka gembok rumah, tapi anda punyanya kunci sepeda, jelas backbone ‘kunci’nya jauh berbeda.” [Selesai nukilan, sumber: Postingan FB Mila Anasanti]
Bagi kita yang beragama Islam, sejarah wabah yang terjadi pertama kali di muka bumi adalah sebagai hukuman dan azab bagi Bani Israil yang membangkang. Wabah terjadi selanjutnya terus-menerus ke berbagai generasi setelahnya, sampai di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Tentu ini terjadi secara alami sebagaimana proses kejadian alam, dengan izin dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa.
Sebagai tambahan sedikit menjawab tentang tuduhan konspirasi bahwa “Tenaga medis hanya korban saja, semua ini settingan dan bohongan, covid benar ada tapi sebenarnya ringan sepeti flu biasa dan mudah menular”.
Jawabnya: wabah covid19 ini bahaya, sudah banyak korban yang berjatuhan dan meninggal, silahkan main-main ke Rumah sakit atau terjun langsung ke lapangan. Memang manifestasi klinik orang yang terinfeksi Covid-19 ini berbeda-beda tergantung imunitas dan komorbid. Ada yang gejalanya tidak terlalu nampak dan hanya ringan saja, tetapi korban sudah banyak di seluruh dunia. Ini membuktikan wabah Covid-19 ini memang berbahaya dan tidak bisa dianggap remeh.
Demikian semoga bermanfaat
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK (Petugas lab Covid19)
Tulisan ini telah direview oleh: dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. (Doktor ahli virus lulusan Erasmus University Medical Center Rotterdam)
Sebagai tambahan kami sampaikan tulisan kami beberapa bagian sebelumnya:
# WABAH KORONA ADALAH KONSPIRASI? (Part-1)
Beberapa kali kami di lab pemeriksaan covid pakai APD level 3 lengkap, shalat dzuhur lolos, jamak takhir dengan shalat ashar, karena sampel sedang banyak.
Teman-teman tenaga medis yang berada bekerja di ruang isolasi lebih keras lagi kerjanya dengan berbagai unek-unek yang ditumpahkan di sosial media (wajar apabila sudah sampai puncaknya), sebagian besarnya sabar dan hanya mengadu kepada Allah.
Yuk, jangan turunkan semangat mereka dengan tuduhan:
1. Wabah korona ini konspirasi & buatan elit global (kalau sudah pernah belajar RNA, DNA, RT-PCR paham ini bukan virus buatan).
2. Wabah ini tidak bahaya, hanya permainan saja, jadi gak perlu social distancing dan physical distancing.
3. Tenaga medis sengaja menaikkan jumlah pasien agar fee makin naik (faktanya, malah banyak yang gak dibayar karena jadi relawan).
4. Kambing sama pepaya diswab juga hasilnya positif, jadi ini hanya permainan saja.
5. Dll
Untuk tahu fakta yang benar, dapatkan informasi valid dari mereka yang terjun langsung di lapangan dan sumber valid berupa jurnal ilmiah dan penelitian, BUKAN dari mereka yang tidak pernah terjun ke lapangan, tidak pernah pegang pasien, tidak pernah ekstraksi RNA virus di lab dan sumber utama infonya adalah portal berita dan channel youtube saja
Tidak akan bisa nyambung diskusi, antara yang terjun dilapangan VS yang tidak terjun, serta yang sumbernya jurnal ilmiah VS sumber infonya channel youtube saja dan portal berita. Diskusi tidak akan ketemu karena memang beda kelas ilmiahnya.  Jadi lebih baik tidak perlu dilayani, kita fokus edukasi ke masyarakat saja
Terlebih umat Islam,  kita diajarkan agar tabayyun, cara tabayyun paling baik adalah sesekali datang dan terjun ke lapangan dan dalam ilmu hadits, “Shahibul Qishah” (pelaku langsung kisah tersebut) lebih valid haditsnya daripada yang bukan dan hanya menukil.
Demikian catatan ringkas sore ini.
# WABAH CORONA ADALAH KONSPIRASI (Part-2)?
dr. Zakir Naik, walaupun seorang dokter, beliau pun menyerahkannya pada ahlinya, yaitu ahli virologi dan orang di lapangan yang memeriksa virusnya dan merawat pasiennya. Sangat jelas ahli virologi menekankan bahwa wabah covid ini berbahaya, bukan permainan atau konspirasi, jadi tolong jangan disepelekan atau dianggap permainan saja. Beliau jelaskan panjang lebar tentang lockdown secara medis dan secara Islam, sehingga perlu itu sosial distancing dan physical distancing. Ini bukan menakuti-nakuti, tapi fakta di lapangan, di RS dan di lab Covid.
Simak penjelasan panjang lebar dr. Zakir Naik di sini: https://youtu.be/Gl_R3LuDHFY
Nantikan tulisan kami selanjutnya (insyaallah) yaitu: perlu dibedakan  antara konspirasi sains dan konspriasi bisnis. Wabah covid19 ini murni terjadi karena alami dan jadi musibah seluruh dunia (Cina saja kewalahan dan ekonominya terpuruk karena wabah). Konspirasi bisnis yang memanfaatkan wabah itu ada, mulai dari penimbunan masker dll. Sama seperti beras, konspirasi monopoli beras jelas ada.
Tapi kalau konspirasi sains bahwa wabah ini hanya bohongan, virusnya gak ada, penyakitnya gak bahaya, gak perlu social distancing dll, sampai dengan konspirasi wabah dibawa oleh jin, sengaja mengosongkan masjidil haram dan akan muncul dajjal saat masjid kosong, tentu ini TIDAK BENAR.
Dalam ilmu hadits, ada istilahnya hadits “Syadz” yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tsiqah (perawi terpercaya), tapi perawi ini MENYELISIHI/BERTENTANGAN dengan perawi yang lebih tsiqah atau satu perawi tsiqah menyelisihi banyak perawi tsiqah lainnya dalam jumlah banyak. Nah, demikian juga dalam kasus tertentu, anggap saja “Dokter umum” itu tsiqah (terpercaya), lalu pernyataanya MENYELISIHI/BERTENTANGAN dengan “Dokter ahli virus”, tentu pendapat “dokter umum” tidak diterima dan pendapat “Dokter ahli virus” yang dipercaya. Demikian catatan ringkas sore ini.

Islam NUsantara

ISLAM NUSANTARA

Oleh: Bukhari Muslim S.Th.I M.Th.I
Ketua Umum Mahasiswa PIN Pusat

Dalam sebuah forum diskusi di arena muktamar NU di Jombang, 2015 yang lalu. Kiai Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa “Islam Nusantara” itu tarkib idhafi. Karena itu, Islam Nusantara memiliki tiga, kemungkinan makna; Pertama Islam Nusantara bermaka Islam yang dipahami dan dipraktekkan kemudian mengintemalisasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Inilah pengertian Islam Nusantara dengan memperkirakan adanya huruf jar "fi" pada frase Islam Nusantara (Islam fi Nusantara). Kedua dengan memperkirakan huruf jar "ba" di antara kata Islam dan Nusantara, “Islam bi Nusantara” dengan ini, maka Islam Nusantara menunjuk pada konteks geografis, yaitu Islam yang berada di kawasan Nusantara. Ketiga pengertian Islam Nusantara dengan memperkirakan huruf jar "lam" yang mengantarai kata "Islam" dan "Nusantara". Dengan ini, "Islam" tampak sebagai subjek, sementara "Nusantara" adalah objek. Dengan demikian, Islam Nusantara adalah pengejawantahan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Dahulu misalnya, para Wali Songo mendakwahkan ajaran Islam yang ramah dan santun kepada masyarakat Jawa. Nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan yang bercorak  sufistik itulah yang membentuk corak keislaman yang berkembang di tanah air.

Menurut Gus Mus istilah Islam Nusantara bagi mereka yang tidak pernah ngaji akan geger dan kaget tetapi bagi yang pernah ngaji pasti tahu idhafah (penyandaran) mempunyai beberapa makna, dalam arti mengetahui kata Islam yang disandarkan dengan kata Nusantara. Beliau mencontohkan “air gelas” apakah maknanya airnya gelas, apa air yang di gelas, apakah air dari gelas, apa gelas dari air. Bagi santri di pesantren sudah diajari untuk memahami yang seperti itu. Menurutnya Islam Nusantara adalah Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan Wali Songo, Islam yang damai, rukun, tidak mentang-mentang dan rahmatan lil alamin. Dan menurut Gus Mus, Wali Songo memiliki ajaran-ajaran Islam yang mereka pahami secara betul dari ajaran kanjeng Nabi Muhammad. Wali Songo tidak hanya mengajak bil lisan, tetapi juga bil hal (keteladanan), tidak mementingkan formalitas tetapi inti dari ajaran Islam.

Nusantara kita pernah mengenal sejumlah peradaban yang mencengangkan dunia: Sriwijaya, Malaka, Aceh, Makassar dan Majapahit. Kekuatan maritim dan ekonomi Nusantara begitu dahsyat di masa-masa awal kehadiran Wali Songo. Bahkan ada yang mengatakan, sepertiga perdagangan dunia dikuasai oleh Nusantara.

Pencangkokkan antara Islam dan peradaban Nusantara akan menghasilkan ketahanan dan energi aqwa (terkuat) yang tidak akan diruntuhkan oleh siapapun bahkan negara manapun. Inilah yang dilakukan oleh para Wali Songo dan ulama pendiri NU, khususnya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, yang melahirkan  prinsip berbangsa dan bernegara “Hubbul Wathan Minal Iman: Nasionalisme bagian dari Iman”, kemudian melahirkan lagu perjuangan “Syubbanul Wathan” karya KH. Wahab Hasbullah serta melahirkan PANCASILA oleh Sukarno.

Habib NU dan FPI

https://bangsaonline.com/amp/berita/74607/antara-habib-nu-dan-habib-fpi

Corona dan kelas sosial

*Tulisan keren.*
Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Kita sepakati saja secara sederhana, bahwa  masyarakat terbagi dalam dua kelas sosial yang besar; kelas menengah dan kelas miskin. Kategori ini diturunkan dari analisis kelas Marxisme yang sangat populer itu. Borjuis dan proletar. Agama memperkenalkan istilah si kaya dan si miskin.

Kategori ini, boleh saja, diperdebatkan batasannya. Tetapi, kali ini, saya ingin menggunakannya untuk melihat respons dua kelas sosial yang berbeda terhadap virus Covid-19.

Faktanya, Covid-19 adalah penyakit kelas menengah. Kelompok yang tertular dan menularkannya pertama kali, adalah warga kelas menengah.

Virus ini menyebar melalui relasi internasional kelompok elit. Atau, paling tidak, adalah mereka yang telah pulang dari perjalanan internasional seperti umrah. Pasien-pasien awal bertipikal ini.

Sebagai contoh, pasien 01 dan 02 di Indonesia, adalah seorang seniman tari di Indonesia yang cukup terkenal di kalangan komunitas seni di Indonesia. Ia terpapar oleh koleganya dari Jepang.

Menariknya, dalam kasus pasien 01 dan 02, pembantu rumah tangganya negatif. Contoh ini semakin terlihat benar ketika menteri perhubungan juga terpapar, plus sejumlah berita di media yang menyebutkan, orang-orang dari warga kelas menengah yang terpapar. Di Sulawesi Selatan,  begitu juga polanya.

Nah, yang panik dan merespon dengan semangat adalah, juga kelas menengah. Teriakan “social distancing” atau “lock down” adalah teriakan kelas menengah.

Bahasa asing yang digunakan semakin menegaskan watak kelas menengahnya. Mereka saling mengingatkan untuk ‘menjauhi’ virus ini dengan mengubah tindakan sosial dari intim menjadi berjarak.

Kampanye social distancing bergema di kalangan sesama kelas menengah. Gerakan sunyi dan pendekatan spiritual yang bersifat individual juga menggema dari kelas menengah.

Para agawaman kelas menengah pun kompak untuk meniadakan Salat Jumat. Tujuannya jelas,  hifdzun nafs, tentu yang dimaksud adalah nafs kelas menengah.

Tampak dengan jelas, bahwa kelas menengah adalah kelompok sosial yang paling rawan, dan sekaligus paling ketakutan menghadapi virus ini.

Gerakan ini tampak cukup sukses di kalangan kelas menengah. Kampus, sekolah, kantor, bahkan masjid ditutup. Mall, hotel, dan warkop tempat kelas menengah berkumpul mulai sepi. Bahkan,  Mall Panakukang Makassar sudah merilis pemberitahuan penutupan sementara.

Tanpa perintah tutup pun, mall pasti tutup. Pengunjung mereka adalah kelas menengah yang sedang mengurung diri di rumah. Justru mereka akan mengalami kerugian besar apabila memaksakan tetap buka. Mereka akan kesulitan untuk menanggung beban operasional tanpa dibarengi pemasukan. Pilihan tutup adalah pilihan sangat rasional.

Kelas Menengah

Dasar kelas menengah. Gerakan social distancing mulai dibarengi dengan panic buying, memborong segala keperluan untuk mencukupi hidup mereka selama 14 hari. Masker, hand sanitizer, vitamin c ludes dari pasar.

Para kelas menengah memburu semua resources untuk menyelamatkan diri tanpa memedulikan warga kelas bawah.

Dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki, mereka ‘mengurung diri’ di rumah untuk tujuan memutus mata rantai penyebaran virus.

Para kelas menengah ini kemudian tampil di media sosial sebagai pejuang dan petarung dengan cara tidur, dan bersenda-gurau dengan keluarga. Kalau bosan, menonton Youtube dan membuat status heroik di Facebook.

Kelas menengah tanpa sadar menciptakan dan memelihara ‘suasana horor’. Satu data tambahan positif covid segera dialirkan melalui berbagai Grup Whatsapp. Suasana horor semakin tercipta, dan warga kelas menengah semakin ketakutan.

Sikap kelas menengah yang sedang cari selamat ini terancam dengan sikap acuh kelompok kelas bawah. Kaum proletar ini sama sekali tidak terpengaruh dengan virus Covid. Suasana perkampungan tempat saya tinggal tetap berlangsung ‘normal’.

Virus ini tidak mengubah perilaku sosial untuk mengurung diri. Sebagian dari kelas bawah ini justru menertawakan ketakutan kelas menengah terhadap virus ini. Mengapa kelas bawah terlihat santai? Bagi mereka, virus Covid ini adalah penyakit elite. Dan, para elit itu tidak banyak bergaul dengan rakyat kecuali untuk kepentingan yang bersifat politis.

Jika jawaban dari virus ini adalah social distancing, maka mereka pasti selamat. Bukankah jarak sosial (social distance) sudah lama terjadi? Kaum kelas menengah tidak pernah benar-benar menjalin hubungan sosial kecuali untuk kepentingan politik, ekonomi, dan ritual keagamaan.

Bukankah sebagai kelas menengah, waktu kita sudah tersita oleh kesibukan yang kita ciptakan sendiri melalui rekayasa sistem ekonomi kapitalisme? Bukankah kita hanya bertemu dengan tetangga atau orang miskin ketika mereka datang menawarkan sayuran, ikan, atau undangan pernikahan, akikah, dan kematian?

Kelas Bawah

Alasan lain, warga kelas bawah sudah lama hidup dalam kekhawatiran karena ekonomi. Ancaman untuk kelaparan dan tidak mendapatkan penghasilan adalah ancaman klasik, yang sudah mereka rasakan bertahun-tahun.

Untuk bertahan hidup, warga kelas bawah ini sudah terbiasa ‘berdamai’ dengan penyakit yang ada dalam tubuh. Demam, flu, batuk, tb, asalkan masih bisa berkeringat dan mengangkat batu, mereka pasti keluar rumah. Tinggal di rumah sama saja mempercepat kematian.

Pilihan satu-satunya adalah keluar rumah dan mengais di tengah ketidakpastian. Jadi, ketika kampanye social distancing mulai menggema dari kelas menengah, mereka hanya tertawa dan mengumpat.

Kira-kira begini suara hati mereka, woi kalian minta kami tetap di rumah dengan segala bahasa asingmu untuk menyelamatkan jiwa kalian tetapi kami sendiri akan mati di rumah, siapa yang peduli kami?

Jadi, apabila warga kelas menengah ini benar-benar menginginkan social distancing berjalan, hal yang perlu dilakukan bukanlah stay at home saja tetapi juga mengaktifkan jaminan sosial.

Setiap warga kelas menengah harus bergerak untuk memastikan satu keluarga miskin tidak meninggal dunia karena kelaparan dalam kurun waktu social distancing dengan cara menjamin hidupnya.

 Jika egoisme kelas masih bertahan dengan memperhatikan keselamatan sendiri, maka apa yang bisa menahan kelas bawah untuk tetap di rumah sambil menahan perut kelaparan? Jangankan untuk membeli masker dan hand sanitizer yang harganya membumbung tinggi. Membeli beras saja mereka belum tentu bisa.

Bisakah sekarang saatnya kita kampanyekan, “Mari berbagi. Selamatkan hidup mereka untuk menyelamatkan hidupmu!”

Ayo bergerak! (*)

Strategi Melawan Corona

Nuris Alfan Fikri:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2663926657224902&id=100008227817040

*HERD IMMUNITY DAN KONSEKUENSI*

Maju mundur saya mau nuliskan ini. Sudah sejak dua hari lalu. Takut disalah artikan. Karena teori dan pilihan skenario ini berat. Nampaknya gak ada pilihan lain.

Kemarin saya gak memproduksi tulisan apa-apa. Diam. Banyak diskusi dengan seorang Mahasiswa Doktoral di Univ Pisa Italia. Diskusi juga dengan sahabat yang lagi nemenin istrinya S3 di Belanda. Bincang juga dengan Dokter yang lagi ambil Sub Spesialis di Kobe Jepang. Simpulannya sama : Herd Immunity.

Sebelum saya menuliskan skenario ini. Saya ijin menyampaikan disclaimer dulu. Saya orang awam. Bukan ahli apa-apa.

Latar belakang pendidikan sempet kuliah engineering. Sempat doank. Jadi tulisan saya boleh dikritik, karena saya bukan virolog, bukan juga dokter klinis, atau expert di bidang corona. Jadi dalam membaca tulisan saya, jangan begitu percaya. Tulisan orang awam. Biasa aja.

Saya menulis ini karena dorongan banyak temen-temen. Saya menyadari punya kemampuan menulis. Maka niatnya membantu orang lain mudah faham. Maka saya menulis, agar kemudian kita memahami jalan keluar dari kabut gelap kedepan.

Bombardir pertanyaannya selalu sama.

Menurut ente kapan Rend ini berakhir?
Vaksin bakalan bener ada atau nggak?
Ini jalan keluarnya kira-kira bagaimana ya?

Dan seterusnya.

Pertanyaan itu yang membuat saya tenggelam dalam berbagai literatur ilmiah. Dalam dan luar negeri. Hingga website resmi corona virus yang berbahasa Italia itu saya coba terjemahkan satu-satu istilahnya di grafik. Capek memang.

Pertanyaan itu pula yang menggiring kepala saya pada satu skenario paling mungkin di Indonesia : Herd Immunity.

*

Agar kita bisa memahami tentang pilihan sulit ini, ijinkan saya membahas tentang apa yang dilakukan Wuhan, Korsel dan Italia. Versus dengan apa yang dilakukan Iran.

Di Wuhan, Korsel dan Italia, skenario Lockdown terbukti berhasil. Karena memang warganya dan pemerintahnya punya kapasitas.

Warganya punya tabungan untuk hidup kedepan. Warganya teredukasi. Hampir semua connected. Jadi komunikasi keputusan negara mudah.

Beda kayak di negeri ini, masih ada yang belum terjangkau internet. Adapun punya smartphone dan internet, aplikasinya joget. Gak bisa akses info ilmiah.

Pemerintah Cina dan Italia juga punya sumber dana. Ngasih diskon. Ngasih bantuan. Menjaga supply pangan.

Bukan berarti Indonesia gak punya dana. Ada. Tapi gak bisa untuk segini banyak orang.

Konsep lockdown ini seperti "menghapus file". Anda seperti pukul nyamuk satu-satu.

Virus ini makhluk yang butuh inang. Butuh reservoir untuk hidup. Butuh agen. Butuh nempel di makhluk hidup agar dia bisa eksis.

Maka virus tanpa inang akan mati. Tanpa menempel di inang ia akan selesai. Begitu teorinya. Waktu bertahan tanpa inang berbeda pendapat antar ilmuwan. Gak akan saya bahas.

Wuhan, Korsel, Italia, menerapkan pola ini : virus pada manusia dipaksa mati dengan anti bodi. Virus diluar tubuh manusia dibiarkan mati, hilang, atau dibersihkan.

Yang positif di isolasi. Yang sakit berat di rawat.

Yang nampak tidak bergejala juga di test massal. Untuk dicari yang positif yang mana. Begitu positif, di isolasi lagi.

Kenapa? Karena menjadi carrier tanpa gejala inilah yang menjadi biang gak selesainya sebaran kasus.

Maka Wuhan dan Italia sangat ketat dengan lockdown. Kalo warga korsel, tanpa disuruh pun sudah teratur lockdown. Mirip Jepang.

Mereka tahan semua orang didalam rumah. Karena andai yang didalam rumah gak ditest, virus akan mengalami masa inkubasi hingga 14 hari. Bakal mati sendiri. Apalagi Wuhan menjalani lockdown 2 bulan.

Wuhan secara strategi sebenarnya menahan interaksi sosial. Lalu membiarkan yang sebenarnya positif walau tidak dites memiliki antibodi dengan sendirinya.

Begitu juga yang dilakukan di Italia. Di lock. Diberesin satu demi satu. Hingga targetnya zero casses per day seperti Wuhan.

Secara garis bessr begitu. Hingga Wuhan hari ini memulangkan dokter-dokternya. Menutup rumah sakit darurat. Dan sudah 3 hari ini zero case covid-19. Mereka sudah statement menang a

tas corona.

Strateginya begitu. Total lockdown. Semua di isolasi di rumah. Disiplin.

Rumus ini akan buyar kalo yang satu nau di isolasi sementara yang lain masih keluyuran. Bubar dah skema lockdown.

*

Sekarang kita ke negeri ini, kita buka mata dan hati ya. Saya sampaikan ini murni pendapat atas masalah kemanusiaan. Sentimen politik kita bahas nanti. Bukan saatnya.

Begini...

Ramai di linimasa ini, sahabat dominan menyerukan lockdown. Menganggap bahwa skenario Wuhan dan Italia bisa kita lakukan.

Dari apa yang saya lihat hari ini - semoga saya salah - Total Lockdown bukan skenario kita. Kecuali cuma slowdown soci distancing, bubarin keramaian. Itu masih bisa. Tapi kalo ngekep warga di rumah. Hmmm.. Susah.

Lockdown itu membutuhkan jumlah petugas yang cukup. Di Italia, polisi mondar-mandir, yang keluar tanpa keperluan didenda ratusan euro. Cek aja linimasa. Banyak beritanya.

Itu aja sudah pake polisi, terjadi puluhan ribu pelanggaran. Masih aja keluar.

Lalu kita lihat di Indonesia. Jelas sulit

Bisa dibayangkan polisi kita nahan masyarakat gak keluar rumah. yang keluar di denda. Ditilang aja ngamuk kok. Apalagi didenda untuk sekedar keluar rumah. Wah.. Chaos.

Belum lagi, di Wuhan dan Italia, mereka punya solusi, kalo diam di rumah, stay at home, work for home, makan mereka terjamin. Di Indonesia rada repot.

Di kita, kalo gak keluar rumah, makannya gimana? Seriusan ini.

Saya nulis begini bukan berarti besok Anda langsung ngumpul-ngumpul dan keluar rumah. Arah tulisan says gak kesitu.

Saya cuma ingin buka mata kita semua. Lockdown kayak Wuhan dan Itali, untuk negeri dengan sosio kultur kayak Indonesia. Gak bisa.

Rame kan di berita, udah jelas jadi suspect, malah bantu-bantu nikahan tetangga. Ditelpon sama dinkes untuk ngontrol, malah ngakunya di rumah, padahal jalan-jalan.

Itu cuma ngisolasi 1 orang aja, kita gak sanggup lho. Asli. Apalagi 271 juta jiwa di hold. Atau Jabodetabek aja deh, 25 jutaan warga, di hold gak boleh keluar rumah kompak. Gak bisa. Beneran.

Menutup event-event perkumpulan insyaAllah bisa. Meniadakan gathering ibadah bisa. InsyaAllah. Tapi kalo total lockdown. Apalagi bahasanya lockdown antar daerah. Nampak resiko sosialnya besar dan ini juga yang kayaknya ada di fikiran Pak Jokowi.

Maka bisa dilihat di Iran. Mereka masih terus aktivitas. Adanya yang terjangkit covid-19 dan sakit berat, ya mereka hadapi. Nanti saya jelaskan di tulisan berikut, kenapa Iran begitu.

*

Keadaan diatas membuat skenario "pukul nyamuk satu-satu" gak mungkin jalan.

Kita gak bisa paksa warga didalam rumah. Kita gak bisa membersihkan pergerakan.

Akan tetap terus terjadi pergerakan massa, walau kecil. Padahal yang bergerak bisa jadi sudah positif covid-19 namun tanpa gejala apa-apa. Ini yang membuat skenario lockdown buyar.

Belum lagi dengan slowdown nya Jakarta. Dan status Jakarta menjadi episenter pendemi. Membuat banyak warga jabodetabek mudik ke kampung halaman.

Panah-panah merah sudah menyebar ke daerah. Ini seperti anak-anak muda Lombardi yang mudik ke Italia selatan. Persis.

Intinya skenario Lockdown sulit jalan.

Lalu bagaimana mengakhiri wabah ini?

Satu dua expert sudah mulai bicara. Walau malu-malu. Kecuali menteri pertahanan Israel yang pada akhirnya bicara tentang ini juga : Herd Immunity. Termasuk PM Inggris Pak Borris.

Begini,

Virus yang menjangkiti tubuh akan diserang oleh antibodi ini. Inilah tafakur mendalam kita hari ini, antibodi kita menyusun bahan baku serangan untuk virus covid-19. Khusus untuk si dia saja.

Maka muncul angka 14 harian, atau kurang, dimana antibodi kita menyusun serangan ke covid. Hingga antibodi yang khusus dibentuk untuk covid terbentuk.

Maka setelah terbentuk antibodi alami covid, tubuh kita kebal covid. Secara teori, tidak lagi bisa dijangkiti covid-19. Mudah-mudahan teorinya bener.

Nah, Ketika sudah cukup banyak masyarakat yang terjangkiti covid-19, akan terbentuk "sekawanan" manusia yang sudah kebal covid-19. Dan disaat itulah terbentuk namanya Kekebalan Kawanan : Herd Immunity.

Coba deh, buka video-video yang viral tentang melandaikan kurva. Kan disitu

 sudah diberitahu, bahwa pada akhirnya semua orang akan terjangkit. Tinggal kecepatan lonjakan yang gejala berat saja. Itu yang diperlambat.

Ikhtiar social diatancing kita akan kesitu arahnya. Melandaikan kurva. Memberikan waktu bagi paramedis untuk melayani yang sakit berat. Jangan sampai okupansi rumah sakit gak cukup. Maka jangan sampai yang positif covid dan gejala berat jumlahnya puluhan ribu atas satu waktu.

Teori Herd Community ini berat untuk disampaikan. Secara ilmiah, 60%-70% masyarakat akan terjangkit. Dan kemudian mayoritas yang bertahan akan membentuk antibodi alami.

Di Wuhan, mungkin gak butuh sampai 60-70 persen. Karena mereka total lockdown. Mereka sampai semprot kota pake disinfektan 2 hari sekali. memang targetnya bunuh virus. Bisa jadi juga mereka sudah nemu vaksin. Sudah di shot ke sebagian besar populasi. Itu juga bikin Herd Immunity.

Italia juga nampak cara memeranginya sama. Total Lockdown.

Namun lihatlah Iran, mereka nampaknya pake teori ini, biarkan semua terpapar pada akhirnya. Mereka gak punya kapasitas untuk lockdown. Yang ada tinggal gali kuburan massal di Qom. Ini fakta.

Nampak Iran sudah memahami tracknya. Berharap Her Immunity.

Iran menjadi parah karena adanya embargo dari US, yang membuat alat-alat medis kurang. Iran sampai mau minjem ke IMF untuk perawatan. Skenario paparan maksimal memang butuh persiapan.

Walau skenario terpapar xepat tidak kita pilih, melihat kondisi negeri dan perilakunya, inilah yang sebenarnya akan kita hadapi.

**

Saya secara pribadi berharap, slowdown dan social distancing yang kita lakukan sekarang akan memperlambat penularan, memberikan waktu pada fasilitas kesehatan untuk bersiap. Tapi tidak bisa mencegah penularan pada semua.

Adapun waktu yang terus berjalan, semoga bisa menjadi buying time untuk menunggu vaksin.

Sampai di titik ini, Anda pembaca mungkin merasa saya mendoakan yang buruk untuk negeri. Sama sekali tidak. Ini ulasan ilmiah dari studi literatur saja. Bahwa begitulah wabah berakhir. Hampir semua orang terjangkit dan membentuk antibodi alami.

Semoga sampai disini hati tetap dingin dan optimis. Karena ini baru setengah tulisan. Berikutnya saya akan menuliskan tentang konsekuensinya.

*

Target saya menulis ini adalah... agar kita sebagai anak bangsa bisa memitigasi konsekuensinya.

Karena inilah yang saya bisa rasakan dan simpulkan. Walau mudah-mudahan salah. Her Immunity ini skenario negeri kita.

Maka konsekuensi pertama adalah "bersiap terpapar"

Slowdown di rumah ini harus menjadikan kita pribadi yang sehat jasmani dan batin. Karena paparannya cepat atau lambat akan segera datang. Apalagi si covid ini rada bandel, cepet nular.

Makan yang bergizi , perkuat imunitas tubuh, istirahat yang cukup, olahraga gerakkan tubuh, bantu tubuh menyiapkan metabolisme yang optimum, untuk memproduksi antibodi covid secara mandiri.

Untuk urusan ini sudah banyak yang menuliskannya. Saya gak mau nulis ulang. Silakan cari sendiri.

Termasuk persiapan batin, mulailah memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, saling mendoakan. Kita perlu batin yang sehat untuk masa-masa ekstrim seperti ini.

*

Konsekuensi kedua adalah "mayoritas jadi carrier"

Dengan demografi anak negeri yang penuh anak muda. Secara statistik, masyarakat kita akan mengalami gejala ringan di anak muda. Bahkan tak bergejala.

Maka anak muda negeri ini akan dominan menjadi cariier virus.

Ini juga yang harusnya diedukasi mendalam. Bahwa positif covid-19 bukan seperti positif HIV. Ini ada diberita, begitu positif covid-19 malah kabur. Salah faham kayaknya. Butuh diedukasi.

Dengan simpulan ini, saya menyarankan bangun gerakan pisahkan manula dan anak muda. untuk usia 50 tahun keatas, jangan sampai berbaur dengan yang muda.

Inget gak, 60-70% harus terpapar virus agar terbentuk Herd Immunity.

Kita siasati saja. 60% yang terjangkit itu biar anak muda saja. Kemungkinan illnes beratnya kecil. Dibawah 10%. Begitu kata lietaratur ya. Cross cek aja. Gak maksud sok tau.

Ini juga termasuk pada resiko kerja. Untuk di rumah sakit misalnya. Dokter senior, konsulen senior, mundur aja

ke belakang meja. Kontrol dari jauh. Komando dari meja. Jadi penasehat dan pengarah ke dokter-dokter yang under 50. Seriusan ini. Bisa gak kira-kira. Atau etis gak kira-kira.

Karena kalo pola paparan mayoritas ini kena ke generasi elder negeri ini, ini yang membuat tingkat kematian tinggi seperti Italia.

Pada orang tua, pada masayikh itu terdapat kemuliaan dan kebaikan, kita sangat perlu keberadaan mereka untuk tetap sehat dan mendoakan kita. Mengarahkan. Dan menasehati.

Baca data yang jujur. China 2M populasi, Italia 60 juta Populasi. Angka kematian di Italia sudah melebihi Cina akan covid. Ini karena para manula gak segera dipisahkan dengan yang muda.

*

Konsekuensi ketiga "Siapkan Fasilitas Medis"

Angka ilmiahnya sudah ada. 60% Terjangkit. Mayoritas tanpa gejala.

20% gejala ringan. Bisa isolasi mandiri.

10% gejala berat yang dimana sepertiganya diprediksi meninggal. Maka muncul angka kematian 3%.

Coba simulasi aja. Gak nakut-nakutin, agar kita bersiap.

Barusan saya sudah ketik simulasi angkanya. Tapi saya gak tega. Jadi saya hapus lagi. Hitung saja sendiri ya.

Intinya,....

Jangan sampai kayak Italia hari ini, kaget gak ada tempat rawat. Padahal Italia ini negeri yang kesehatan gratis. Kesehatan ini jadi nomor 1 perhatian. Ujian memang. Kita doakan segera berlalu.

Akhirnya sibuk bangun tenda darurat. Sibuk nyari gedung untuk rumah sakit. Full sampe lorong-lorong kepake semua.

Kita jangan sampai kaget di akhir. Mumpung ada waktu, siapin aja dari sekarang.

Jangan nunggu intruksi pemerintah, sediakan aja secara swadaya dari arus bawah. Siapin bangunannnya. Bed nya. Pelan-pelan.

Dengan skenario terpapar 60% populasi, lebih baik mumpung ada waktu kita bersiap. Karena jumlah penduduk kita 4,5 kali Italia. Beneran.

Saya sudah teriak-teriak berkali-kali, kalo pendekatan pencegahan/preventif gak bisa, ya sudah fokus pengobatan.

Maka saya membaca langkah Pak Jokowi, beliau sebenernya menuju pada Herd Immunity.

"5 juta obat sudah dibeli"

Ini sudah langkah pengobatan. Adapun ceramah tentang pembatasan gerak, hanya normatif.

"Mohon pada pemerintah daerah untuk memperhatikan prosedur kesehatan"

Tafsirnya luas. Tapi kalo niat ngobatin, jelas, beliau impor obat. Jelas sudah arahnya.

Wisma Atlet towernya akan dijadikan rumah sakit darurat.

Ada pulau yang disiapkan jadi pulai isolasi.

Arah pemerintah ini nampak bersiap mengobati dan merawat ketimbang melockdown. Karena perhitungannya bisa jadi kita banyak anak muda, memang yang diharapkan antibodi alami anak negeri yang bekerja. Lalu selamatkan yang elder.

Maka konsekuensi ketiga ini perlu kita dalami.

Satu masjid satu rumah sakit darurat.
Pak Erick Tohir saja sudah calling relawan. Oprec relawan secara nasional. Ndak lama lagi akan banyak program wakaf dan infaq alat medis.

Memang kesitu arahnya. Virus akan memapar ke mayoritas anak bangsa. Biarkan Herd Immunity terbentuk dengan sendirinya.

Yang perlawanan antibodinya tanpa gejala ya alhamdulillah.

Yang sakit ringan-sedang bisa isolasi mandiri di rumah. Semoga rumahnya ada. repot kalo yg gak punya rumah, kamarnya gak cukup, perlu ada rumah isolasi tambahan.

Yang sakit berat, semoga fasilitas kesehatan kita bisa obati dan tanggulangi.

Dan semoga angka kematian rendah. Angka 8,5% death rate itu karena di kita belum banyak yang test covid. Kasihan Pak Jokowi, jadi bulan-bulanan data yang kurang representatif.

Saya yakin death rate kita kecil. Coba saja nanti mass rapid test. Akan banyak yang positif tanpa gejala. dan death rate akan kecil sekali.

*

Panjang ya.. Saya juga sampe keram ini nulisnya. Maaf.

Semoga Herd Immunity segera terbentuk untuk negeri ini.

Segera kita beraktifitas lagi.

Segera kita belanja lagi ke kaki lima, gerakkan ekonomi UMKM.

Segera kita wisata domestik lagi, lakukan economic transfer antar daerah.

Segera kita produksi apa-apa yang gak di impor lagi. Mumpung negeri orang lagi restart pabrik, mumpung gak ada yang berani ke Indonesia.

Segera kita bangun negeri, dunia lagi de-globalisasi. Sekat-sekar antar negara makin keras dan tebal.

Bagus aja itu mah... Kesempatan kit

a urus diri kita sendiri. Nanam bawang putih sendiri. Nanam padi sendiri. Bikin baju sendiri. Wassalam import. Ahlan wa sahlan kemandirian negeri.

Segeralah terbentuk wahai Herd Immunitiy.

URS

***

Tulisan ini adalah bentuk muhasabah keras untuk anak negeri, jika kita tidak bisa se serius Wuhan dan Italia, maka skenarionya akan menuju Herd Immunity dengan alami.

WARNING :
Yang mengcopy tulisan saya ke grup-grup WA, mohon sertakan link source utama, agar para pembaca dapat melihat dialektika diskusi di kolom komentar.

#AllahMahaKuat
#MomenKebangkitanNegeri
#HerdImmunity