Khitah Islam Nusantara

*Khitah Islam Nusantara*

Oleh
*Kyai Haji Ma'ruf Amin*
.
Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya.
Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.

Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua'sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.

Tiga pilar

Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika "al-jumûd 'alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi", pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan 'urf atau 'ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.

Penanda Islam Nusantara

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Ketiga, tatawwu'iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.

Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.

Ijtihad

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalahmaãlahah (kebaikan).

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: "idhã wujida nasssS fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar' al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah". Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.

Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.

*KH. Maruf Amin*
_Ketua Umum MUI_
_Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama_

Penyebaran Islam di Indonesia

Penyebaran Islam di Indonesia adalah proses yang perlahan, bertahap, dan berlangsung secara damai.

Satu teori menyebutkan bahwa Islam datang secara langsung dari jazirah Arab sebelum abad ke-9 M, sementara pihak lain menyebutkan peranan kaum pedagang dan ulama Sufi yang membawa Islam ke Nusantara pada kurun abad ke-12 atau ke-13, baik melalui Gujarat di India atau langsung dari Timur Tengah. Pada abad ke-16, Islam menggantikan agama Hindu dan Buddha sebagai agama mayoritas di Nusantara. Islam tradisional yang pertama kali berkembang di Indonesia adalah cabang dari Sunni Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang diajarkan oleh kaum ulama, para kyai di pesantren.

Model penyebaran Islam seperti ini terutama ditemukan di Jawa. Beberapa aspek dari Islam tradisional telah memasukkan berbagai budaya dan adat istiadat setempat. Praktik Islam awal di Nusantara sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran Sufisme dan aliran spiritual Jawa yang telah ada sebelumnya. Beberapa tradisi, seperti menghormati otoritas kyai, menghormati tokoh-tokoh Islam seperti Wali Songo, juga ikut ambil bagian dalam tradisi Islam seperti ziarah kubur, tahlilan, dan memperingati maulid nabi, termasuk perayaan sekaten, secara taat dijalankan oleh Muslim tradisional Indonesia.

 Akan tetapi, setelah datangnya Islam aliran Salafi modernis yang disusul datangnya ajaran Wahhabi dari Arab, golongan Islam puritan skripturalis ini menolak semua bentuk tradisi itu dan mencelanya sebagai perbuatan syirik atau bidah, direndahkan sebagai bentuk sinkretisme yang merusak kesucian Islam. Kondisi ini telah menimbulkan ketegangan beragama, kebersamaan yang kurang mengenakkan, dan persaingan spiritual antara Nahdlatul Ulama yang tradisional dan dengan ormas lain yang dianggap modernis dan puritan. Sementara warga Indonesia secara seksama memperhatikan kehancuran Timur Tengah yang tercabik-cabik konflik dan perang berkepanjangan; mulai dari Konflik Israel–Palestina, Kebangkitan dunia Arab, perang di Irak dan Suriah, disadari bahwa ada aspek keagamaan dalam konflik ini, yaitu munculnya masalah Islam radikal.

Indonesia juga menderita akibat serangan teroris yang dilancarkan oleh kelompok jihadi seperti Jamaah Islamiyah yang menyerang Bali. Doktrin ultra konservatif Salafi dan Wahhabi yang disponsori pemerintah Arab Saudi selama ini telah mendominasi diskursus global mengenai Islam. Kekhawatiran semakin diperparah dengan munculnya ISIS pada 2013 yang melakukan tindakan kejahatan perang nan keji atas nama Islam.

Di dalam negeri, beberapa organisasi berhaluan Islamis  telah secara aktif bergerak dalam dunia politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini menggerogoti pengaruh institusi Islam tradisional khususnya Nahdlatul Ulama.

Elemen Islamis dalam politik Indonesia ini kerap dicurigai dapat melemahkan Pancasila. Akibatnya, muncullah desakan dari golongan cendekiawan Muslim moderat yang hendak mengambil jarak dan membedakan diri mereka dari apa yang disebut Islam Arab, dengan mendefinisikan Islam Indonesia.

Dibandingkan dengan Muslim Timur Tengah, Muslim di Indonesia menikmati perdamaian dan keselarasan selama beberapa dekade. Dipercaya hal ini berkat pemahaman Islam di Indonesia yang bersifat moderat, inklusif, dan toleran. Ditambah lagi telah muncul dukungan dari dunia internasional yang mendorong Indonesia — sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, agar berkontribusi dalam evolusi dan perkembangan dunia Islam, dengan menawarkan aliran Islam Nusantara sebagai alternatif terhadap Wahhabisme Saudi. Maka selanjutnya, Islam Nusantara diidentifikasi, dirumuskan, dipromosikan, dan digalakkan. 

NUqu NUmu NU kita dan NUsantara

NUQu NUmu NU kita NU santara

Banyak kalangan peneliti dalam dan luar negeri yang sangat penasaran akan perkembangan ISLAM di NUsantara, terutama di era WALI SONGO.

Betapa tidak NUsantara yang kala itu mayoritas sebagai pemeluk ANIMISME, HINDU dan BUDHA tidak sampai satu abad sudah menjadi mayoritas memeluk ISLAM . Bahkan sekarang ISLAM di NUsantara menjadi agama terbesar mengalahkan dari pemeluk di negara yang mayoritas Islam sekalipun.

Bahkan konon jumlah ummat Islam di Indonesia menyamai jumlah umat Islam yang berada di timur tengah seluruhnya..  Seperti iran, iraq, suriah, arab, turki, afganistan dll.

 Bagaimana Islam begitu cepat berkembang di Bhumi NUsantara ini?

Semua tidak lepas dari jasa besar WALI SONGO yang begitu santun membimbing masyarakat kala itu.

WALI SONGO sangat lihai membaca situasi keadaan dalam berdakwah, beliau" sangat santun dalam menarik simpati.

WALI SONGO sangatlah faham akan makna ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIIN, WALI SONGO sangatlah mengerti bahwa ISLAM TEGAK dengan AKHLAKUL KARIMAH, WALI SONGO sangatlah memgerti akan makna hadist:

انما بعثت لاءتمم مكارم الاخلاق
"Bahwasannya aku (Muhammad SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak yg mulia".

WALI SONGO sangatlah faham betul akan segala hukum aspek ilmu fiqih madzahibul arba'ah, Tauhid ala IMAM ASY'ARI, dan sangat memguasai fan ilmu tasawuf isi dari IHYA ULUMUDDINnya IMAM GHOZALI sehingga beliau tidaklah ragu dalam menerapkan tradisi yang telah ada serta memodifikasinya dengan syareat islam.

KANJENG SUNAN AMPEL tidak pernah takut dikatakan MURTAD hanya karena menggunakan kata SEMBAH YANG sebagai ganti SHOLAT.

MAULANA MALIM IBRAHIM tidak pernah takut dikatakan PENGHINA KITAB SUCI hanya karena menggunakan bantal sebagai tempat AL QUR'AN dikala mengaji.

KANJENG SUNAN GIRI tidak pernah takut dikatakan ULAMA SU' hanya karena beliau ulama sekaligus sebagai RAJA

KANJENG SUNAN BONANG tidak pernah peduli dikatakan ahli BID'AH hanya karena menciptakan gamelan yang tidak pernah ada di zaman NABI SAW

KANJENG SUNAN GUNUNG JATI tidak pernah Peduli disebut Ahli Bid'ah KARENA MENGADAKAN TAHLILAN KHUSUS MALAM JUM'AT juga marhabanan

KANJENG SUNAN DRAJAT tidak pernah peduli akan dikatakan ahli BID'AH hanya karena mengajarkan masyarakat pola bercocok tanam modern yang tidak pernah dilakukan di era NABI SAW

KANJENG SUNAN KALIJOGO tidak pernah gentar dikatakan SESAT hanya karena menggeluti dunia seni modern bukan GAMBUS/JAVEN atau QOSIDAH tembang2 dakwah dengan pewayangan dll

KANJENG SUNAN KUDUS tiada pernah mundur selangkah akan dituduh LIBERAL hanya karena mengarsiteki menara masjid dengan mirip sebuah candi

KANJENG SUNAN MURIA tiada berpaling sedikitpun meski diteriaki TIDAK PEDULI SESAMA MUSLIM hanya karena berkutat diatas gunung melayani ummat.

WALI SONGO tidak pernah sedikitpun memaksakan kehendak kepada orang untuk menggunakan nama" berbau keARAB"an.

Beliau" TIDAK perduli jika dikatakan ANTI ARAB.

WALI SONGO bukanlah antek HINDU BUDHA hanya karena tidak pernah merusak (melindungi) tempat ibadah agama lain seperti candi dll.

WALI SONGO tidak pernah mensweeeping apalagi melukai orang" yang kedapatan berjudi.

Itulah WALI SONGO yang bersikap arif dan bijaksana dalam berdakwah, yang demikian itu adalah penjabaran dari apa yg pernah dilakukan oleh NABI SAW, dimana ketika NABI SAW memimpin apel pasukan sebelum berangkat ke medan perang, beliau SAW berpidato:

1. JANGAN MERUSAK TEMPAT IBADAH UMAT LAIN
2. JANGAN MENEBANG PEPOHONAN
3. JANGAN MELUKAI WANITA DAN ANAK".

Bahkan selama hidup beliau SAW tidak pernah mengatakan KAFIR sekalipun kepada ABU LAHAB atau ABU JAHAL.

Dakwah inilah yg dimanifestaikan oleh WALI SONGO dan ditidaklanjuti oleh ULAMA KYAI NUsantara saat ini sehingga NU kini menjadi rujukan penelitian NEGARA ISLAM  didunia BILKHUSUS TIMUR TENGAH YanG SeKaRanG BERPERANG TAK BERKESUDAHAN .

Islam nusantara ISLAM yang RAHMATAN LIL ALAMIIN, ISLAM yang TOLERAN, DAMAI, SEJUK,  GA KAKU GA EXTREM KANAN KIRI MODERAT, TASAMUH, TAWAZUN berpradaban  BERBUDAYA dan SALING MENGHARGAI.

Sehingga tidak sedikit dari kalangan orang baik dalam maupun luar negeri yg ingin belajar tentang Islam kepada NU.

Yang pada akhirnya mereka tertarik kepada Islam dan memeluk ISLAM tanpa ada PEMAKSAAN maupun KETAKUTAN.

#moga manfa'at

Ust Sudaroji Sakhie

# PIN

Tata Cara Ritual Sedekah Laut & Larung Sajen (versi Kampus Menyan)

Tata Cara Ritual Sedekah Laut & Larung Sajen (versi Kampus Menyan)

1. Siapkan makanan ingkung ayam panggang & nasi pecel lengkap dg lauk pauk, buah2an, es degan, kopi, udud dll.

2. Siapkan makanan ikan spt pur, pelet, biskuit expired dll.

3. Mulai ritual dg bakar menyan, bukhur, dupo, stik dll yg aroma harum wangi.

4. Ritual selanjutnya  rapal tahlil utk arwah para pelaut muslimin wal muslimat. Dg tawasul kpd Baginda Nabi SAW, para sahabatnya & para ahli baitnya dan khususon ilaa Nabi Khidir AS.

5. Kemudian dilanjut rapal ratib idrus, attos & haddad. Biar lbh sakral bisa ditambahi dg hadrah sholawatan.

6. Setelah usai rapalan, maka sajen ayam ingkung, sego pecel dll disantap bersama.

7. Kumpulkan sisa2 tulang ayam & makanan dlm wadah.

8. Sesi terakhir larung sajen. Bawa sisa tulang & makanan tsb beserta pur pakan ikan ke tengah laut. Dg bacaan bismillah & sholawat lempar ke laut.

9. Ritual Selesai.

--------

TANYA JAWAB SOAL MEMBUANG KEPALA KERBAU KE LAUT --->  http://bit.do/eyEYM

Dialog Habib Utsman dengan Masyarakat tentang Sedekah Laut

    
Di Cirebon, ada seorang Habib yang alim dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Ia tinggal di Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon. Syarif Utsman Yahya namanya. “Abah Ayip atau Kang Ayip,” begitu masyarakat mengenalnya. Ayip adalah bentuk “tahfif” dari “syarif”. Syarif itu sebutan Habib di Cirebon.
Suatu hari, Abah Ayip, wafat 2010, disowani beberapa orang dari masyarakat nelayan, sebagain masyarakat Cirebon memang kuat dengan tradisi Maritim.
Mereka mengadu kepada sesepuh dan orang yang dinilai alim dalam ilmu agama di Cirebon. Mereka datang ke Abah Ayip karena ada kalangan ustaz yang mengatakan tradisi “sedekah laut” dalam Islam tidak diajarkan, bahkan lebih dekat dengan kesyirikan, alias menyekutukan Tuhan.
“Siapa yang memimpin doa sedekah laut?” Tanya Abah Ayip.
“Mbah Kaum, Bah,” jawab salah satu dari mereka. Maksud Mbah Kaum di sini adalah kiai kampung, biasanya bertugas menjaga/imam masjid, pemimpin tahlil, mengurus jenazah, dll.
“Lestarikan tradisi sedekah laut Sampean. Banyak baca bismillah, qulhu dan selawat. Hati-hati di laut, isi perahu sesuai dengan kekuatan. Cari perahu lagi jika tidak muat. Jangan dipaksakan,” Abah Ayip memberikan dukungan.
“Makanan yang dilarung bagaimana, Bah? Katanya mubazir dan Nabi tidak pernah melarung makanan ke laut,” tanya yang lain.
“Lanjutkan. Niatkan sedekah kepada makhluk Allah yang ada di laut. Jangan pelit jadi orang. Ambil ikan tiap hari, sepanjang tahun, masa ndak kasih makan ikan-ikan sekali pun? Itu, kalau kurang, ambil ayam saya di belakang, dilarung bersama kepala kerbau kalian.

www.alif.id

Larung Sesaji Versi Nelayan Brondong

*LARUNG SAJI VERSI NELAYAN BRONDONG, LAMONGAN*

*_Biological Local Knowledge._*

Oleh : Agus Karyanantio.

Dalam pengembaraan sebagai geologist, kebetulan thn 1999 di pantai selatan Pacitan, thn 2003 di pantai Popoh Tulungagung, thn 2004 di pantai Prigi Trenggalek, thn 2006 di Yosowilangun Lumajang dan 2007 di pantai Muncar Banyuwangi. Dari hasil wawancara insidental dg Nelayan setempat, maka

MTQ: Lahir dari Rahim NU


Kelahiran MTQ dan Pandangan Masyarakat

MTQ sudah dikenal di Indonesia sejak 1940. Kegiatan ini bermula dari Jam’iyyah al-Qurra’ wa al-Huffadz, sebuah lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang mewadahi para qari, qariah, dan penghafal Alquran. 

Saat Menteri Agama dijabat K.H. Muhammad Dahlan, Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional mulai dilembagakan dan edisi pertamanya digelar pada 1968 di Makassar.

Selanjutnya Menteri Agama bersama K.H. Ibrahim Hossen, K.H. Zaini Miftah, dan Prof. Dr. H.A. Mukti Ali mendirikan Yayasan Ihya Ulumuddin pada 23 Januari 1970. Setahun kemudian yayasan ini merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), yakni perguruan tinggi yang secara khusus menghafal dan mempelajari Alquran.

MTQ tingkat nasional digelar setiap tahun dengan penyelenggaraan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Selama 26 tahun diadakan, kegiatan ini telah melahirkan beberapa qari yang populer, seperti Muammar Zainal Asyikin dan Chumaidi.

Tanggapan masyarakat Muslim di Indonesia atas penyelenggaraan MTQ secara umum positif. Mereka melihat kegiatan ini sebagai syiar dakwah yang harus didukung dan dilestarikan.

M. Quraish Shihab, yang sempat menjadi Menteri Agama di pengujung pemerintahan Orde Baru, menulis dalam Lentera Al-Quran(2008) bahwa MTQ merupakan tradisi baik yang dampak positifnya dapat dirasakan di tingkat nasional maupun internasional.

Sementara Agus Ahmad Safei dalam Sosiologi Dakwah: Rekonsepsi, Revitalisasi, dan Inovasi (2016) menyebut Musabaqah Tilawatil Quran merupakan media syiar dakwah bagi masyarakat luas agar terdorong secara bersama-sama membaca, mendalami, dan mengamalkan kandungan Alquran di level dan lingkungan masing-masing.

Kidung Wahyu Kolosebo

*kidung wahyu kolosebo*

*habib asyhari adzomat khon*


*Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro*
*Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro*
*Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda*
*Hinggo pupusing jaman*

*Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko*
*Maper hardening ponco, saben ulesing netro*
 *maper hardening ponco*
*Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamuyan*
*Sang Hyang Jati Pengeran*

*Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku*
*Tumuju dateng gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi*
*Manunggaling kawulo gusti, krenteg ati bakal dumadi*
*Mukti ingsun …tanpo piranti*
*Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito*
*Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno*
*Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno*
*Tyasing roso mardiko*,……..
*Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo*

*Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo*
*Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono*
*Byar manjing sigro-sigro*
*Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh*
*Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah*
*Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko*
*Kataman wahyu ……..Kolosebo*

*Memuji ingsun kanthi suwito linuhung*
*Segoro gando arum, suh rep dupo kumelun*
*Ginulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur*
*Titahing Sang Hyang Agung*
*Rembesing tresno, tondho luhing netro roso*
*Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci*
*Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang*
*Palilahing Sang Hyang Wenang*
*Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono*
*Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo*
*Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono*
*Datan gingsir….sewu warso*

Menelusuri Jejak-Jejak Kesultanan Jailolo


Friday, 20 March 2009

THE HIDDEN HISTORY OF JAILOLO, ( Menelusuri Jejak-Jejak Kesultanan Jailolo)



==================================================================
Narasi : Busranto Latif Doa
Sumber Foto : Koleksi Pribadi

Suatu hal yang jarang dilakukan oleh para pemerhati sejarah dan budaya “Moloku Kie Raha” (Maluku Utara) adalah membahas tentang Kesultanan Jailolo di pulau Halmahera yang telah lama vacum. Hal ini disebabkan minimnya sumber dan referensi yang menunjang pembahasan tentang hal itu. Dalam penulisan sejarah oleh bangsa Eropa, Jailolo sering ditulis “Gilolo” yang menurut sebagian besar sumber barat dianggap sebagai cikal-bakal kerajaan-kerajaan berikutnya di kawasan Maluku bagian utara, (kerajaan pertama dan tertua di jazirah maluku).

Menelusuri dan membahas jejak sejarah kesultanan Jailolo, menjadi lebih menarik akhir-akhir ini, setelah dinobatkannya Srd. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah menjadi Sultan Jailolo yang dilakukan di dalam keraton kesultanan Ternate atas prakarsa Sri Sultan Ternate ; H. Mudafar Syah II pada beberapa tahun yang lalu. Yang lebih menarik lagi dari itu adalah menelusuri keturunan dan sisilah para raja Jailolo itu sendiri.


Sekedar info, bahwa beberapa peneliti sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti ; Donald P. Tick gRMK (di Belanda), Christoper Buyers dan Hans Hagerdal hingga saat ini pun belum bisa membuat suatu tulisan atau buku yang membahas tentang jejak sejarah dan sisilah raja-raja Jailolo secara utuh dan mendetail. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sumber dan referensi penunjang dalam merekonstruksi kembali fakta sejarah perjalanan kesultanan Jailolo. Sejauh ini, baru terdapat ahli sejarah ternama dari Universitas Indonesia Prof. DR. Richard Z. Leiriza yang sudah pernah membuat beberapa karya tulis tentang sejarah Raja Jailolo dalam meraih gelar Ph.D tahun 1990 dengan Dissertasi berjudul “Raja Jailolo dan Halmahera Timur: Pergolakan di Laut Seram di awal abad ke-19" (The King of Jailolo and Eastern Halmahera: Social upheavals in the Seram Sea during the early 19th century). Kemudian dipublikasikan oleh Balai Pustaka, tahun 1994.

Buku ini membahas secara detail tentang sepak terjang raja Jailolo yang berkuasa di Halmahera timur dan pulau Seram di Maluku Tengah. (yang menurut periodesasi versi saya adalah periode Kesultanan Jailolo Tahap II dan III saja). Karena yang dibahas oleh beliau adalah “hanya” kejadian atau tempos antara tahun 1811 hingga 1832 saja yang menjadi heavy-nya. Sedangkan kronologis perjalanan sejarah kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano Daradjati” hingga saat ini, belum ada satupun ahli sejarah yang mengungkapkan “the hidden history” tersebut. Namun demikian, karya besar Prof. DR. Richard Z. Leiriza tersebut merupakan sebuah hasil kajian yang spektakuler yang belum pernah ditulis oleh siapapun tentang kronologis secara detail pada periode tersebut.

Memang sumber dan referensi sejarah tentang kesultanan Jailolo sangat minim sekali. Namun dermikian dari ratusan ribu penduduk Maluku Utara yang hidup saat ini, ternyata masih ada yang masih menyimpan dokumen salinan sisilah raja-raja Jailolo, yang ditulis pada selembar “old manuscript”. Sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya diuraikan seperti “pohon terbalik”, satu lembar lagi adalah salinan ulang dalam aksara latin, sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan tentang sisilah tersebut.

Kedua lembar bersejarah ini ditulis dalam aksara Arab dengan tulisan tangan bertanggal 4 Rabbiul awal 1277 H, yang bertepatan dengan hari Rabu tanggal 19 September 1860 yang ditulis oleh Sekretaris kesultanan (Tidore) yang biasa disebut Jurutulis Lamo yang waktu itu dijabat oleh Hasan ud-din. Keterangan ini dilengkapi dan disahkan dengan bubuhan “tanda cap asli” kesultanan Tidore (bakar tempel – bukan tinta). Original paper-nya, saat ini ada di tangan keturunan ke-13 dari SULTAN DOA yang beranak pinak di Soa Sambelo kota Tidore.  Semula, selama hampir seratus tahun lebih daftar sisilah keturunan ini bersemayam di Fola Lamo di Soa Sambelo, Para keturunan ini tersebar dimaNa2 di Maluku Utara, mereka semua meminta dirahasiakan identitas mereka.  Ada yang berdomisili di pulau Tidore (; Soasio-Sambelo, Toloa dan Mareku). Ada juga yang beranak cucu di pulau Moti, pulau Makian dan di Desa Gita dekat Payahe. Ada juga salah satu percabangan yang beranak cucu di Dufa-Dufa Pantai Ternate. Ada juga yang di pulau Seram dan Ambon.

Sebelum Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di mana-mana ini seakan telah menutup diri untuk memikirkan “ke-Jailolo-an” nya.
Bagi mereka itu semua adalah bagian dari masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah dinobatkannya Abdullah Syah bin Abdul Haryanto menjadi “symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik internal antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu.

Kembali pada pembahasan. Dokumen tentang sisilah raja-raja Jailolo ini, jika dilihat dari kacamata historiografi tentang "kesejarahan Jailolo" itu sendiri, dokumen ini adalah sebuah data langka yang sangat dibutuhkan untuk dijadikan salah satu referensi (sumber) dalam studi kajian tentang hal ini. Hampir semua sumber-sumber tentang sejarah yang berghubungan dengan Jailolo yang ada di Leiden Museum Belanda, di Museum di Spanyol, Museum di Swedia, Museum di Inggris, dan dokumen Oxford University dan dokumen digital milik Smithsonian Institute USA, tidak diketemukan dokumen seperti ini.


Sebagai pemerhati budaya, tradisi dan sejarah Maluku Utara, saya sangat berminat untuk studi kajian tentang hal ini. Upaya untuk merekontruksi kembali fakta sejarah tentang sejarah perjalanan kesultanan Jailolo terus saya lakukan dengan menghimpun berbagai sumber tertulis baik di dalam negeri maupun sumber asing. Aspek subjektifitas yang mungkin masih ada pada masing-masing penulis termasuk saya dalam menyajikan artikel saat ini di blog ini, diupayakan untuk diminimalisir sebisa mungkin, agar mencapai sebuah hasil kajian historiografi yang lebih objektif.

Hingga saat ini saya masih sering kontak dan sharing dengan dua orang peneliti sejarah kerajaan2 di Indonesia seperti yang sudah saya sebutkan di atas, yaitu : Donal P. Tick gRMK dan Christoper Buyers termasuk Hans Hagerdal (silakan searching nama-nama ini di Google Search). Mereka banyak menulis tentang seputar kerajaan2 di Indonesia termasuk kerajaan Jailolo di Maluku Utara. Para ahli sejarah ini tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang sisilah raja-raja Jailolo ini, termasuk keinginan mereka untuk meneliti dari mana asal usul dan sisilah dari Abdullah Syah sang sultan Jailolo modern ini, yang menurut penelusuran saya dalam daftar sisilah tersebut adalah mungkin keturunan dari Prins Gugu Alam (adik Sultan Doa yang tidak pernah menjadi Sultan di Jailolo).

Keturunan Prins Gugu Alam ini termasuk Muhammad Arif Bila yang pada era Tidore sedang dipimpin oleh kaka sultan Nuku (Sultan Kamal ud-din) ia menjabat sebagai Jogugu kesultanan Tidore, namun setelah Nuku menggantikan ayahnya dan menjadi Sultan Tidore, ia diangkat menjadi panglima perang kesultanan Tidore yang handal dan pada puncak kekuasaan Nuku, ia dinobatkan oleh Nuku menjadi Sultan Jailolo yang telah lama hilang, karena nenek moyangnya Prins Gugu Alam juga berasal dari Jailolo. Keturunan Muhammad Arif Bila yang anaknya Muhammad Asgar yg kemudian menggantikan ayahnya ini dibuang ke Cianjur oleh Belanda pada tahun 1832.

Untuk kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, baru kesultanan Ternate yang sudah dipublikasikan melalui website “Ternate - Brief History ”, sedangkan untuk kasulrtanan Tidore, Jailolo dan Bacan belum ada.

Setelah sekian banyak komunikasi & sharing dengan kedua peneliti sejarah ini, saya mencocokan dengan salinan “old manuscript” tersebut (lihat gambar), maka terdapat banyak kesamaan. Dengan demikian menurut saya, untuk sementara ini saya menyimpulkan bahwa; Muhammad Arif Billa (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam) adalah keturunan ke-7 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad Arif Billa – Ada beberapa kemiripan nama dalam sisilah ini, namun pada jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Printah. Mereka bertiga adalah anak dari Sultan Yusuf, Sultan Jailolo yang ke-5 yang menjadi Sultan Jailolo di tanah Jailolo sekitar tahun 1500-an.

Menurut sumber ini, Muhamad Arif Billa memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif Billa yakni Syah Yusuf (bukan Sultan Yusuf - kemiripan nama, juga beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di desa Tahane. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Muhammad Arif Billa sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai Sangadji Tahane

Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Billa adalah seorang panglima yang handal.


Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I, tidak semua orang di pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo, lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini (sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera belakang termasuk juga juga di pulau Seram.

Wilayah kesultanan Jailolo sudah dilebur menjadi wilayah Ternate sejak tahun 1635, sedangkan pada masa kekuasaan Sultan Nuku, bekas wilayah kesultanan Jailolo masuk dalam kekuasaan kesultanan Tidore. Menurut beberapa sumber, Muhammad Arif Bila diketahui wafat di daerah Weda pada tahun 1807 karena kecelakaan. Kemungkinan hingga saat ini masih ada makam keramat (Jere) yang masih diziarahi di daerah Weda ini, perlu penelusuran lebih lanjut.

Putera tertuanya Muhammad Asgar diangkat oleh pengikutnya di Halmahera belakang/timur menjadi Sultan Jailolo II, pada periode ke-2 ini. Perlu digaris bawahi bahwa periode kronologis sejarah kesultanan Jailolo Periode I (Kolano Pertama) berawal dari Kolano Daradjat dan berakhir pada masa Sultan Doa saja. (Keturunan Sultan Doa masih tercatat jelas dalam sisilah keturunan ini, mereka tersebar di Maluku Utara, diantaranya\; pulau Tidore – paling banyak, pulau Moti, pulau Makian, pulau Ternate, dsb). Hal ini juga menjadi perhatian kedua peneliti tersebut untuk melakukan penelitiannya nanti di masa yang akan datang.

Pada tahun 1810 Muhamad Asgar ditangkap oleh penguasa Inggris karena Inggris yang sedang berkuasa saat itu tidak mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Kemudian pada tahun 1817 Muhammad Asgar diasingkan ke Semarang dan kemudian dimukimkan agak jauh dari keramaian kota Semarang yakni di sekitar antara daerah Semarang dan Jepara.

Tahun 1825 setelah Belanda kembali berkuasa setelah Inggris, ia dikembalikan lagi ke Maluku Utara dan diangkat oleh penguasa Belanda seperti sebelumnya sebagai Sultan Jailolo dalam pengasingan yakni berkedudukan di pulau Seram Maluku Tengah. Adik Muhammad Asgar yakni Kaicil Haji beserta pengikutnya menyusul ke pulau Seram dan akhirnya diangkat Belanda menjadi Sultan Jailolo III di sana dengan nama Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah. (Sultan Jailolo di pengasingan - Maluku Tengah)

Karena perselisihan dengan pihak Belanda, akhirnya Sultan Jailolo III ini bersama dengan Jogugu Jamaluddin dan Kapita laut Kamadian beserta seluruh keluarga berjumlah 60 orang diasingkan Belanda ke Batavia kemudian ke Cianjur. Tercatat dalam beberapa sumber bahwa beliau wafat pada tahun 1839 di Cianjur Jawa Barat. Dengan demikian, akhirnya eksistensi kesultanan Jailolo Tahap III inipun berakhir. Dan Maloku Kie Raha saat itu hanya tinggal 3 kesultanan saja, yaitu Ternate, Tidore dan Bacan.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa menurut asumsi sementara saya, kemungkinan dari keturunan inilah, penelusuran dilakukan oleh Sri Sultan Ternate saat ini (Mudafar Syah) untuk memilih dan menetapkan Sdr. Abdul Haryanto alias Abdullah Syah menjadi Sultan Jailolo saat ini, adalah berasal dari keturunan di Cianjur ini. Untuk hal ini saya belum sempat melakukan wawancara dengan Sultan Ternate. Selain itu, penunjukan Sultan Jailolo ini juga dilakukan dengan ritual khusus oleh Sultan Mudafar Syah II dan memakan waktu yang cukup lama. (biasanya orang Ternate menyebut Sultan Jailolo dengan sebutan JOU TIA”).

Hal ini tergambar dalam syair lagu yang berjudul “JOU TIA” hasil karya Sultan H. Mudaffar Syah yang dinyanyikan oleh "EL-EL” Vocal Group pada era tahun 1980-an, yang syairnya berbunyi ; ..........................
Upaya untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap IV, pernah dilakukan oleh Dano Baba Hasan pada tahun 1876. Ia meminta pemerintah Belanda mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Menurut beberapa penulis, Dano Baba Hasan adalah kerabat keraton Ternate yang pada tahun 1832 diangkat oleh Sultan Ternate Muhammad Zain menjadi Salahakan (Utusan Sultan) di pulau Seram. Karena mendapat perlawanan dari pihak Belanda yang sedang berkuasa, maka tanggal 21 Juni, Dano Baba Hasan mengakhiri usahanya dan menyerahkan diri kepada Residen Tobias, dan dideportasi ke Ternate dan akhirnya diasingkan ke Muntok di Sumatera. Menurut sisilah tersebut, Dano Baba Hasan adalah cucu dari Abdul Gani, saudara bungsu dari Muhamad Asgar dan Muhamad Hayuddin yang dibuang ke Cianjur tersebut.

Setelah periode untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap IV gagal, Upaya untuk itu dimulai lagi yakni pada periode V dilakukan oleh Dano Jae ud-din di Weda Halmahera Timur pada tahun 1914. Tampilnya seorang Dano dari Ambon yang masih keturunan Dano Baba Hasan mengklaim dirinya sebagai ahli waris, memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Jailolo pada periode Tahap V ini. Ia kemudian ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ternate hingga akhir hayatnya. Demikian berakhir pula usaha untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap V juga gagal.

Perlu digaris-bawahi, bahwa semua upaya untuk menghidupkan kembali eksistensi kesultanan Jailolo dan berkuasanya para Sultan Jailolo pada periode II, III, IV dan V, sama sekali bukan berkedudukan di wilayah kultur kesultanan Jailolo yang sebenarnya (Limau Tagalaya), melainkan di tempat pengasingan di luar wilayah kultur kesultanan Jailolo itu sendiri.

Upaya terakhir untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap VI, maka Sri Sultan Ternate H. Mudafar Syah II mengambil prakarsa untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo yang telah hilang selama ratusan tahun. Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya Maluku Utara sebagai symbol pemersatu bangsa dalam wadah NKRI dan juga dalam rangka untuk melengkapi empat pilar persekutuan kerajaan-kerajaan di “Maloku Kie Raha” yang hanya tinggal tiga, yakni; Ternate, Tidore dan Bacan. Dengan menunjuk Srd. Abdul Rahman Haryanto / Abdullah Syah yang mungkin diyakini oleh beliau menurut penelusuran beliau adalah keturunan Muhammad Asgar dan Kaicil Haji (Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah) yang dibuang oleh Belanda ke Cianjur Jawa barat. Sebab semua masyarakat di Maluku Utara tahu kalau cuma ada tiga pilar/kesultanan saja, itu bukan berarti Maloku Kie Raha lagi, akan tetapi Maloku Kie Ra’ange. (Admin; Raha=empat, Ra’ange=tiga).

Demikian beberapa pointers sharing saya melalui email dengan kedua penulis asing tersebut. Pada kesempatan terakhir via e-mail, Donal P. Tick gRMK, meminta kapada saya gambar/foto diri dari Dano Jae ud-din jikalau ada dokumen tentang itu. Tapi saya rasa sulit untuk mendapatkan gambar tentang Dano Jae ud-din yang mereka maksud. Beliau tertarik untuk meneliti pula tentang keturunan dari Dano Jae ud-din ini kalau masih ada, kata Donal P. Tick gRMK :

Interesting about the descendant of Dano Baba Hasan with name Dano Jae ud-din, who was regarded as dynastychief / heir in 1914. Do you know more about him ? A picture of him would be fascinating. I also would like to know, if the present Sultan is taken very seriously. Some say he is only a creation of Sultan Ternate”. Thank you for all. If you want, you can add some info under the picture of Sultan Jailolo on my website at : http://kerajaan-indonesia.blogspot.com/

Namun sayangnya, pada event SOUTH EAST ASIA ROYAL FESTIVAL di Bali pada tanggal 25-30 November 2008 yang lalu Donal P. Tick gRMK tidak sempat hadir karena ada mega proyek yang tidak boleh ditinggalkan di Belanda, sehingga rencana kami untuk bertemu muka juga tidak terlaksana. Hal ini sehubungan dengan minat kedua peneliti ini untuk mengungkap apa yang mereka sebut ”The Hidden History of Jailolo” .

Sources :
1. Forrest, Thomas. 1780 (1779) A Voyage to New Guinea and the Moluccas, from Blambangan ; Including an Account of Mangindanao, Sooloo, and Other islands; and Illustrated with Thirty Copperplates. Performed in the Tartar Galley, Belonging to the Honourable East India Company, During the years 1774, 1775 and 1776. 2nd Edition. J. Donaldson, G. Robinson and J. Bell.

2. Royal Ark Website, by ; Christoper Buyers
3. Old Manusscript, Personal document from the descendants of Sultan Doa at Ternate Island.
4. Some Contribution and some descriptions from Mr. Donald P. Tick gRMK, based on the source from the list of the genealogy Jailolo Sultanate, the collection Coolhaas in the Nationaal Archief in Den Haag / the Netherlands.
Source of information is almost the same as the list of genealogy of the descendants it Ternate island today. (see it on the picture).
=Sumber tambahan adalah dari kontribusi dan beberapa penjelasan dari Bapak D.P. Tick gRMK, di Hoillad Belanda berdasarkan sumber dari daftar yang silsilah Kesultanan Jailolo, koleksi Coolhaas dalam Nationaal Archief di Den Haag / Belanda. Sumber informasi tersebut hampir sama dengan daftar silsilah dari keturunan Sultan Doa yang ada di pulau Ternat. (lihat pada gambar).


==================================================================
Bahasan tentang hal ini belum pernah dipublikasikan & dibahas oleh siapapun sebelumnya, dan hanya ada di blog ini……

Pernyataan di atas adalah bentuk “klaim” atas “the value of my personal study of history” dari saya selaku penulis artikel. Tidak dilarang “mengutip” semua isi artikel ini…..! Semoga tulisan ini menjadi pemicu kepada semua kalangan yang ingin melakukan “penelitian lanjutan" di masa yang akan datang. Ditunggu tanggapan-tanggapannya, baik “destruktif” maupun “konstruktif”, untuk kesempurnaan, silakan masukan di bawah artikel ini….. Terima kasih…..!

Cibubur, 20 Maret 2009