Syair Peringatan Hari Santri

Syair Peringatan Hari Santri

( صلاة الله سلام الله -على طه رسول الله)
(صلاة الله سلام الله - على يس حبيب الله )

1~
Mari Asar ,Ngaji "Alquran"
Alif,Bak,Tak,Aran "Turutan"
Budal bareng,nang sekolahan,.
Nnganggo Sarung,ugo Kuplukan.

2~
Madrasahe aran "Diniyyah",
Ngaji "Shorof" lan "Jurumiyah",
Guru²ne do nganggo kopyah,
Sregep khidmah pingin Barokah.
3~
Budal mondok,budal nyantri.
Karo Bapak,Sowan Kiyai.
Ngliwet dewe,iwake Teri,
Sing mangan limo,ajange siji.
4~
Ngajine Guru arane,"Balah"
Lek wes "Sorogan",ra iso "Silah".
Ngaji "Bandongan" tan Soyo Berkah.
Sholat Jamaah 'du Istiqomah.
5~
Apalane,"Nadzom Imrithy"
"Alfiyahe" yo kudu "Titi"
Nang "Tirakate",yo Kudu "Gati"
Pamit moleh nikah "mbak Santri".
6~
22 oktober,"HARI SANTRI"
"Kitab Kuning" ngajine Santri
Sholawatan kegyatane Santri
"Nahdlotul Ulama' Omahe Santri"

Monggo di viralkan..

Sejarah Berdirinya Pesantren Jawa Barat

السلام عليكم.

SEJARAH BERDIRINYA PESANTREN:
Khususnya provinsi jawa barat
1. Tahun 1418 berdiri Pesantren Syekh Quro.
Karawang
2. Tahun 1420 berdiri Pesantren Pasambangan
Cirebon oleh Syekh Datul Kahfi atau Syekh
Nurjati
3. Tahun 1456 berdiri Pesantren Jalagrahan
Cirebon Girang oleh Walangsungsang alias
Ki Samadulah alias Haji Abdullah Iman alias
Cakrabuana alias Ki Kuwu Sangkan alias Ki
Kuwu Manggana
4. Tahun 1500 berdiri Pesantren Godog
Karangpawitan Limbangan Garut oleh
Sunan Rohmat Suci Godog alias Gagak
Lumayung alias Galantang Setra alias Kian
Santang alias Sunan Bidayah
5. Tahun 1520 berdiri Pesantren Sang
Ciptarasa oleh Syarif Hidayatullah alias
Sunan Gunung Djati
6. Tahun 1715 berdiri Pesantren Babakan
Ciwaringin Cirebon oleh Ki Jatira alias
Syekh Hasanuddin
7. Tahun 1749 berdiri Pesantren Al-Falah Biru
Singguru Samarang Garut oleh Syekh Fatah
Rohmatulloh bin Dewi Ratu Biru binti Sultan
Maulana Hasanuddin Banten bin Syarif
Hidayatullah Cirebon
8. Tahun 1785 berdiri Pesantren Buntet
Cirebon oleh Mbah Muqoyyim
9. Tahun 1810 berdiri Pesantren Gentur Cianjur oleh Tubagus Ahmad Haq Nuh
10. Tahun 1809 berdiri Pesantren Beunteur Banjar
11. Tahun 1847 berdiri Pesantren Asyrofuddin Congeang Sumedang
12. Tahun 1887 berdiri Pesantren Keresek Garut
13. Tahun 1894 berdiri Pesantren Darul Falah Jambudipa Cianjur
14. Tahun 1897 berdiri Pesantren Kandang Sapi Cianjur
15. Tahun 1905 berdiri Pesantren Suryalaya Pagerageung Tasikmalaya
16. Tahun 1911 berdiri Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Banjar, Pesantren Sempur Purwakarta oleh Kyai Tubagus Bakri Banten.
17. Tahun 1913 berdiri Pesantren Darul Ulum Ciamis
18. Tahun 1917 berdiri Pesantren Cintawana Tasikmalaya
19. Tahun 1910 berdiri Pesantren Pagelaran I Cimeuhmal Subang
20. Tahun 1920 berdiri Pesantren Pagelaran 2 Cimalaka Sumedang
21. Tahun 1922 berdiri Pesantren Sukahideng Sukarame Tasikmalaya, Pesantren Genteng Sukabumi, Pesantren Baitul Arqom Soreang Bandung
22. Tahun 1927 berdiri Pesantren Sukamanah Sukarame Tasikmalaya
23. Tahun 1929 berdiri Pesantren Darussalam Cidewa Ciamis
24. Tahun 1920 berdiri Pesantren Bahrul Ulum Awipari Cibeureum Kota Tasikmalaya oleh KH Busthomi
25. Tahun 1931 berdiri Pesantren Cipasung Singaparna Tasikmalaya, Pesantren Cipari Garut, Pesantren Sindangsari Al-Jawami Cileunyi Bandung
26. Tahun 1934 berdiri Pesantren Syamsul Ulum Gunung Puyuh Sukabumi, Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Bandung
27. Tahun 1935 berdiri Pesantren Cijantung Ciamis
28. Tahun 1936 berdiri Pesantren Persis Pajagalan Bandung
29. Tahun 1939 berdiri Pesantren Darussalam Garut
30. Tahun 1940 berdiri Pesantren Miftahul Khoer Ciamis
31. Tahun 1943 berdiri Pesantren Al Fadlilah Ciamis
32. Tahun 1961 berdiri Pesantren Pagelaran 3 Cisalak Gardusayang Sukakerti Subang
33. Tahun 1967 berdiri Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya
Dari pesantren semua berawal
Dari pesantren jutaan pejuang lahir
Dari pesantren para pemimpin tampil
Dari pesantren kedaulatan ummat terbangun
Kami bangga dng pesantren
Kami siap melanjutkan amanah para ulama
Selama pesantren masih lestari harapan indonesia ke arah yg lebih baik masih ada.
#BanggaJdSantri

#SavePesantren

SELAMAT MENYONGSONG HARI SANTRI NASIONAL 22 OKTOBER 2018

15 PESAN KYAI UNTUK HARI SANTRI

15 PESAN KYAI UNTUK HARI SANTRI

1) Santri kudu kuat tirakat.
Santri harus kuat tirakat; puasa, wiridan, belajar dan sebagainya.
2) Ono santri gak kelar noto Jama'ahe, ngunu wes pingin rabi. Gak kiro kelar noto bojone.
Ada santri tidak mampu menata (istiqomah dan tepat waktu) sholat berjma'ah. Eh, yang model begitu kok kebelet menikah. Nanti, ia tak mampu menata isterinya.
3) Santri kudu nyatet mlebu metune duike, sampek tuku weci cateten.
Santri harus mencatat keluar-masuknya uang, bahkan uang yang dibuat beli kue harus dicatat.
4) Santri ojo mikir dunyo. Dunyo ga' melok nduwe kok di pikir. Dunyo tek gusti Allah.
Santri tidak usah memikirkan dunia/harta. Kita tidak ikut memiliki, untuk apa ikut memikirkan. Dunia ini milik Allah.
5) Santri sing jatu olene nyekel ilmu.
Santri harus teguh memegang ilmu yg sudah dipelajarinya.
6) Sing kudu iso ngelakoni ajarane Rasulullah yoiku santri, contone salam.
Seharusnya yang paling bisa menjalankan ajaran dan sunnah Rasulullah adalah santri, seperti kesunahan mengucap salam.
7) Dadio santri temenan. Ojo dadi santri, ngaji sukur ngaji, ibadah sukur ibadah.
Jadilah santri sejati! Jangan menjadi santri yang saat mengaji dan beribadah asal-asalan.
8 Santri sing ora kerasan nog pondok; kudu metu ae, wocoen surat Kahfi.
Santri yang tidak betah di pondok; ingin keluar terus, bacalah surat Al-Kahfi.
9) Lek mondok sing menisan. Koyo' toh awakmu nyemplung kolam. Lekne nyemplung kolam, menisan nyemplung kabeh.
Kalau mondok harus secara kaffah. Persis seperti kamu masuk ke kolam, sekalian menyelam.
10) Santri lek kepingin opo-opo, kudu kuat silo.
Bila santri ingin apapun, harus kuat duduk bersila (wiridan).
11) Santri ojo' boyong sakdurunge dadi wong bagus
Santri, jangan berhenti dari pondok sebelum kamu menjadi orang yang berkelakuan baik.
12) Santri dalam urusan ibadah harus lebih sempurna dari yang lainnya.
13) Lek ono arek genda'i arek wedok utowo arek wedok genda'i arek lanang, ganok arek sing lewih gendeng teko arek iku.
Kalau ada santri putera berpacaran dengan santri puteri atau sebaliknya, maka tak ada santri yang lebih gila dari itu.
14) Santri iku koyo' parutane klopo, lek wes kepepet, diperes metu santene.
Santri ibarat hasil parutan kelapa. Saat terdesak, bila diperas keluar santannya.
15) Lek wung tuwone loro, gak usah pamit muleh. Lungguh madep ngulon, moco yasin 41X.
Kalau orang tua sakit, santri tidak usah pamit pulang (menjenguk orang tua). Cukup duduk bersila menghadap ke barat dan baca yasin 41X.

Santri

SANTRI

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa santri itu tidak hanya orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab. Namun, santri adalah orang-orang yang ikut kiai dan setuju dengan pemikiran serta turut dalam perjuangan kaum santri. Santri merupakan orang meneladani para kiai.

“Santri adalah orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut pada kiai, itu dianggap sebagai santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para santri,”

Menurut Kiai Ma’ruf, para santri itu bisa tinggal dimana saja. Ada yang tinggal di pondok di pesantren, ada pula yang sesekali ke pesantren atau disebut santri kalong, ada juga santri yang sekali-kali saja datang bertemu kiai dan santri. “Pokoknya, santri itu ikut kiailah. Karena itu dia mencakup hampir semua lapisan masyarakat,” tuturnya.

Sementara, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa santri adalah umat yang menerima ajaran-ajaran Islam dari para kiai. Para kiai itu belajar Islam dari guru-gurunya yang terhubung sampai Rasulullah SAW. Selain berakhlakul karimah, santri juga menjunjung tinggi budaya. Bahkan, menjadikan budaya tersebut sebagai infrastruktur agama.

“Santri itu jelas, adalah orang-orang yang menindaklanjuti dakwah dengan budaya seperti yang dilakukan Wali Songo. Dakwah seperti itu yang jelas ampuh, efektif,” ucapnya.

Berdakwah melalui budaya, lanjut Kiai Said, terbukti dalam sejarah berhasil mengislamkan Nusantara tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Bahkan raja-raja Nusantara itu menjadi Islam. “Kita saksikan sekarang, dakwah yang manfaat, dakwah yang lestari, masuk sampai dalam hati, adalah dakwah yang dilakukan secara budaya, bukan dengan teror dan menakut-nakuti. Islam diajarkan dengan menakut-nakuti tidak akan masuk ke dalam hati. Imannya hanya pengakuan bibir belaka sehingga menjadikan potensi munafik, tapi kalau berdakwah dengan budaya, iman masuk ke dalam hati, sehingga akan menjadi mukmin kholis (ikhlas),” terangnya.

Tetap Santri

Seumur hidup tetap santri.

Membaca Majalah Tempo minggu ini, saya tertarik kolom wawancara dengan Menag Lukman Hakim. Ada 2 kalimat yang saya garis bawahi dari hasil wawancara itu. Bukan tema persoalan Radikalisme dan penambahan quota haji tahun ini, melainkan tentang akhlak sang menteri.

Kalimat pertama menyebutkan kalo sang menteri menolak berpose dengan memakai sorban yang akan dipakai sebagai cover halaman. Alasannya karena ia belum pantas menggenakan sorban yang biasa digunakan ulama.

Beberapa hari yang lalu, ketika sowan ke Gus mus, Lukman juga tidak segan menuangkan minuman ke gelas Gus Mus. Walaupun ia datang sebagai tamu.

Pada tahun 1999, ketika baru diangkat sebagai Presiden, Gus Dur sowan kepada MbahAbdullah salam Kajen. Tanpa sungkan, presiden saat itu lewat pintu samping yang biasa digunakan para santri untuk masuk ke ndalem Kyai.

Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa setinggi apapun jabatan seseorang di negeri ini tidak akan melupakn takdir awalnya sebagai santri. Bahkan walaupun ketika santri itu sudah mempunyai pondok pesantren dan memiliki ribuan santri yang diasuhnya. Seperti KH Abdullah Kafabihi Mahrus salah satu pengasuh Ponpes Lirboyo yang dengan takdim mencium tangan gurunya KH Dimyati Rois Kaliwungu. Saat Mvah Dim berkunjung ke Liribyo beberapa waktu yang lalu.

Ia tetap tawaduk kepada guru yang pernah mengasuhnya, kepada mereka yang selalu mendoakan siang dan malam untuk keberhasilan santrinya. Kepada mereka inilah kita dapat mengambil hikmahnya, bukan ?

Islam NUsantara dan Arabisasi

Islam Nusantara Melindungi Islam dari Arabisasi ( an Nadj ).

Disinyalir ada upaya besar untuk menggembosi ormas terbesar di Indonesia dan penggiringan opini seolah-olah Nahdlatul Ulama itu sesat dan menyesatkan.

Mawlana Habib Lutfi bin Yahya Berkata :
Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU.
Padahal negara muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun.

Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Tragisnya, bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU.

Tidak dipungkiri gagasan “Islam Nusantara” bisa menjadi magnet besar dalam membangun besarnya kekuatan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan oleh media-media pembenci NU, itu dijadikan lahan untuk menghancurkan NU dari dalam seolah-olah NU telah diboncengi oleh Liberal, Syiah, dan Wahabi. Padahal telah jelas dan disepakati oleh ribuan ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren serta majelis ta’lim di seluruh Indonesia bahwa tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang adalah “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.

Cukup menjadi pelajaran berharga dari Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Mesir, Somalia dan negara-negara muslim yang menjadi sasaran konflik antar umat Islam karena tidak adanya persatuan diantara mereka.

Kita tidak menginginkan Indonesia seperti mereka, berapa juta umat Islam yang mati mengenaskan akibat konflik di negara-negara tersebut ?

Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar Islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya.

Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.
Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasuth (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.

Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun.

Menurut Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Rais Syuriah PBNU Pusat menjelaskan, “Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para wali-wali dulu.”

Beliau melanjutkan, “Islam di belahan bumi Indonesia itu punya karakteristik sendiri yang unik,. Kalau saja wali songo itu tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti sekarang ini,”.

Beliau berpesan bahwa inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga NKRI ini, itulah mengapa dalam setiap ceramah beliau akhir-akhir ini sering membahas tentang upaya mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.

Indonesia itu menurut beliau, tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua. Intinya cuma satu: memecah belah NKRI.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan sebuah analogi tentang bagaimana menjadi muslim yang baik di bumi Indonesia, “Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk,”.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam laut pun juga demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.

“Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh konkrit. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan enggak bakal ruwet,” begitulah penjelasan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.

Rais Am Syuriah PBNU Pusat Dr. HC. KH. Ahmad Musthofa Bisri menjelaskan, “Kalau Islam diidentikkan dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai sorban dan jubah. tentu ketika kita memakai jubah dan sorban semata mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, bukan mengikuti budaya Arab.”

Lebih lanjut Mustasyar PBNU Pusat Syaikhuna wa Murobbi Rukhina KH. Maimun Zubair menjelaskan. “Bangsa Arab itu mulia karena adanya Islam, maka Indonesia pun akan mulia dengan adanya Islam”.

Saat ini negara-negara Muslim di dunia sedang melirik Islam di Indonesia, mereka manyatakan diri perlu belajar banyak dari Indonesia, bagaimana bisa negara besar dengan berbagai suku, agama, ras, adat istiadat bisa damai dan tentram tanpa ada konflik horizontal berkepanjangan ?

Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman..

Moga manfaat
( PIN .107)

Rangkuman Dasar Aswaja

*RANGKUMAN DASAR SINGKAT ASWAJA*

Ciri khusus dari ajaran Aswaja berporos pada tiga ajaran pokok dalam Islam, yang meliputi bidang:

*(Akidah)*
Mengikut: -Imam Abu Hasan al-‘Asy’ari
                   -Imam Abu Mansur al-Maturidi.

*(Fikih)*
Mengikut:  Imam Hanafi
                    Imam Maliki
                    Imam Syafi’i
                    Imam Hambali.

*(Tasawuf)*
Mengikut: Imam Abu Hamid al-Ghazali
                   Imam Al-Juwaini al-Baghdadi.

Karakteristik dasar sebagai doktrin Ahlus-sunnah wal Jama'ah:

*1.Fikrah tawassuthiyyah*
(pola pikir moderat), artinya senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan iktidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. Tidak berlebih-lebihan.

*2.Fikrah tasamuhiyah*
(pola pikir toleran), artinya dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun akidah, cara pikir, dan budayanya berbeda

*3.Fikrah Ishlahiyyah*
(pola pikir reformatif), artinya senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah)

*4.Fikrah tathowwuriyah* (pola pikir dinamis), artinya senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan

*5.Fikrah manhajiyah*
(pola pikir metodologis), artinya  senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhajiyah yang telah ditetapkan oleh ulama salafus sholihin.

NGUDHI SUSILA

“NGUDHI SUSILA” SYAIR KARYA BISRI MUSTHOFA¹ DALAM BAHASA JAWA

بسم الله الرحمن الرحيم
صلاة الله مالاحت كواكب
علي احمد خير من ركب النجاءب
(Shalaatullaahi maa laahat kawaakib
  ‘alaa Ahmad khoiri mar-rakiban-najaa-ib).
1. Iki syiir kanggo bocah lanang wadon
Nebihaken tingkah laku ingkang awon
2. Serta nerangake budi kang prayoga
Kanggo dalan padha mlebu ing suwarga
3. Bocah iku wiwit umur pitung tahun
Kudu ajar thatha keben ora getun
4. Kudu tresna maring ibune kang ngrumati
Kawit cilik marang bapa kang gemati
5. Ibu bapa rewangana lamon repot
Aja kaya wong gemagus ingkang wangkot
6. Lamon ibu bapa prentah enggal tandang
Aja bantah aja sengol aja mampang
7. Andap asor ing wong tua najan liya
Tetepana aja kaya raja kaya
8. Gunem alus alon lirih ingkang terang
Aja kasar aja misuh kaya bujang
9. Yen wong tua lenggah ngisor sira aja
Pisan lungguh duwur kaya jama juja
10. Yen wong tua sare aja geger guyon
Lamon sira nuju maca kudu alon
11. Lamon sira liwat ana ing ngarepe
Kudu nyuwun amit serta depe depe
12. Lamon ibu bapa duka becik meneng
Aja melu padon uga aja nggreneng
A. Bab Ambagi Wektu
13. Dadi bocah kudu ajar bagi Zaman
Aja pijer dolan nganti lali mangan
14. Yen wayahe Shalat aja tunggu prentah
Enggal tandang cekat ceket aja wegah
15. Wayah ngaji wayah sekolah sinau
Kabeh mau gathekake kelawan tuhu
16. Kenthong subuh enggal tangi nuli adus
Wudhu nuli shalat khusyuk ingkang bagus
17. Rampung shalat tandang gawe apa bae
Kang prayoga kaya nyaponi umahe
18. Lamon ora iya maca-maca Qur’an
Najan namung sitik dadiya wiridan
19. Budal ngaji awan bengi sekabehe
Thatha krama lan adabe padha bae
B. Bab Ing pamulangan
20. Lamon arep budal menyang pamulangan
Thatha-thatha ingkang rajin kang resikan
21. Nuli pamit ibu bapa kanthi salam
Jawab ibu bapa ‘alaikum salam
22. Disangoni akeh sithik kudu trima
Supaya ing tembe dadi wong utama
23. Ana pamulangan kudu tansah gathi
Nampa pawulangan ilmu kang wigati
24. Ana kelas aja ngantuk aja guyon
Wayah ngaso kena aja nemen guyon
25. Karo kanca aja bengis aja judes
Mundak diwadani kanca ora waras
C. Mulih saking Pamulangan
26. Bubar saking pamulangan enggal mulih
Aja mumpar-mampir dolan selak ngelih
27. Tekan omah nuli salin sandangane
Kudu pernah rajin rapi aturane
D. Ono ing ngomah
28. Karo dulur kanca ingkang rukun bagus
Aja kaya kucing belang rebut tikus
29. Dadi tua kudu weruha ing sepuhe
Dadi enom kudu rumangsa bocahe
30. Lamon bapa alim pangkat sugih jaya
Sira aja kumalungkung maring wong liya
31. Pangkat gampang minggat sugih kena mulih
Alim iku gampang uwah molah-malih
32. Arikala sira madhep ring wong liya
Kudu ajer aja mrengut kaya baya
E. Karo Guru
33. Marang guru kudu tuhu lan ngebakti
Sekabehe printah bagus dituruti
34. Piwulange ngertenana kanthi ngudi
Nasihate tetepana ingkang merdi
35. Larangane tebihana kanthi yekti
Supaya ing tembe sira dadi mukti
F. Ana Tamu
36. Tatkalane ibu rama nampa tamu
Aja biyayakan tingkah polahamu.
37. Aja nyuwun duwit wedhang lan panganan
Rewel beka kaya ora tau mangan
38. Lamon butuh kudu sabar dhisik
Nganti tamu mundur dadi sira becik
39. Arikala padha bubaran tamune
Aja nuli rerebutan turahane
40. Kaya keting rerebutan najis tiba
Gawe malu lamon dideleng wong jaba
41. Kejaba yen bapa dhawuh he anakku
Iku turahe wong ngalim kiyai-ku
42. Bagi rata sakdulurmu keben kabeh
Ketularan Alim, sugih bangha akeh
43. Niat ira nuprih berkahe wong mulya
Ora niat rebut turahe wong liya
G. Sikap lan lagak
44. Anak Islam iki mangsa kudu awas.
Aja nganthi lena mengko mundak tiwas
45. Luru ilmu iku perlu nanging budi
Adab Islam kudu tansah dipersudi
46. Akeh bocah pinter nanging ora bagus
Budhi pekertine sebab da gembagus
47. Ring wong tua gak ngergani gak ngajeni
Sajak pinter dewe langka kang madhani
48. Jare iku caranepun sak punika
Ora ngana dudu antelik merdeka
49. Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng
Jare ora kebangsaan ingkang majeng
50. Sawang iku pengeran Dipanegara
Imam bonjol Tengku Umar kang kuncara
51. Kabeh padha bela bangsa lan negara
Padha ngagem destar pantes yen perwira
52. Gujeng serban sasat gujeng Imam bonjol
Sak kancane he anakku aja tolol
53. Timbang gundhul apa ora luwih apik bagus
Ngagem tutup sirah kaya raden bagus
54. Kala-kala pamer rambut sak karepmu
Nanging kudu eling papan sesrawunganmu
55. kumpul mudha beda karo pul Kyai-ne
Nuju shalat gak padha mlancong nujune
56. Ora nuli mlancong gundhul shalat gundhul
Sowan mara tuwa gundhul nguyuh gundhul
H. Cita-cita luhur.
57. Anak Islam kudu cita-cita luhur
Keben dunya akhirate bisa makmur
58. Cukup ilmu umume lan agamane
Cukup dunya kanthi bekti pangerane
59. Bisa mimpin sakdulure lan bangsane
Tumuju ring raharja lan kamulyane
60. Iku kabeh ora gampang leksanane
Lamon ora kawit cilik tak-citane
61. Cita-cita kudu dikanthi gumergut
Ngudhi ilmu sarta pakerti kang patut
62. Kita iki bakal tininggal wong tuwa
Ora kena ora kita mesthi nuwa
63. Lamon kita padha katekan sejane
Ora liwat sira kabeh pemimpine
64. Negaramu butuh menteri butuh mufti
Butuh kadi, patih, setten lan bupati
65. Butuh dokter, butuh Mister ingkang pinter
ilmu agama kang nuntun laku bener
66. Butuh guru lan Kyai kang linangkung
Melu ngatur negarane ora ketung
67. Iku kabeh sapa maneh kang ngayai
Lamon ora anak kita kang nyaguhi
68. Kejaba yen sira kabeh ridho mbuntut
Selawase angon wedhus nyekel pecut
69. Sira ridho nggocik cikar selamine
Kafir ira mentul-mentul lungguhane.
70. Ora sela angon wedhus numpak cikar
Asal cita-cita ilmu bisa nenggar
71. Nabi kita kala timur pangon mendha
Ing tembene pangon jalma kang sembada
72. Abu bakar sidik iku bakul masar
Nanging nata masyarakat ora sasar
73. Ali Abu Thalib bakul kayu bakar
Nanging tangkas yen dadi paglima besar
74. Wahid Hasyim santri pondok gak sekolah
Dadi mentri karo liyan ora kalah
75. Kabeh mau gumantung ing seja luhur
Kanthi ngudi ilmu sarta laku jujur
76. Tekan kene pungkasane Syi’ir iki
Larikane wolung puluh kurang siji
77. Muga-muga sejja kita sinembadan
Dening Allah ingkang nurunake udan
78. Pinaringan taufiq sarta hidayah
Dunya akhirate sehat wal ‘afiyah.
79. Amin amin amin amin amin amin
Falhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
آمين آمين آمين آمين آمين آمين
  فالحمد لله رب العالمين
___________

¹Bisri Musthofa, Syi’ir Ngudhi Susila, Rembang,

Cerita Traumatik


Sebuah ingatan buruk masa kecil, ketika takbir diteriakkan sambil mengintimidasi bahkan sambil membunuh meninggalkan kesan yang sangat mengerikan bagi saya.


Tahun 2000 adalah periode paling kelam di kampung saya, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Saat itu jadi pemandangan biasa ketika takbir dipekikkan sembari menenteng parang dan tombak.

Saya yang masih kelas 3 SD saat itu, mengingat selalu dua truk melintas di depan sekolah saya. Truk-truk itu mengangkut penuh rombongan. Semuanya laki-laki. Di pinggangnya diselipkan parang panjang. Ada pula yang membawa tombak.
Di luar kelas, saya mendengar guru saya menyebut seseorang baru saja dibunuh tadi subuh. Cerita ini melengkapi cerita-cerita horor di kampung lain. Keluarga di kampung seberang mengungsi ke rumah saya. Mereka membawa ternak dan keluarganya.

Saya masih bocah dan satu-satunya yang saya ingat adalah situasi mencekam. Suatu waktu, saya lari ketakutan melewati hutan bersama sepupu saya saat pulang sekolah karena takut amukan massa. Sekolah sempat diliburkan karena konflik berdarah saat itu.

Dua buah paragraf di atas bukan cerita fiktif. Memang bukan cerita besar—karena tak berhasil membesar—yang patut ditulis di buku sejarah. Namun peristwa itu meninggalkan trauma di ingatan saya tentang orang-orang yang menyebut dirinya hendak menegakkan agama tauhid dengan parang dan tombak.

Warga menyebut mereka yang suka teriak takbir ketika melakukan aksinya ini dengan istilah “massa”, seperti sekumpulan orang yang merasa perlu untuk memberantas praktik-praktik yang disebutnya wujud kesyirikan dengan cara memaksa. Satu fenomena yang rupanya kini menjadi ramai kembali dan memaksa ingatan saya berkelebat ke peristiwa 18 tahun lalu itu.
Mereka—dengan membawa parang dan berteriak takbir—ingin memusnahkan tradisi orang-orang kampung. Tempat-tempat yang disakralkan atau tempat-tempat yang sering dijadikan tempat judi dan minum tuak disisir. Rumah-rumah yang dianggap di dalamnya terdapat benda-benda yang dianggap menyekutukan Allah didatangi dan dibongkar paksa. Bagi mereka kebiasaan itu adalah sikap jahiliyah yang harus dibinasakan.

Mereka dipimpin oleh ustaz-ustaz yang mengaku mewakili Allah dengan selalu meneriakkan takbir hendak menegakkan syariat di daerah saya. Rombongan mereka inilah yang disebut oleh orang-orang kampung saya dengan sebutan; “massa”. Saya tidak tahu kalau mereka punya nama sendiri secara spesifik—saya tidak begitu ingat.

Pada akhirnya, mereka yang masih suka bawa makanan ke sungai, ke pohon besar, menaruh benda-benda aneh di rumah jadi sasaran. Selain itu mereka menyasar penjudi, peminum ballo atau tuak, dan pencuri.

Tersebutlah seorang di kampung—sebut saja Pung Ck—yang disebut-sebut sebagai pimpinan pencuri.
Pencuri bagi mereka ya juga penjudi dan peminum ballo/tuak. Pung Ck dipanggil menghadap. Namun pada suatu hari rombongan massa mendatangi rumahnya. Pung Ck dikepung di rumah panggungnya. Massa menombaknya dari kolong rumah. Tak kena. Pung Ck naik ke timpa’ laja’ (Bugis Sinjai: bagian atas rumah kayu) dan masih belum roboh.


Singkat cerita, massa berhasil membunuhnya di samping rumah. Pekik takbir menggema, seperti sebuah teriakan kemenangan.
Usai meninggalnya Pung Ck dengan pekik takbir itu, massa makin gencar mendatangi satu per satu rumah warga. Setiap warga disisir untuk diceramahi dan tentu tak boleh membantah. Mereka mengajak (kalau tak mau pakai kata “memaksa”) bergabung, orang-orang yang diajak ini kemudian diklaim telah “diinsyafkannya”. Dan berhasil. Beberapa orang bergabung dan kekuatan mereka makin besar. Mereka pun semakin percaya diri untuk bertindak.
Merasa sudah di atas angin, mereka makin sewenang-sewenang. Mereka datang ke pasar-pasar. Sasaran mereka adalah ibu-ibu yang tidak berjilbab. Saat itu jilbab belum seheboh sekarang. Yah, namanya ibu-ibu di kampung-kampung, tentu kamu juga tahu kalau nggak semua dari mereka pakai jilbab.

Sayangnya, massa yang makin merasa berkuasa ini tak hanya mengajak, tapi memaksa bahkan memukul. Ya, mereka sampai berani memukul perempuan karena persoalan jilbab. Maka ketika hari pasar tiba dan para perempuan menyadari kedatangan mereka, sudah jadi pemandangan biasa kalau siapa pun yang perempuan akan lari terbirit-birit. Yang tidak berjilbab mengambil begitu saja jilbab yang sedang dipajang penjualnya.
Namun tidak semua rela menerima perlakuan seperti itu. Di Lambari, warga yang marah dan tidak terima perlakuan massa mengepung rumah seorang warga yang bergabung dengan massa. Lalu parang tertebas, jari-jari anggota massa itu dipotong, isi perutnya terburai. Beruntung istri dan anaknya masih sempat melarikan diri dari amukan warga saat itu.
Kalau pulang kampung, saya biasa melewati rumahnya yang kini tak berpenghuni. Ingatan saya selalu mengenang peristiwa itu. Dan saya menjadi mual dan ngeri sendiri.

Massa juga mendapat perlawanan di kampung sebelahnya, Kampung Pakokko namanya. Di sana mereka tertahan oleh warga yang sudah siaga. Salah seorang di antara massa terkena tebasan parang. Situasinya benar-benar seperti perang.
“Beruntung mereka tidak menghadapi tentara yang sudah bersiaga,” kata kakak saya ketika saya mencoba menanyakan detail peristiwa belasan tahun lalu itu.
Tentara tentu punya berhak mengambil tindakan ketika menghadapi kelompok yang suka memaksa dan bertindak kelewat batas.

Konflik akhirnya mereda setelah Brimob diterjunkan. Masing-masing ada satu korban dari massa dan warga yang tewas karena konflik berdarah atas nama penegakan syariat ini. Setelahnya tak lagi pernah terjadi konflik serupa sampai kini—semoga sampai seterusnya.
Kampung saya mulai kondusif. Massa mulai pergi tetapi tidak dengan trauma. Sebuah ingatan buruk bagaimana nama-nama Tuhan diteriakkan sambil mengintimidasi, menakut-nakuti, dan bahkan membunuh benar-benar jadi kenangan buruk bagi saya.
Setelah mereka membuat kekacauan, beberapa tahun sesudahnya ya sama saja. Kembali seperti dahulu: yang judi tetap judi, yang minum tetap minum, yang korupsi ya tetap korupsi, yang bawa sesajen ke tempat-tempat tertentu kembali lagi.
Hal seperti ini sebenarnya menunjukkan sesuatu: seorang mungkin bisa diubah penampilan dan kebiasannya, namun dalam jika perubahan itu bentuknya paksaan maka tidak akan ada hati yang tergerak berubah. Karena semua berubah cuma satu alasan saja, yakni takut.
Sampai sekarang masih ada yang tetap selamatan. Apakah mereka benar-benar menyekutukan Allah? Saya tak tahu pasti. Namun yang ingin saya tanyakan, apakah orang-orang ini pernah mencoba dialog langsung terlebih dahulu sebelum memaksakan kehendaknya?

Saat ini tak sedikit anak muda yang datang ke kota untuk kuliah. Tak sedikit tentu yang ikut kajian entah di teras masjid, di kelas, atau di beranda Facebook. Beberapa di antaranya menjadi suka mudah menuduh sesat, syirik, dan bidah. Mereka pun pulang kampung dengan perasaan telah menemukan kebenaran Islam yang murni lalu mencoba membenarkan kampung mereka.

Tanpa petantang-petenteng, mereka langsung mencap orang lain musik eh musyrik, kafir, calon penghuni kerak neraka tanpa mau lebih dulu untuk berdialog mendekati warga yang kadung dianggap musyrik itu.
Saya jadi bertanya, bukankah para Wali Songo dahulu tidak melakukan praktik demikian? Yang namanya tradisi akan sulit mereka ubah. Kalaupun berhasil diubah secara kasat mata, belum tentu berubah hatinya. Seperti di daerah saya, para ulama biasanya dengan sabar mengubah maksud sesajen dari dalam, niatnya yang diluruskan, bukan wujud kasatnya.

Jika sesaji tadinya untuk jin atau makhluk gaib, diubah jadi diniatkan untuk Allah, lalu hasilnya dimakan bersama-sama. Tentu tidak semua langsung berhasil, hasilnya pun tidak instan, tapi itu jauh lebih bisa menyentuh hati ketimbang memaksakan perilaku yang cuma tampak di permukaan.

Lagian, sejauh sepengetahuan agama saya yang dangkal, dakwah memiliki metode-metode tersendiri. Tak langsung main hantam kiri kanan depan belakang apalagi menuduh musyrik dan kafir begitu saja tanpa ada dialog terlebih dulu.
Bukankah tugas kita menyampaikan dengan cara-cara yang baik? Soal perubahan hati, itu sudah sebenar-benarnya urusan Allah. Sebab bagi saya, mana bisa hidayah dipaksakan?

Jika menyebut asma Allah seharusnya saya tertunduk kagum dan haru, tapi ketika belakangan mulai banyak yang berteriak lantang sambil bawa parang lagi, entah kenapa yang saya rasakan malah takut. Seolah ingatan 18 tahun silam mendadak hadir kembali dan membukakan kembali luka trauma masa kecil saya.


Arief Bala
Mojok.co
# cerita