Pujian Bagi NU

*PUJIAN SETINGGI LANGIT TERHADAP NU*
--------------------------------------
```OLEH KETUA MUHAMMADIYYAH BATU MALANG```

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu, Malang Nurbani Yusuf menulis artikel yang berisi pujian setinggi langit terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

Artikel tersebut diposting di akun Facebook Nurbani yang diberi judul “All NU Final : Siapapun Pemenangnya Adalah NU”.
Berikut artikel Nurbani:
------------

All NU Final: Siapapun Pemenangnya Adalah NU

Bukan NU kalau tidak mengejutkan. Berpikir di luar kotak (out The box) dan terus tidak lelah membangun paradigma, layaknya sebagai sebuah gerbong dengan muatan penuh, NU tetap lincah bergerak dan genit.

NU tak bisa ditarik dalam definisi yang rigid, sebaliknya NU selalu inklusif dan kenyal dengan berbagai kondisi.

Kader NU juga di kenal sangat loyal dengan para kiai nya tanpa banyak tanya.

Yang tak suka NU, menyebutnya taqlid, padahal itu dibutuhkan, sebab banyak tanya juga kerap kontra produktif, apalagi dilanjutkan dengan menjudge pemimpinnya dengan stigma negatif hanya kebetulan tidak sehaluan.

Dalam kurun dua tahun terakhir, setidaknya NU  telah berhasil membuat Islam tetap eksis dan diperhitungkan lawan.

Kader-kadernya berserak di semua lini, mulai pengusaha, politisi, teknisi, militer dan terakhir kader-kader NU berhasil memenangi sejumlah pilihan gubernur dan kepala daerah bahkan Calon Presiden dan Wakil Presiden lahir dari rahim NU, mereka para petarung yang gesit dan ulet.

::::

Setelah gagasan Islam Nusantara yang penuh kontroversi karena definisi yang belum selesai, jagat politik dikejutkan dengan terpilihnya Rois Syuriah Kiai Ma'ruf Amin menjadi cawapres mendampingi petahana, pada pilihan politik yang riuh penuh ghirah.

Dan terakhir pemberian Karta-NU untuk capres Prabowo dan Sandi. Lengkap sudah semua diambil.

Berbeda dengan kunjungan Prabowo-Sandi sebelumnya yang formal.

Di kantor PBNU isinya hanya guyon dan tertawa ringan, lantas diakhiri dengan pemberian kartu anggota NU.

Inilah cerdiknya dan sekali lagi, ini gaya Wali Songo dalam berdakwah meng-Islamkan raja-raja nusantara. Singkat, padat dan dapat banyak.

:::::::


Nakamura (2001) dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-hingga 1990 an kerap melawan arus dari kecenderungan umum, membangun relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah.

NU adalah ormas terbuka bagi siapapun. Longgar dan fleksibel.

Tidak ribet untuk menjadi warga  NU. Jamaah tahlilan adalah NU, jamaah Yasinan adalah NU, baca qunut saat shalat shubuh adalah NU, mereka semua bisa diakomodir sebagai jam'iyah tanpa harus ribet setor pas foto, atau pembagian sertifikat setelah lulus pengkaderan.

Bahkan konon ada yang merengek mengaku sebagai anggota sebuah perkumpulan tetap saja tidak diakui, hanya karena kerudungnya kurang rapat dan warnanya kebetulan berbeda.

Bukannya kartu anggota yang di dapat malah caci dan serapah.

Padahal toh sama-sama tidak ada keuntungan yang didapat sebab menjadi anggota, tidak mendapat jaminan atau kemudahan saat masuk sekolah atau sekedar keringanan beli obat saat sakit.

Jadi kenapa harus dipersulit untuk menjadi jam'iyah, adalah tidak penting berideologi apa atau berasal dari partai apa yang penting NU.

Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook.

Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa, sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu.

:::::

Hanya dengan Karta-NU, NU tak perlu bersusah-payah meng-kader seseorang untuk menjadi Presiden.

Prabowo-Sandi, Jokowi-Amin telah menjadi bagian dari jam'iyah NU. Itulah manuver cerdas gaya Sunan Kalijaga.

Lazimnya ijtihad, semua ada kelebihan dan ada kekurangan dan itulah dahsyatnya ushul fiqh yang dipegang kukuh: yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar'u al-mafasid muqaddam 'ala jalb al-mashalih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan).

Para pengamat gampang sekali bilang bahwa NU uportunis, in-konsisten atau lebih mengutamakan tujuan jangka pendek, tapi bukan NU kalau tidak bisa memberi alasan telogis.

Dan hasilnya memang luar biasa.

@nurbaniyusuf
Guru di Univ. Muhammadiyah Malang dan Penggiat Komunitas Padhang Makhsyar.

--------------
Orang yang tidak paham dengan NU tentu akan menghujat habis-habisan kebijakan tidak populer yang diambil NU dalam menghadapi setiap persoalan.

Jangankan, orang di luar NU, orang NU sendiri banyak yang masih belum paham terhadap sikap NU yang seringkali dianggap keluar jalur.

Lebih-lebih belakangan ini dimana, di media sosial, NU kerap menjadi sasaran serangan kelompok-kelompok yang menginginkan NU rusak.

Dan parahnya, orang NU yang tidak mengerti NU, ikut-ikutan menghujat sikap NU.

Semoga melalui tulisan Nurbani diatas, kita bisa mafhum, bahwa setiap kebijakan dan langkah yang diambil oleh NU melalui pertimbangan yang matang. Masih ragukah kita dengan NU?!.

HIDUP NU...✊✊✊

SUMBER : [Tribunsantri.com]

Mushof di Ujung Tombak

MUSHAF DI UJUNG TOMBAK. Karena terdesak pasukan Ali bin Abi Thalib, Gubernur Syam (Suriah) Muawiyah bin Abu Sufyan meminta salah satu pasukan perangnya untuk menaruh mushaf al-Quran di ujung tombak. Mushaf itu pun diangkat setinggi-tinggi nya sebagai simbol keinginan untuk berdamai. Di mata Khalifah Ali bin Abi Thalib, Muawiyah adalah seorang gubernur, yang bukan hanya membangkang, tapi juga memberontak pemerintah pusat. Muawiyah sebagai seorang gubernur tidak mau tunduk kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib karena dianggap tidak punya komitmen untuk menangkap dan mengadili pembunuh Usman bin Affan, Khalifah sebelum Ali, yang juga saudara satu klan dengan Muawiyah. Karena sikapnya itu, Ali bin Abi Thalib mengirimkan 90 ribu pasukan untuk memerangi Muawiyah setelah upaya damai yang dilakukan Ali tak membuahkan hasil. Muawiyah pun menyiapkan 120 pasukan untuk menyambut pasukan pemerintah pusat. Pasukan kedua belah pihak bertemu di sebuah tempat yang bernama Shiffin, sehingga perang pasukan Ali bin Abi Thalib versus pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan yang terjadi pada tahun 37 H, atau 25 tahun sepeninggal Rasulullah, disebut dengan perang Shiffin. Ketika pasukan Muawiyah mengangkat mushaf setinggi-tingginya, pasukan Ali mulai terbelah sikapnya. Sebagian ada yang ingin menghentikan perang karena Muawiyah sdh mau berdamai yang ditandai dengan mengangkat mushaf al-Quran. Sebagian lagi ingin terus berperang karena mereka menduga mengangkat mushaf itu hanya akal-akalan Muawiyah agar tidak "dihabisi" pasukan Ali. Pasukan Akhirnya benar-benar pecah. Karena Ali sendiri ingin menghentikan perang karena ada mushaf itu, akhirnya kelompok yang tidak ingin tertipu oleh Muawiyah memilih memisahkan diri dari pasukan Ali. Mereka akhirnya disebut sebagai Khawarij. Dari kelompok ini Ali bin Abi Thalib dibunuh. Karena Ali bin Abi Thalib memilih berdamai, akhirnya masing-masing kubu mengutus juru damai. Dari kubu Ali bin Abi Thalib dikirim juru damai yang dipimpin Abu Musa al-Asy'ari --orang tua yang sangat tawadhu' dan shalih-- dari kubu Muawiyah dikirim juru damai yang dipimpin Amru bin 'Ash, seorang politisi ulung dan lihai. Setelah membicarakan berbagai macam hal, sampailah di ujung pembicaraan. Mereka berdua setuju untuk mencopot dua khalifah itu (Ali Abu Thalib dan Muawiyah) dari jabatannya untuk kemudian diserahkan kepada umat untuk memilih khalifah yang mereka yang inginkan. Lalu keduanya berdiri berjalan ke tengah kaum muslimin, yang sudah menunggu hasil perundingan. Amru bin Ash sudah sejak awal meminta dan mendorong Abu Musa Al-Asy’ari untuk berbicara lebih dulu di depan hadirin, dengan alasan lebih dulu masuk Islam dan faktor usia yang lebih tua, dan berkata “Wahai Abu Musa, silahkan memberitahu kepada hadirin tentang kesepakatan kita”. Lalu Abu Musa mengumumkan, “Kami berdua mencapai suatu kesepakatan, dan berdoa semoga Allah menjadikannya sebagai kesepakatan yang mendamaikan umat”. Saat itu, Ibnu Abbas dari kubu Ali bin Abu Thalib, mencoba menasehati Abu Musa Al-Asy’ari dengan mengatakan, “Amru bin Ash telah menipumu, jangan mau bicara duluan di depan hadirin. Biarkan Amru bin Ash yang bicara duluan!” Namun Abu Musa Al-Asy’ari menolak permintaan Ibnu Abbas. Lalu di depan hadirin dari dua kubu yang berjumlah sekitar 800 orang, Abu Musa Al-Asy’ari mengumumkan, “Kami berdua telah mencapai kesepakatan, yang kami nilai sebagai kesepakatan yang terbaik untuk umat, yaitu masing-masing dari kami berdua lebih dulu akan mencopot Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah dari jabatan khalifah. Setelah itu, menyerahkan kepada umat Islam untuk memilih khalifah yang mereka sukai. Dengan ini, saya nyatakan telah mencopot Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah”. Sebagaimana diduga Ibnu Abbas, begitu tiba giliran Amru Ash berbicara, dia berkata, “Kalian telah mendengarkan sendiri, Abu Musa Al-Asy’ari telah mencopot Ali bin Abu Thalib, dan saya sendiri juga ikut mencopotnya seperti yang dilakukan Abu Musa Al-Asy’ari. Dengan demikian, dan mulai saat ini juga, saya nyatakan bahwa Muawiyah adalah khalifah, pemimpin umat. Muawiyah adalah pelanjut kekuasaan Usman bin Affan dan lebih berhak menggantikannya”. Mendengar pernyataan Amru bin Ash tersebut, Ibnu Abbas langsung membentak Abu Musa Al-Asy’ari, yang menjawab: “Saya mau bilang apa lagi, tidak ada yang bisa saya lakukan, Amru bin Ash telah menipuku", dan kemudian mulai mencaci dengan mengatakan, “Wahai Amru bin Ash, celaka kamu, kamu telah menipu dan berbuat jahat”. Sejak itu Dinasti Umayyah dimulai. Setelah Bani Umayyah berkuasa, terus terjadi sejarah yang menyayat hati. Mushaf di ujung tombak ternyata digunakan untuk menipu Ali bin Abi Thalib. Kisah itulah yang terbayang di kepala saya ketika sekarang ini ada kelompok masyarakat yang menggunakan kalimah tauhid "La Ilaha illallah" sebagai simbol gerakannya. Kalimah tauhid mereka jadikan simbol bendera, ditempel di baju seragam, topi dan assesoris lainnya. Orang pasti akan berpikir dua kali untuk mempersoalkan lambang dan simbol-simbol itu. Orang yang mempersoalkan akan diejek: "...lho, Anda ini muslim kok alergi dengan kalimah tauhid". Sejarah selalu berulang. Kalau orang memahami sejarah tidak akam tertipu. Jika Ali bin Abi Thalib tertipu dengan mushaf di ujung tombak, jangan sampai bangsa Indonesia tertipu dengan gerakan yang menjadikan kalimah tauhid sebagai benderanya. Kalimah tauhidnya tidak ada masalah, tapi mereka menggunakannya untuk menipu. 

Ujian warga NU zaman now

Ujian warga NU zaman now

Mengaku sebagai orang NU dizaman sekarang begitu berat ujiannya, sebab beberapa tahun kebelakang ini NU mendapatkan tekanan yang dahsyat dari arus gerakan intoleran yang bersumber dari timur tengah. Setelah mereka berhasil memporak porandakan negara-negara timur tengah dengan dalih menegakkan hukum Islam dan Khilafah, maka skenario tersebut kini sedang mulai diterapkan di Indonesia. Ketika kemudian ada ormas-ormas yang berusaha menghadang laju gerakan makar mereka, maka bisa dipastikan mereka akan membidik dan menyingkirkan apapun yang dianggap sebagai penghalang oleh mereka, dan di Indonesia, penghalang itu adalah NU. Itu sebabnya beberapa tahun terakhir ini upaya-upaya penggembosan dan deNUisasi begitu massif mereka lancarkan.  Hasilnya lumayan berhasil, tidak sedikit warga NU yang awam dan lugu terpengaruh sehingga simpatik dengan gerakan mereka .

Sudah seharusnya warga NU berpegang teguh pada ajaran NU dalam menghadapi kelompok-kemompok bughat tersebut, sebab mereka itu neo khawariji yang mana Sayyidina Ali pernah berkata tentang mereka sebagai berikut :

"Mereka membawa nama Islam namun berada dijalan kesesatan dan jalan yg salah."

Syaikh Muthahhari berkata, "Jika hendak bersyukur kepada Allah atas suatu hal, maka hendaknya kita bersyukur bahwa Allah tidak menjadikan kita hidup di masa Sayyidina Ali .
Sekiranya kita hidup masa itu, belum tentu kita punya iman dan aqidah setinggi itu.

Misalnya jika kita hidup pada masa Sayyidina Ali, mampu kah kita berada di pihak Sayyidina Ali dalam perang Jamal dan perang Shiffin yang mana lawannya adalah sesama Ummat Islam ?

Dan yang lebih hebat dan dahsyat lagi ujiannya adalah ketika Sayyidina Ali memerangi kaum Khawarij. Seandainya kita hidup dizaman itu, apakah kita punya  keberanian untuk ikut serta bersama Sayyidina Ali dalam perang Nahrawan melawan kaum Khawarij?, sebab dalam perang ini Sayyidina Ali  memerangi orang2 yang senantiasa melakukan sholat di tengah malam dan mengerjakan ibadah di siang hari. Pada dahi mereka ada tanda hitam karena banyak melakukan sujud .

Siapa berani melawan orang2 seperti mereka ?
Hanya Sayyidina Ali yang mampu melakukan itu karena beliau tidak melihat sesuatu berdasarkan yg tampak. Sayyidina Ali  menyatakan bahwa mereka bukanlah orang2 yg suka berdusta dan bersikap riya', mereka bukan orang2 munafik .
Sekiranya kaum khawarij adalah orang2  yg suka berdusta dan bersikap riya' maka urusannya akan lebih mudah bagi beliau .

Mereka adalah suatu kaum yg mendirikan shalat di tengah malam dan mengerjakan puasa di siang hari, namun keberadaan mereka menimbulkan bahaya sangat besar bagi Islam.

Maka inilah ujian terberat yang dihadapi oleh orang2 NU, harus siap di olok-olok, dicaci dan dibully. Hanya orang2 yang benar2 faham akan ajaran NU saja yang mampu bertahan dalam ujian ini, sebab tidak sedikit yang cari aman dengan berlepas diri dari NU atau berdiam diri karena tidak kuat menghadapi ujian tersebut.

MENGENAL WALI PITU DI PULAU DEWATA

= MENGENAL WALI PITU DI PULAU DEWATA =

Menurut KH Toyib Zain Arifin, seorang Mursyid Tarekat yang mengadakan penelitian tentang keberadaan Wali Pitu di pulau Bali adalah para ulama yang menyebarkan Islam di pulau Bali yaitu:

1. Pangeran Mas Sepuh/Pangeran Amangkuningrat yang dikenal sebagai "Wali Seseh Mengwi." Makamnya terletak di pantai Seseh Mengwi, desa Munggu, kecamatan Mengwi kabupaten Badung dikenal sebagai "Makam Keramat Seseh."

3. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Khamid dikenal sebagai "Wali Kusamba." Makamnya berada di desa Kusumba kecamatan Dawan kabupaten Klungkung di dekat selat yang menghubungkan antara Klungkung dengan pulau Nusa Penida yang dikenal dengan "Makam Keramat Kesumba." Makam ini tidak hanya dikeramatkan oleh umat Islam tetapi juga oleh umat Hindu. Makam ini mempunyai ciri khas tang berupa patung Pangeran yang bersorban sedang menunggangi kuda layaknya Pangeran Diponegoro.

3. Habib Ali bin bin Zainal Abidin Al Idrus dan
4. Syekh Maulana Yusuf Al Baghdadi Al Maghribi, keduanya dikenal sebagai "Wali Kembar Karangasem." Makam keduanya berada di satu tempat berjajar di suatu makam di desa Bungaya Kangin kecamatan Babandem kabupaten Karangasem yg dikenal dengan "Makam Keramat Kembar." Kedua makam tersebut selamat dari dahsyatnya letusan dan semburan gunung Agung pada tahun 1963 yang berada di Karangasem.

5. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Baghdadi Al Maghribi yang dikenal sebagai "Wali Bedugul." Makamnya diatas bukit Bedugul kecamatan Baturiti kabupaten Tabanan yang dikenal dengan "Makam Keramat Bedugul." Ketika Gunung Agung meletus dengan hebatnya pada tahun 1963 dan meluluh lantakan kawasan sekitarnya, namun anehnya makam keramat ini tidak tersentuh oleh sebutir pasir pun dari letusan tersebut.

6. Habib Ali bin Umar Bafaqih dikenal sebagai "Wali Negara." Makamnya berada di jalan Loloan Barat kecamatan Negara kabupaten Jembrana dan dikenal dengan "Makam Keramat Loloan."

7. Syeik Abdul Qadir Muhammad dikenal sebagai "Wali Karang Rupit." Makamnya berada di desa Temukus kecamatan Banjar kabupaten Buleleng dan dikenal dengan "Makam Keramat Karang Rupit" di kawasan Bali Utara yang diziarahi oleh umat Islam dan umat Hindu.

TAUJIHAT KEBANGSAAN (TAUJIHAT WATHANIYYAH)

بسم الله الرحمن الرحيم

TAUJIHAT KEBANGSAAN (TAUJIHAT WATHANIYYAH)
MUHIBBIN AL-WATHONIYAH PONDOK PESANTREN AL-WATHONIYAH PUSAT JAKARTA



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ
وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Maidah [5]: 8)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 6)



Pada hari Selasa, 23 Oktober 2018, Menkopolhukam telah menyampaikan pernyataan pers tentang insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid pada acara Hari Santri Nasional (HSN) di Limbangan Garut Jawa Barat pada 22 Oktober 2018. Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian maka secara resmi Menkopolhukam menyatakan bendera tersebut sebagai bendera HTI. Siang hari tadi, Jumat, 26 Oktober 2018 pukul 11.00 Kabareskrim Mabes Polri telah menyampaikan hasil penyelidikan terhadap insiden tersebut. Malam hari ini baru saja usai pertemuan musyawarah pimpinan pusat Ormas-Ormas Islam bersama Wakil Presiden RI di Menteng yang menghasilkan lima poin hasil musyawarah solusif. Sebagaimana diketahui bersama bahwa insiden tersebut mengakibatkan polemik dan kegaduhan di masyarakat dan berpotensi memecah-belah persatuan umat Islam dan persatuan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Maka kami atas nama pimpinan masyarakat Muhibbin Al-Wathoniyah Pondok Pesantren Al-Wathoniyah Pusat Klender Jakarta menyampaikan Taujihat Kebangsaan sebagai berikut:
1. Mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dalam hal ini Wakil Presiden RI bersama Pimpinan Pusat Ormas-Ormas Islam dan cendekiawan muslim yang telah bermusyawarah dan menghasilkan point-point solusif.
2. Mengucapkan terima kasih dan bangga atas kinerja Pemerintah melalui Kemenkopolhukam RI dan Bareskrim Mabes Polri yang telah dengan cepat, professional, dan transparan menyampaikan informasi dan melakukan penyelidikan untuk memberikan kepastian informasi dan hukum kepada masyarakat.
3. Sebagai masyarakat pesantren, kami bersuka-cita dan berbangga hati atas penyelenggaraan upacara Hari Santri Nasional di Limbangan Garut Jawa Barat dan di seluruh Indonesia. Mengingat Hari Santri Nasional telah diresmikan oleh Pemerintah RI sebagai wujud penghormatan dan pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam memperjuangkan dan membela kemerdekaan RI. Oleh karenanya kami juga menghimbau kepada seluruh cabang Al-Wathoniyah dan masyarakat umum untuk aktif mensyiarkan HSN di lingkungan masing-masing dengan tertib dan khidmat.
4. Menghimbau kepada seluruh komponen masyarakat untuk menjunjung tinggi dan penuh hormat terhadap simbol suci agama Islam dan juga lambang kenegaraan Republik Indonesia. Penghormatan terhadap simbol Islam dan lambang negara tersebut adalah amanat dari pendiri Al-Wathoniyah Pusat, KH. Hasbiyallah bin Muallim H. Gayar (1913 – 1982).  Bagi Al-Wathoniyah Pusat, semangat Islam dan cinta negara adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dibenturkan dengan alasan apapun. Nama Al-Wathoniyah yang berdiri sejak 1935 sendiri adalah cerminan kecintaan seorang ulama kharismatik KH. Hasbiyallah kepada cita-cita kemerdekaan dan pendirian NKRI. 
5. Kabareskrim Mabes Polri telah menyampaikan konferensi pers pada hari ini, Jumat 26 Oktober 2018, jam 11.00 – 11.45 di stasiun televisi dan media massa. Kabareskrim Polri telah menjelaskan beberapa point penting, di antaranya:
a. Bahwa peringatan HSN 22 Oktober 2018 di Limbangan Garut benar telah mendapat izin dari kepolisian setempat sehingga telah legal.
b. Acara tersebut juga sudah memiliki kesepakatan internal penyelenggara yaitu tidak boleh membawa atribut atau bendera apapun selain bendera Merah Putih.
c. Acara tersebut juga berkonten positif yaitu untuk meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan semangat Nasionalisme. Tidak ada konten negatif seperti provokasi dan lainnya. Sehingga munculnya pengibaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid di acara tersebut jelas berasal dari pihak luar yang menyusup ke dalam acara HSN.
d. Kabareskrim Mabes Polri sudah menemukan penyusup dan pengibar bendera bertuliskan kalimat Tauhid dan mengumumkannya bahwa penyusup dan pengibar bendera di peringatan HSN 22 Oktober 2018 di Limbangan Garut Jawa Barat adalah bernama Uus Sukmana, seorang warga Garut yang bekerja di Bandung.
e. Dalam konferensi pers, Kabareskrim Mabes Polri mengumumkan bahwa Uus Sukmana sudah mengakui bahwa bendera yang dia bawa dan dia kibarkan di acara HSN Limbangan Garut adalah benar-benar bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang biasa dibawa dalam kegiatan-kegiatan HTI. Bukan bendera Tauhid.
f. Pembakaran bendera HTI oleh oknum Banser adalah bersifat spontanitas untuk berniat membakar bendera HTI, bukan niat sengaja membakar tulisan kalimat Tauhid, karena melihat adanya atribut atau bendera organisasi terlarang yaitu HTI ada di tengah proses upacara HSN.
6. Kami meyakini dan mendukung penuh pernyataan Menkopolhukam dan hasil penyelidikan Bareskrim Mabes Polri yang menyatakan dengan resmi, bahwa bendera yang dibakar oleh oknum Banser tersebut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Bukan bendera Tauhid. Oleh karenanya, bagi kami insiden ini lebih menonjol pada masalah provokasi dan tindakan melawan hukum oleh penyusup yang mengibarkan bendera HTI, organisasi makar dan sudah dilarang oleh negara, di acara HSN Limbangan Garut. Bukan semata kasus pembakaran bendera HTI yang memang terdapat kalimat Tauhid di dalamnya oleh oknum Banser.
7. Terkait dengan insiden pembakaran bendera HTI tersebut, kami meminta aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan hukum secara lebih tegas, cepat, tuntas, dan transparan dan memproses hukum pihak-pihak yang terbukti bersalah melakukan pengedaran, penyusupan, pengibaran bendera HTI yang telah terlarang oleh negara demi terciptanya kepastian hukum, ketertiban, dan keadilan masyarakat.
8. Meskipun secara hukum pidana belum ditemukan pasal pelanggaran oleh oknum Banser pembakar bendera HTI karena tidak adanya niat jahat (mens rea) di dalamnya, namun kami meminta agar oknum Banser tersebut dikenakan hukuman (ta’zir) atau sanksi disiplin organisatoris dari pengurus Banser karena telah menyalahi SOP pengamanan HSN sehingga terprovokasi oleh penyusup dan pengibar bendera HTI di acara HSN Limbangan Garut.
9. Sesuai dengan hasil musyawarah Pimpinan Pusat Ormas-Ormas Islam bersama Wakil Presiden RI yang baru saja usai yang menginformasikan bahwa baik oknum pembakar dan oknum pengibar bendera HTI sudah meminta maaf atas insiden HSN Limbangan Garut, kami mengapresiasi permohonan maaf tersebut walau proses hukum harus tetap berjalan. Bagi kami hal tersebut menjadi langkah positif bagi upaya pencegahan terjadinya eskalasi provokasi dan politisasi pada skala yang cukup massif di masyarakat bawah dan rentan menjadi obyek kapitalisasi politik di tingkat elit kepentingan di tengah masa tahun hajatan politik nasional.
10. Kami mendukung penuh langkah Kepolisian RI untuk mengambil langkah penegakan hukum dalam mengusut dan menjatuhkan sanksi dalam rangka  menyelesaikan insiden Limbangan Garut, baik terhadap oknum pembakar maupun oknum pengibar bendera HTI dengan prinsip transparan, cepat, tuntas, tegas, dalam rangka mewujudkan keadilan dan kepastian hukum.   
11. Kami menghimbau kepada para khatib, dai, muballigh, dan tokoh masyarakat di lingkungan Al-Wathoniyah dan masyarakat umum untuk pro aktif membantu dan mendukung kinerja aparat hukum dalam upaya melindungi dan menghindarkan umat Islam dan masyarakat dari provokasi, politik adu domba, dan intrik pecah-belah dari kelompok makar yang telah memperalat simbol-simbol suci agama untuk kepentingan politik. Harap sampaikan kepada umat dan warga masyarakat di wilayah masing-masing secara utuh, adil, dan penuh nuansa ketenangan serta ukhuwah serta menjauhi kepentingan pihak yang mencari keuntungan politik tertentu.
12. Para khatib, dai, muballigh, dan tokoh masyarakat di lingkungan Al-Wathoniyah dan masyarakat umumnya dihimbau untuk menyampaikan kepada lingkungannya secara utuh dan adil bahwa problem utamanya bukan saja pada insiden pembakaran bendera HTI, tetapi juga pada fakta adanya upaya provokasi, pengedaran, penyusupan yang pengibaran bendera HTI, Ormas makar dan terlarang yang jelas-jelas melanggar Undang-undang, Pancasila, merongrong NKRI dan menodai kesucian Islam yaitu dengan memanfaatkan kalimat Tauhid untuk tunggangan gerakan politik makarnya, di acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Limbangan Garut Jawa Barat.
13. Kami menghimbau seluruh cabang Al-Wathoniyah dan masyarakat umumnya agar menolak upaya-upaya provokatif, adu-domba sesama muslim dan sesama anak bangsa Indonesia, politisasi simbol-simbol Islam, dan menolak hoax, ujaran kebencian, fitnah, provokasi yang disebarkan melalui media sosial maupun ajakan berdemonstrasi dalam merespons dan menyikapi insiden pembakaran bendera HTI atau insiden lainnya yang bersentuhan dengan isu pertentangan sesama umat Islam. Ini adalah bentuk konsistensi kita terhadap Khittah Al-Wathoniyah yang mengedepankan mekanisme musyawarah-mufakat dan dialog dalam upaya penyelesaian masalah keumatan, penuh nuansa persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah) dan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah).
14. Kita himbau saudara-saudara kita agar mengedepankan berpikir secara utuh, adil, jernih, dan berprasangka baik (husnut tafahum) terhadap sesama umat Islam, umat beragama lain, dan kepada pemerintah sebagai Ulim Amri,  mematuhi aturan hukum yang berlaku, serta menjauhi buruk sangka, nafsu kebencian, dan nafsu amarah. Mari tingkatkan pemahaman berislam secara rahmat dalam memberdayakan umat dan mensejahterakan kehidupan bangsa.

Demikian Taujihat Kebangsaan (Taujihat Wathaniyah) ini disampaikan. Semoga bermanfaat dalam ikhtiar mewujudkan kondisi keumatan dan kebangsaan yang rukun, damai, dan harmoni untuk kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia.
   

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali Imran [3]: 103)

Jakarta, 17 Shafar 1440 / 26 Oktober 2018

Muhibbin Al-Wathoniyah
Pondok Pesantren Al-Wathoniyah Pusat Jakarta



Arif Fahrudin
Pimpinan

Simbolisme Agama

*SIMBOLISME AGAMA*

Oleh: Said Muniruddin

Saya tidak tertarik mengomentari soal bendera karena itu tidak lebih dari gorengan dg minyak yg sudah gosong.

Tapi Simbolisme Agama di negeri ini merasuk hingga ke sumsum mpok-mpok dan mangcek-mangcek.

*Apa itu Simbolisme Agama?*

Simbol merupakan penanda bagi pandangan, teori, keyakinan, kelompok, suku atau juga bangsa. Kadang kehadirannya bukan hanya semata menjadi penanda akan tetapi merupakan kunci misteri atau sakralitas.

Melalui simbol ini umumnya kelompok ingin menunjukkan eksistensinya. Binatang pun melakukan hal yang sama. Singa jantan akan mengelilingi wilayah kekuasaannya dg kencingnya sehingga  singa-singa jantan lain ketika mencium bau kencing tersebut akan menghindari wilayah tersebut jika tidak hendak bertarung.
Pendaki gunung ketika mencapai puncak pendakiannya akan menancapkan simbol tertentu yg umumnya berbentuk bendera sebgaai penanda keberhasilan pendakiannya di puncak tersebut.

Bermula dari suku-suku kecil penggunaan simbol bendera menjadi penanda untuk memisahkan dg suku lain dan khususnya ketika terjadi peperangan menjadi penanda antara musuh dan kawan. Bahkan simbol-simbol tersebut kemudian menjadi sesuatu yg terpatri sebagai bentuk khas bangunan, rumah dan pakaian adat.

Dalam kehidupan modern setiap negara memiliki simbol2 melalui bendera, lambang2 negara dan sebagainya.

Dunia Sains tak luput dalam penggunaan simbol-simbol untuk memudahkan satu teori atau rumus diingat. Matematika, Fisika, Kimia adalah ilmu2 sarat penggunaan simbol di dalamnya.

Agama sangat sarat dengan Simbol. Setiap Agama memiliki simbolnya masing-masing. Agama Yahudi memiliki simbol yg begitu kompleks . Mulai dari bintang Daud hingga beragam simbol rumit Kaballah. Setiap tarikan garis memiliki maknanya sendiri. Sahabat saya mengirimi sy buku khusus ttg simbol-simbol dalam Mistik Yahudi.

Pada tradisi Kristen simbol utama Trinitas digambarkan melalui Salib sekaligus menggambarkan penyaliban Yesus dan bagaimana 12 tahap yang dilewati Yesus hingga sampai pada tragedi Penyaliban digambarkan melalui simbol-simbol.

Katolik memiliki simbol-simbol yg sangat beragam, selain Salib, Air suci, Alpha-Omega, Hati Kudus, Ihs dan Chiro, Ichtys, bahkan setiap warna yg melekat pada dinding gereja merupakan simbol bagi makna tertentu.
Demikian juga pada Protestan, Kristen Armen bahkan Ortodoks memiliki kekayaan simbol yg luar biasa.

Pada Agama Islam simbol secara khusus yg menggambarkan Islam itu sendiri tidak kita temui kecuali dalam kata الله dan محمد yg biasanya terukir dan digantung di masjid-masjid.

Bendera sama sekali tidak lagi kita temui sebagai simbol yg disepakati bersama kecuali bagi kelompok-kelompok tertentu semata. Pola bendera yg belakangan digunakan oleh ISIS atau HTI misalnya hanyalah pola bendera yg merupakan simbol bagi kelompok tersebut. Ketika pola bendera ISIS yg dikibarkan sebagian besar kaum muslimin hanya mengaitkan bendera tersebut dg kelompok ISIS demikian juga bendera HTI. Bahkan bendera yg umumnya digunakan oleh kaum muslimin umumnya terkait dengan negara masing-masing. Sehingga bendera tidaklah menjadi simbol yg mewakili Islam itu sendiri.

Adapun kalimat Syahadat adalah kalimat sakral sebagai keimanan dasar keabsahan seseorang menjadi muslim dan keindahan kaligrafi terkait kalimat tersebut tidaklah menjadi simbol akan tetapi bentuk pengungkapan keindahan kaligrafi terhadap dua kalimat syahadat yg sakral tersbut. Sehingga pola tulisannya pum beragam baik dalam pola tsulusi, Furs, Kufi dan sebagainya. Sekiranya itu adalah simbol maka polanya tetap dan ringkas yg cenderung dalam format gambar tertentu.

Di dalam dunia Tasawuf kekayaan simbol begitu luar biasa. Anemarie Sychimel menulis karya khusus tentang ini.

Dalam dimensi spiritualitas merupakan hal yg sangat wajar mengingat pengungkapan dimensi ghaib hanya dimungkinkan melalui simbol, syair atau isyarat karena ungkapan formal tidak mungkin menjangkau dimensi bathin tersebut.

Dari sini kita memahami sesungguhnya simbol terbentuk untuk mengungkap hal-hal yg sulit terjangkau secara formal. Kadang ada ilmuwan menggambarkan Simbol adalah tanda yg menyingkap makna.

Jadi tujuan kehadiran simbol adalah upaya mengajak mukhattab untuk sampai pada makna. Berhenti semata hanya pada simbol adalah kesalahan fatal. Seperti seseorang yg mengnginkan perjalanan menuju Bandung tapi hanya berhenti di depan papan jalan yg bertuliskan BANDUNG.

Sakralitas simbol Agama sesungguhnya karena sakralitas makna yg coba diungkap melalui simbol tersebut. Tanpa makna tersebut simbol tak berarti apapun kecuali sebatas kayu yg dibuat dalam pola salib.

Karena nilai sakralitas makna tadi, simbol menjadi sakral seperti halnya sebuah bendera bagi satu bangsa menjadi mulia karena merupakan pengungkapan eksistensi bagi bangsa tersebut. Sebelumnya dia hanyalah kain biasa tapi setelah dibentuk dalam pola persegi empat dan berwarna merah dan putih, kedudukannya menjadi mulia. Merobeknya sama dg mengganggu kehormatan bangsa Indonesia.

Menjadi hal lumrah dalam upaya merendahkan negara tertentu simbol2 tersebut diinjak, dibakar atau dirobek2. Seperti kita akan temukan dg mudah bendera Amerika dan Israel yg dilukis di jalan-jalan di Iran untuk diinjak bahkan dalam demonstrasi Yaum al-Quds kerap terjadi pembakaran bendera Amerika dan Israel sebagai simbol kebencian dan perendahan pada kedua negara tersebut.

Celakanya kelompok2 tertentu kerap menggunakan simbol-simbol agama untuk menggambarkan eksistensi mereka sehingga ketidak sukaan atau perendahan pada simbol-simbol kelompok tersebut dapat dikesankan sebagai perendahaan dan penghinaan pada agama yg simbolnya digunakan oleh kelompok tersebut, padahal itu adalah murni simbol bagi kelompok tersebut.

Penggunaan simbol mulia untuk tindakan yg tidak mulia tentu adalah kesalahan dan penghinaan terhadap makna itu sendiri seperti halnya kubah masjid dijadikan sebagai atap toilet adalah penghinaan. Namun berhenti dalam pola keberagamaan  hanya pada simbol dan sakralitas simbol semata tanpa berusaha untu menyelami makna di balik simbol adalah kekeliruan dalam beragama atau malah tidak beragama. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah 'Simbolisme Agama'.

Sayangnya betapa banyak orang yang beragama hanya pada tingkat sakralitasisasi simbol tanpa berusaha untuk menyelami makna dan merefleksikan makna tersebut dalam proses kehidupan. Khususnya kalangan puritanisme dan skriptualisme.

Simbolisme Agama ini sesungguhnya masuk kategori "Syirk Khofie" (Syirik yg tersembunyi) karena mensakralkan bentuk dengan melepaskan makna. Efeknya, menjadi berbahaya karena membela simbol dianggap telah membela agama dan keberbedaan pemahaman terhadap simbol tertentu mengkerucut pada kecurigaan keimanan. Betapa banyak korban yg ditimbulkan akibat sikap Simbolisme Agama ini.

Padahal jika kita renungkan ayat-ayat al-Qur'an, ayat-ayat tersebut mengajak kita melintasi dari simbol menuju pemahaman makna.

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS 41: 53).

"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS 3: 137).


Fariduddin Athar dalam 'Manthiq al-Thayr' menggambarkan kegagalan burung-burung untuk sampai pada Simurgh karena terpesona dgn beragam simbol yg ditampilkan oleh hakikat Simurgh. Demikianlah Rumi mengingatkan 'Ketahuilah bahwa hakikat Mawar bukanlah M-A-W-A-R'

Melintaslah dari Simbol menuju Makna sebagai Shirotol Mustaqim. Semoga dgn itu keberagamaan kita menjadi lebih bernilai.


Maman S 

IMAM ABU HANIFAH DIDEMO

IMAM ABU HANIFAH DIDEMO

Habib Balya

Imam Abu Hanifah, adalah ahli fiqh paling terkemuka di masanya. Imam Syafi’i mengatakan : “Semua orang dalam fiqh adalah keluarga Abu Hanifah”.

Pandangan-pandangannya dikenal rasional.  Ia dikenal sebagai "Imam Ahl Ra'yi", pemimpin mazhab fiqh rasional. Ada banyak pendapatnya yang berbeda dari mazhab lainnya. Misalnya perempuan dewasa bisa menikahkan dirinya sendiri, tanpa wali.

Sekarang saya ingin menyebut contoh lain yang mungkin lucu tapi masuk akal. Ia berpendapat bahwa makmum shalat tidak perlu membaca surah al-Fatihah. Cukup Imamnya saja. Menurutnya Imam adalah pemimpin. Suara Imam/pemimpin adalah sudah mewakili suara pengikutnya. "Qiroah al-Imam Qiroah al-Ma'mum". Bacaan Imam adalah bacaan makmum. Apakah Imam Abu Hanifah hanya mengandalkan argumen akal?. Ternyata tidak. Abu Hanifah juga mengemukakan dasar hukumnya dari hadits Nabi yang dipercayainya. “Innama Ju’ila al-Imam Li Yu’tamma bihi”, Seseorang dijadikan Imam, agar diikuti makmumya. Ini hadits Sahih Bukhari. Lagi pula al-Qur’an menyatakan : “Jika al-Qur’an  dibacakan kepada kalian, maka dengarkan dan diam”.

Pendapat ini  menimbulkan masalah dan kontroversial di tengah-tengah masyarakat yang umumnya penganut mazhab al-Syafi’i yang mewajibkan setiap orang yang shalat membaca surah al-Fatihah. Mereka marah, dan menuduh yang tidak-tidak, lalu berkumpul untuk melakukan unjuk rasa sambil berteriak-teriak emosional. Mereka menuduh Imam Abu Hanifah telah sesat dan menyesatkan. Mereka kemudian berdemo dengan mendatangi rumah Abu Hanifah menuntutnya mencabut pendapatnya itu.

Abu Hanifah keluar menemui mereka sambil meminta bersikap tenang dan tidak membuat gaduh. Abu Hanifah lalu meminta mereka tidak saling berebut bicara. Setelah mereka tenang ia mengusulkan agar ada seorang di antara mereka yang terpandai, untuk menjadi wakil mereka guna mendiskusikan tuntutan mereka. Sesudah mereka menunjuk seseorang yang dianggap paling mengerti agama, Abu Hanifah menanyakan kepada mereka: “apakah kalian setuju dengan orang ini?. Mereka menjawab serentak: “Setujuu!”. Abu Hanifah bertanya lagi : “Apakah kalian akan mengikuti pendapatnya?. Mereka menjawab lagi dengan suara yang sama : “Ya, kami akan mengikuti apapun yang akan disampaikan dan dilakukannya”. Abu Hanifah mengatakan : “Nah, kalau demikian, masalahnya telah selesai. Sekarang kalian kembali ke rumah masing-masing”. Mendengar itu, mereka, termasuk sang juru bicara, seperti orang bingung. “Kok selesai?. Apanya yang selesai?”.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa pendapat Abu Hanifah dibenarkan mereka. Bukankah pemimpin mereka adalah suara mereka juga?. Jadi bukankah sudah cukup, bila dia saja yang bicara dan tidak perlu para pengikutnya ikut bicara?.

Cerita singkat di atas tidak dimaksudkan sebagai persetujuan saya terhadap pendapat Imam Abu Hanifah untuk kasus ini. Melainkan hanya ingin memperlihatkan bahwa hukum agama (fiqh) tidaklah tunggal, dan bukan tanpa argument dari teks agama. Imam Abu Hanifah hanya berargumen dengan akal sederhana, karena ia mengerti siapa yang dihadapinya. Ia sebenarnya juga punya argument naql (hadits), tetapi itu harus dijelaskan, mungkin akan panjang dan belum tentu dapat dimengerti. Jadi meskipun di tempat kita ada pandangan bagi keharusan setiap orang yang salat membaca al-Fatihah yang diikuti secara mainstream, tetapi pandangan yang minoritaspun perlu dihargai, karena iapun memiliki dasar, meski kadang tidak diketahui public. Oleh karena itu tidak sepatutnya ia disesatkan.

Islam Sontoloyo Versi Bung Karno

Lima Ciri Islam Sontoloyo Menurut Bung Karno
Juni adalah bulan Soekarno. Di bulan ia lahir dan wafat ini penting untuk kita mengingat kembali gagasan pendiri bangsa ini tentang Islam. Perhatiannya terhadap Islam begitu bergairah di zaman kemerdekaan. Berbagai gagasannya tentang Islam masih sangat relevan hingga kini.
Presiden pertama Indonesia yang akrab disapa Bung Karno ini mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Ia menyalakan, apa yang ia sebut sebagai, api Islam. Ia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal sebagaimana visi etik Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad.
Karena itu, ia menolak kecenderungan apa yang ia sebut sebagai masyarakat onta atau Islam Sontoloyo. Kecenderungan ini bukan hanya masih menggejala, bahkan kian menguat kini.
Sebagai pencetus Pancasila dan merumuskan nilai-nilainya, ia mengadopsi apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah sebagai petun­juk urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat. Pancasila itu salah satu wujud bagaimana Bung Karno menerapkan visi etik Al-Quran dan sunah nabi itu.
Bung Karno mendalami Islam saat berada di Endeh. Bahkan menurut H.A. Notosoetardjo dalam Rakyat Bertanya Bung Karno Menjawab, ia menekuni pengetahuan Islam berawal saat dari Penjara Sukamiskin kemudian dilanjutkan dengan lebih intensif saat pembuangan di Endeh. Ia baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat ia dipindahkan ke Bengkulu.
Dalam berbagai tulisannya tentang Islam itu tampak pengetahuan Bung Karno tentang Islam begitu luas dan mendalami persoalan. Selain melahap berbagai buku dari para ulama di berbagai negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: Tjokroaminoto (Baca: Islam Progresif Tjokroaminoto).
Bisa dibilang, berbagai gagasannya tentang Islam ikut memberi landasan Islam Indonesia atau Nusantara.
Berikut lima ciri masyarakat onta atau Islam Sontoloyo yang menurutnya membuat Islam mundur dan konflik tak berujung di tengah masyarakat dan penghambat kemajuan bangsa.
Royal Mencap Kafir
Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an) dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu yang begitu mudah mencap kafir.
“Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!”
Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.
Astagfirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah?” tulisnya.
Taklid Buta
Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Ia bukan api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat.
“Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya.
Mengutip Snouck Hurgronje, ia mengatakan ulama dari segala waktu terikat pada ucapan ulama terdahulu, masing-masing dalam kalangan mazhabnya. Syariat itu akhirnya bergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksud firman yang asli.
Padahal jelas, baginya, dua sumber utama Islam adalah Kalam Allah dan Sunah Rasul. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula kita mesti menyalakan api Islam.
Menurut Bung Karno, Al-Quran dan Hadits itu tidak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.
Mengutamakan Fikih
Dalam Islam Sontoloyo (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah.
“Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,” tulisnya.
Menurutnya, Al-Quran dan api Islam seakan-akan mati karena kitab fikih itu sajalah yang dijadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri.
“Dunia Islam sekarang ini setengah mati, \tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnyasaja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.”
Hal itu tak berarti Bung Karno membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan ia menyebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan.
“Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya.
Dengan mengutip Farid Wadji, Muhammad Ali, Kwada Kamaludin, Amir Ali, ia mengatakan bahwa alangkah baiknya di samping mempelajari fikih kita juga dengan sungguh belajar nilai dan visi etik Al-Quran.
Ini Bung Karno praktikkan, salah satunya saat anjing yang ia pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Ia kemudian Ia pun meminta Ratna Juami untuk membuang air itu dan mencuci  panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin.
“Di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi s.a.w. sendiri telah menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh,” paparnya.
Tak Melek Sejarah
 Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting!
“Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya.
Paling mujur, lanjut Bung Karno, mereka hanya mengetahui tarikh Islam saja. Dari tarikh Islam ini seharusnya mereka sudah dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Tapi umumnya kita mempelajari hukum, kenal isi kitab fikih, mengetahui tiap perintah dan larangan agama hingga yang terkecil, tapi kita tidak mengetahui bagaimana cara Nabi, para sahabat, tabiin, khalifah menaafsirkan perintah dan larangan-larangan Allah di dalam urusan sehari-hari dan urusan negara.
“Kita sama sekali gelap dan buta buat di dalam hal menafsirkan itu oleh karena tidak mengenal tarikh,” imbuhnya.
Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja.
Kendaraan ini dikusiri oleh rohnya etik Islam serta tuhid yang hidup. Dengan fikih yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawati (pucuk pimpinan) di separuh dunia!
Dengan mengutip Essad Bey, Bung Karno mengatakan, jia kedudukan fikih begitu sentral  di situlah Islam membeku menjadi satu sistem formil belakang. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek! Bukanlah saja mandek, fikih bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup.
Jika pemuka dan umat Islam Indonesia tetap tidak mengindahkan pelajaran besar dari sejarahnya sendiri dan mengikuti jejak para pemimpin besar di negeri lain serta hanya berorientasi fikih, maka jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.
Hadis Lemah sebagai Pedoman
Menurut sebagian ulama, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al-Quran. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam.
“Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.”  ***
(Achmad Rifki)
Sumber madinaonline.id

Tips Lulus Ujian CPNS


Supaya lolos dan bisa menjadi PNS yang sesungguhnya, ada dua hal yang bisa dilakukan.

Itu diantaranya:

Membaca Buku-Buku CAT
Menurut Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Hari Wibisana, ada rahasia khusus agar bisa lulus tes CPNS, yakni melakukan simulasi Computer Assisted Test (CAT) di portal BKN.
Simulasi ini dilakukan sebab CPNS haruslah lulus Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dengan sistem CAT.

Tes ini terdiri dari 3 bagian, yaitu Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelejensi Umum, dan Tes Karakteristik Pribadi.
Untuk Tes Wawasan Kebangsaan, menurut Bima, peserta CPNS harus mempelajari terlebih dahulu sejarah bangsa Indonesia atau yang disebut Tes Wawasan Kebangsaan.

“Jadi tes wawasan kebangsaan ini memang harus belajar. Belajar mengenai sejarah Indonesia, rasa kebangsaan Indonesia, dan Pancasila,” ujar Bima.
Menurut Bima Tes Wawasan Kebangsaan menjadi hal penting bagi seleksi PNS sebab sebagai abdi negara harus dan perlu tahu tentang sejarah Indonesia.

Supaya lulus, belajar secara mandiri lewat buku panduan atau ebook yang ada di internet bisa menjadi pilihan.
Supaya bisa belajar kapan pun dan di mana pun, jangan lupa bawa smartphone andalanmu ke mana saja.
Gunakan Strategi Khusus
Menurut Mentor Kelas CPNS di Lembaga Bimbingan Belajar 4JO, menjawab soal CPNS perlu strategis khusus sebab kamu berpacu dengan waktu sebab dalam waktu 90 menit harus bisa menjawab 100 soal.
“Belum lagi kita berpacu ke passing grade tiap jenis soal,” ujar Andri

Pertama, menjawab soal yang paling mudah. jangan terpaku pada soal susah yang menghabiskan waktu.
Kedua, selesaikan terlebih dahulu Tes Kepribadian (TKP), tes ini terbilng mudah sebab menggunakan nalar dan perbandingan untuk menjawab.
Melalui TKP akan dapat dinilai sisi kreatifitas dan inovasi, orientasi pelayanan, kemampuan beradaptasi, mengendalikan diri, serta bekerja tuntas dan mandiri.
TKP juga menggambarkan kemauan dan kemampuan belajar berkelanjutan, bekerjasama dengan kelompok serta menggerakan dan mengkoordinir orang lain.

Setiap jawaban TKP punya nilai skor dari 1-5, yang berarti apapun jawabannya tetap memiliki nilai yang berbeda dengan TWK dan TIU yang benar bernilai 5 dan salah bernilai 0.
Soal TKP sendiri ada dari nomor 66-100 yakni sebanyak 35 soal dengan passing grade 143. Pastikanlah kamu bisa menjawab soal TKP secara benar sebanyak 25 soal.

Kemudian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Tes ini berjumlah 35 soal dan setiap jawaban mendapat tambahan skor 5 dan salah mendapat skor 0 tapi tidak mengurangi nilai.
Dalam Tes ini disarankan jangan mengosongkan jawaban jika benar-benar tidak bisa menjawab sebab siapa tahu jawabanmu benar.

Pastikan kamu menjawab 16 soal TWK secara benar sebab kamu berhasil mengumpulkan 80 poin dan lulus karena passing grade TWK adalah 75.
Tes ini bertujuan untuk menilai penguasaan pengetahuan dan kemampuan mengimplementasikan nasionalisme, integritas, bela negara, pilar negara, bahasa Indonesia, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

NKRI mencakup sistem tata negara Indonesia, sejarah perjuangan bangsa dan peran bangsa Indonesia dalam tataran regional dan global. Kemampuan berbahasa Indonesia juga ikut menjadi penilaian dalam tes TKW ini.
Terakhir Tes Intelegensia Umum (TIU). Berjumlah soal 30, tes ini memiliki passing grade 80 poin. Jika menjawab benar mendapatkan skor 5 dan salah mendapatkan skor 0.
Hal yang pertama dinilai adalah kemampuan verbal dan kemampuan menyampaikan informasi secara lisan maupun tulisan.

Selain itu, akan dilakukan tes mengetahui kemampuan numerik peserta dalam melihat operasional dan hubungan di antara angka-angka.
Kemudian dinilai juga kemampuan figural yakni kemampuan yang berhubungan dengan kegesitan mental seseorang dalam menganalisa gambar, simbol, dan diagram. Serta kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, juga kemampuan mengurai suatu masalah.

Kerjakanlah soal lebih mudah terlebih dahulu, seperti Bahasa Indonesia, Sinonim, Padanan Kata dan Antonim karena tak menyita waktu.

Kemudian lanjut ke soal cerita yang tak terlalu banyak paragraf, setelah itu lanjut ke soal matematika. Numerik biasanya lebih mudah dibanding deret aritmatika. Pastikan menjawab sebanyak soal TIU sebanyak 14 nomor.

Semoga bermanfaat dan Lulus Tes  CPNS



  • Sumber tribunnews.com