Nasehat Taiwan untuk Mertua

Buat para wanita & pria yg sudah berstatus *MERTUA* atau *Calon MERTUA* harus di baca ya baik yg sdh punya mantu  maupun belum_.

*_10 nasehat yang diberikan oleh seorang Pengacara dari Taiwan untuk para mertua._*

*1.* Jangan bertahan pendapat bahwa kita harus tinggal bersama anak (laki) dan menantu.
Usirlah mereka (memang begitu bahasanya-趕出去), walaupun mereka hanya bisa mengontrak. itu adalah urusan mereka.

Suatu keindahan akan tercipta karena jarak yang jauh, akan menjamin hubungan yang lebih baik antara menantu dan mertua.

*2.* Jangan menganggap menantu perempuan anda sebagai *ANAK*, anggaplah dia sebagai istri dari anak anda. Dan hanya sebagai teman anda.

Anda boleh menganggap anak laki anda belum dewasa, tapi hormatilah menantu anda seperti dia se level (同輩) dengan anda.

Jika kamu memarahi dia satu patah kata, akan diingat oleh dia seumur hidup. Didunia ini, hanya mama dia sendiri yg boleh mengurusnya, anda tidak boleh.

*3.* Kalau menantu anda suka beli beli barang, suka lihat film seri korea, suka main hp, tidak mau cuci baju dan masak, juga tidak bisa menjaga kebersihan, dan tidak mau menata rumah. dan tidak mau menjaga anak.
Itu semua bukan urusan anda . Itu adalah urusan antara anak anda dan menantu anda.

*Ingat!!!* masalah dan urusan anak anda bukanlah urusan anda. Anak anda sudah dewasa mampu mengatur rumah tangganya sendiri.

*4.* Kalaupun harus tinggal bersama, haruslah bisa saling menghormati.

Jangan menyentuh barang-barang mereka. Jangan masuk kamar mereka tanpa ijin. Jangan mencuci pakaian mereka. Jangan membantu dan mendidik cucu. Anda harus mempunyai cukup waktu dan tenaga untuk memikirkan hal positif lain. Urusan mereka biarkanlah mereka mengatasinya, tak perlu anda terlalu merisaukan.

*5.* Jika mereka bertengkar, anggaplah tidak mendengar.

Jika anda bertengkar dengan pasangan anda, apakah anda suka mertua anda ikut campur? Maka... kalau anda ikut campur, itu aneh.

Kalau anak anda mengomel tentang istrinya, beritahukanlah tentang kebaikan istrinya dan kemudian lupakan.
Kalau menantu anda mengomel tentang suaminya, maka marahilah anak anda supaya bisa memperbaiki diri.

*6.* *Cucu anda adalah :* buah hati dr anak anda dan menantu anda. Bukan anda dan pasangan anda.

Pendidikan yang melampaui generasi....
(maksudnya, kakek dan nenek mendidik cucu) tidaklah terlalu bagus. Biarkanlah mereka mendidik anaknya sendiri.

Jangan sekali-kali merampas hak mereka untuk mendidik anaknya apalagi mencampurinya. Bagaimanapun cara mereka mendidik...dan tidak cocok  dengan anda, toh yg menanggung akibatnya adalah mereka sendiri. Anda hanya boleh sebatas memberi saran dan masukan kepada anak anda sebagai orangtua cucu anda.


*7.* Cucu anda bukanlah milik anda.

Cucu anda adalah buah hati dari anak dan menantu anda.
Jangan sekali-kali merasa anda berhak untuk melakukan segalanya kepada cucu anda, anda harus minta ijin terlebih dahulu kepada anak atau menantu anda.

*8.* Menantu tidak harus *berbakti* pada *ANDA.* (maksudnya anda tak perlu *MENUNTUT* ).

Yang harus berbakti pada anda adalah anak anda. Didiklah anak anda menjadi seorang yang bertanggung jawab, dan mampu membuat hubungan antara anda dan menantu anda menjadi harmonis.
*PESAN* saya, jika menantu anda berbuat *BAIK* terhadap anda, sering-seringlah *DISEBUT* dan jika anda berbuat baik terhadap menantu anda, segera *LUPAkan*.

*9.* Jika anak dan menantu anda mengurus perceraian di pengadilan. Janganlah datang.

Ini membuat anak anda seperti *'anak mama'.*
dan andapun tidak bisa berbuat apa-apa. Anda tidak bisa masuk kedalam ruang peleraian, anda hanya bisa menunggu diluar dengan gelisah.

*10.* Rencanakanlah kehidupan pensiun anda. Jangan membuat semuanya terlalu dititik beratkan pada anak anda.

*Perjalanan hidup sudah tinggal separoh, masih banyak hal baru yg menarik yg bisa dipelajari dan dikerjakan.*
*Adalah tugas anda untuk mengisi hari tua anda agar lebih berarti. Silahkan pakai harta anda dengan bijaksana sebelum anda meninggal. Jangan biarkan harta anda cuma menjadi warisan untuk anak dan anda tidak bisa menikmatinya.*

*Tolonglah ingat baik2 teman... kita yg sdh punya menantu perempuan maupun menantu laki2... kita jangan melakukan yg bukan haknya kita...*

jika kita mau menjadi *MERTUA* yg baik.

Engkau Bagian dari diriku

Engkau Bagian Dariku, dan Aku Bagian Darimu

Salah satu akhlak Rasulullah SAW adalah membuat siapapun merasa nyaman berbicara dan bergaul dengan beliau. Orang Arab Badui yang jauh-jauh datang  menemui beliau gemetaran saat berhadapan dengan Nabi. Untuk menenangkannya Nabi mengatakan, seperti direkam dalam Kitab Sunan Ibn Majah (hadis nomor 3303):

“aku bukan raja. Aku putra seorang perempuan yang juga senang makan daging dendeng (yang dikeringkan di bawah sinar matahari).”

Lihatlah bukan saja Nabi mengatakan bahwa beliau tidak perlu dihormati sebagaimana raja, tapi beliau juga mencari titik kesamaan antara tradisi Badui dengan apa yang dilakukannya. Dengan cara demikian, Badui itu merasa nyaman.

Pesona Sang Nabi memang luar biasa. Salah satu akhlak yang beliau contohkan adalah membuat semua orang merasa akrab. Ini menyebabkan kita kesulitan menentukan siapa sebenarnya sahabat beliau yang paling dekat.

Terhadap Sayyidina Abu Bakar ra beliau bersabda: “seandainya aku diperkenankan mengambil kekasih, tentu aku pilih Abu Bakar” (hadis nomor 447).

Di lain kesempatan Kitab Sahih Bukhari (hadis nomor 3430) menceritakan tatkala Rasul memutuskan pergi dalam perang Tabuk dan meminta Ali bin Abi Thalib ra tinggal di Madinah menjaga anak-anak dan perempuan yang tidak berperang, Sayyidina Ali tetap ingin pergi berperang, lantas Rasul menenangkannya:

‘Tidak inginkah kamu hai Ali memperoleh posisi di sisiku seperti posisi Harun di sisi Musa?” Rasul merujuk pada peristiwa Nabi Musa pergi menerima perintah Allah dan memercayakan urusan umat kepada Nabi Harun.

Tentang Sayyidina Umar bin Khattab ra, amat banyak riwayat yang menyebutkan keutamaanya. Kitab Sahih Bukhari (hadis nomor 80) menceritakan mimpi Rasul: “Ketika tidur, aku bermimpi meminum (segelas) susu hingga aku dapat melihat aliran air dari kukuku, kemudian aku berikan (sisanya kepada) ‘Umar”. Orang-orang bertanya; “Apa maknanya (susu tersebut)? Rasulullah menjawab: “Ilmu”.

Pernah terjadi rebutan hak asuh anak Sayyidina Hamzah yang gugur di perang Uhud. Ali mengambilnya dengan alasan, “dia anak perempuan pamanku”. Ja’far mengatakan, “Istriku itu bibinya anak perempuan ini.” Zaid tidak mau kalah dan mengatakan, “Dia anak perempuan saudaraku”. Kitab Sahih Bukhari (hadis nomor 3920) menceritakan bagaimana Rasul kemudian menengahi dengan membuat semua pihak merasa nyaman:

“Bibi adalah pegganti ibu” maka Rasul memberikannya kepada Bibi anak itu. Lantas Rasul berkata kepada Ali, “Engkau bagian dariku, dan aku bagian darimu.” Rasul berkata kepada Ja’far: “Akhlakku menyerupai akhlakmu”. Dan kepada Zaid, Rasul berkata: “Engkau saudara dan maula kami”. Semua menjadi senang dengan keputusan Nabi.

Mari yuk kita terus jaga akhlak kita agar kelak Nabi Muhammad berbisik mesra kepada kita:

“Engkau bagian dari umatku, akhlakmu menyerupai akhlakku dan engkaulah saudaraku”. Duh Gusti….

Shallu ‘alan Nabi….

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Link tulisan:  http://nadirhosen.net/kehidupan/ummat/246-engkau-bagian-dariku-dan-aku-bagian-darimu

Luasnya Ilmu


Borjuis

Ketika Kaum Borjuis Bicara Kebutuhan Kaum Proletar (Soal 50 ribu cukup 3 hari)

Kaum proletar memang biasa menjadi bahan politik bagi kaum borjuis untuk menerangkan soal nilai uang dan belanjaan, tanpa sadar kaum borjuis melakukan penghinaan kepada kaum proletar

Sejak kapan kaum borjuis menilai nilai uang dan belanjaannya? ketika mereka dengan santai keluar masuk restoran mahal, membeli kebutuhan puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk penampilan, tinggal dirumah yang bukan kontrakan, pembantu dirumah dengan gaji UMP selalu standby melayani serta kemana-mana pulang dan pergi turun dari mobil milik pribadi

Sementara kaum proletar, setiap hari harus berpikir dan bertarung tentang hidup dan makan, bagaimana berpikir anak-anaknya yang berjumlah lebih dari tiga untuk tetap sehat karena kalau sampai sakit pasti akan ditolak rumah sakit, memenuhi makan minimal satu kali sehari (bukan minimal tetapi mungkin sudah terlalu biasa) untuk tujuh orang didalam rumahnya (pasangan suami istri, dua orang saudara dari daerah yang sedang mencari pekerjaan dan tiga orang anaknya), belum lagi memikirkan sewa rumah kontrakan petakan tiap bulan, ongkos suami bekerja dan anak-anak sekolah dan belum lagi tagihan listrik serta bon utangan warung untuk beli gas dan minyak sayur

Jangan sakiti kaum proletar dengan otak borjuismu, memberitahukan ke semua orang dengan tertawa lepas seolah cerdas, padahal hasilnya tidak realistis

Mengapa kaum borjuis tidak pernah bisa berpikir bahwa ekonomi itu saling terkait satu sama lain, nilai uang (50 ribu) yang didapat adalah hasil bekerja ditempat kerja yang juga terancam ditutup dan dipecat karena kontrak kerja kini tak lebih dari tiga bulan akibat praktek outsourching , nilai uang (50 ribu) adalah nilai ketidapastian karena mengantisipasi ketidakpastian naik atau turun harga kebutuhan dipasar, mengapa kaum borjuis tidak membawa uang 10 ribu saja seperti kaum proletar biasa lakukan ketika ke pasar (karena 10 ribu adalah uang sisa yang bisa dibelanjakan)

Untuk merasakan itu modal utamanya adalah memposisikan, bagaimana kaum borjuis memposisikan kalau menjadi kaum proletar, hidup serba pas-pasan dan standar nilainya pun harus pas-pas an, tidak dengan nilai 50 ribu yang bagi kaum proletar sangat bernilai, pakailah nilai 10 ribu bahkan 5 ribu an itupun dalam kondisi lecek karena hasil uang parkiran

Nilai uang 50 ribu dimata kaum borjuis, mungkin tidak bernilai apa-apa bahkan masih dinilai kurang untuk sekedar memenuhi harga kuota bulanan pada handphone miliknya yang berharga puluhan juta

Sementara nilai 50 ribu bagi kaum proletar adalah nilai kebanggaan bisa untuk ‘senjata’ pegangan bertarung esok hari, bagaimana dirinya bisa bertahan dan bertarung esok hari dengan bekal yang masih ditangan, selalu dihiasi kekuatiran esok akan ditagih penagih utang, kekuatiran esok akan ditagih pemilik kontrakan, kekuatiran esok anaknya ada yang sakit atau kekuatiran esok suaminya akan diberhentikan dari tempat kerjanya dan uang 50 ribu itu bisa dipakai untuk berkeliling kembali mencari kerjaan

Mengapa kaum borjuis tidak berani untuk ikut melawan dan memperjuangkan nasib kaum proletar? karena semua soal nilai uang akhir ujungnya adalah pada pemilik regulasi (kebijakan)

Berharga atau tidak, cukup atau tidak maka lihatlah situasi secara komperhensif (menyeluruh dan lengkap), bagaimana sistem pengupahan, apakah sistem outsorching sudah dihapuskan, sudah baik kah pelayanan kesehatan untuk rakyat miskin, sudah stabilkah harga pangan dan pokok dipasar, bagaimana aksi spekulan dan mafia impor, sudah pemerintah beri perlindungan bagi petani dan nelayan, bla bla bla hingga akhirnya nilai 50 ribu itu bisa jadi penilaian

Dan sangat disayangkan, kaum borjuis hanya membuat soal nilai uang belanjaan cukup tiga hari tersebut, ternyata hanya untuk bahan politik semata, mereka lupakan substansi persoalan regulasi yang ada, dan kembali kaum proletar dilupakan tanpa tersisa

Sengaja menggunakan bahasa kaum borjuis dan kaum proletar dalam bahasan kali ini, semata menyesuaikan bahasan sebutan kaum marhaen dimana sang borjuis calon legislatif tersebut bernaung, yang katanya memiliki tujuan menjadi partai pembela wong cilik, partainya pembela kaum proletar, tapi apakah itu disadarinya?

bang dw ( Dedi Wahyudi )
#SelamatPagi


Pendidikan Abad 21

Pendidikan di Abad 21

30 tahun dari sekarang kita tak pernah tahu skill apa yang paling dibutuhkan karena zaman berubah begitu cepatnya.
Diprediksikan dalam satu dekade manusia harus berganti profesi.

Perlukah anak diajari pemrograman bahasa komputer C+ misalnya? Atau karena Cina lagi berjaya perlukah belajar bahasa Cina?

30 tahun ke depan program C+ barangkali sudah diganti bahasa lain. Begitu juga bahasa Cina sudah bisa digantikan aplikasi penerjemah yang semakin canggih. Kita hanya perlu tahu satu kata, Ni Hau.

Lalu apa skill yang dibutuhkan anak2 kita? Para ahli pendidikan menyatakan bahwa sikap mental yang kuat (mental baja) dan fleksibilitas sangat diperlukan.

Selain itu ada 4 skill lain yaitu 4C:
1. Critical Thinkin
2. Communication
3. Collaboration
4. Creativity

Melihat skill masa depan dan kita bandingkan dengan yang diajarkan di pesantren rasanya sudah sangat sesuai.

Pesantren mendidik santrinya agar bermental baja. Setiap waktu di pesantren tidak ada yang kosong. Satu kegiatan berganti dengan kegiatan lain. Full activities 24 jam, 7 hari seminggu.

Begitu juga santri diajari fleksibel: setiap tahun ganti teman sekamar, ganti teman sekelas, ganti teman klub muhadoroh. Santri dilarang berkumpul dengan teman sedaerahnya, kecuali pada acara tertentu.

Nah, Communication juga diajarkan dengan praktiknya yaitu muhadoroh atau latihan pidato. Bahkan setiap orang didaulat menjadi ketua organisasi ini ketua organisasi itu yang tugasnya antara lain berbicara di depan umum.
Bereslah.

Nah, Collaboration juga sudah terpenuhi. Santri diajarkan bisa bekerjasama dengan teman sekamar, teman gugus depan Pramuka, dsb.

Lalu, Creativity juga diajarkan. Drama yang dilombakan setiap semester sangat kental dengan kreativitas. Pentas panggung gembira yang ditampilkan setiap tahun menjadi bukti seberapa tinggi kreativitas santri.

Nah, terakhir Critical Thinking. Ada yang mau memberi contoh? Atau barangkali belum ada di pesantren karena kultur pesantren yang sami’na wa atho’na sehingga harus diajarkan saat kuliah?

Disarikan dari 21 Lessons for 21st Century by Yuval Noah Harari oleh Hery Azwan.

Pergulatan Hidup

Ceramah KH Ali Masyhuri di Haul KH Abd Hamid Pasuruan ke 37 tgl 17 November 2018
A. Hidup ini merupakan pergulatan antara kebatilan dan kebenaran
B. Berpikir dan menimbang apa yg kita ucapkan
C. Perbaikan Iman harus melalui perbaikan hati, perbaikan hati melalui perbaikan lisan
D. Tiga (3) pesan Baginda Nabi:
1. Jaga lisanmu.
-. Dalamnya hati seseorang bisa dilihat dari ucapannya
2. Lapangkanlah rumahmu.
-. Allah memberi rejeki hambanya itu melihat kebutuhannya tidak melihat keinginannya. Maka belajarnya berpikir positif. Berpikir positif ini merupakan kekuatan dasar dan setengah dari kesuksesan.
-. Jika menginginkan rumah 'jembar' maka dirikanlah sholat malam dan sinarilah dg bacaan Al Qur'an
3. Tangisilah atas kesalahanmu
-. Dosa dan kesalahan tdk untuk dibanggakan tapi harus disesali dan ditangisi
-. Mari menangisi diri sendiri sebelum ditangisi oleh orang lain
-. Hidup di era gombalisasi ini:
a. Banyak orang mendirikan bangunan tapi tidak dia tempati
b. Banyak orang mengumpulkan makanan tapi tidak dia makan
c. Banyak orang punya teman di dunia maya tapi miskin teman di dunia nyata.
Ini dikarenakan miskin Keilahian, sinyal ke Allah kecil.
E. Santri harus:
1. Teguh dalam pendirian
2. Kuat pegang prinsip
3. Bijak dalam melangkah
4. Luwes dalam bertindak
F. Supaya berkah umur'e, berkah rejekine, dan berkah anak turune, langkahnya:
1. Buang kebencian dari hati kita
2. Buang kegelisahan dan kekhawatiran dari pikiran kita.
Para wali tdk merasa gelisah dan khawatir krn tauhidnya benar
3. Hiduplah sederhana.
Hidup sederhana ini merupakan sikap cerdas mengetahui dan memahami mana kebutuhan dan keinginan
4. Belajarlah suka memberi.
-. Rubahlah pola pikir  dari 'apa yang bisa didapat dari orang lain ke apa yg bisa diberikan ke orang lain'
-. Jgn merasa gengsi krn memberi sedikit sebab tdk memberi itu lebih sedikit.

Pergulatan Hidup

Ceramah KH Ali Masyhuri di Haul KH Abd Hamid Pasuruan ke 37 tgl 17 November 2018
A. Hidup ini merupakan pergulatan antara kebatilan dan kebenaran
B. Berpikir dan menimbang apa yg kita ucapkan
C. Perbaikan Iman harus melalui perbaikan hati, perbaikan hati melalui perbaikan lisan
D. Tiga (3) pesan Baginda Nabi:
1. Jaga lisanmu.
-. Dalamnya hati seseorang bisa dilihat dari ucapannya
2. Lapangkanlah rumahmu.
-. Allah memberi rejeki hambanya itu melihat kebutuhannya tidak melihat keinginannya. Maka belajarnya berpikir positif. Berpikir positif ini merupakan kekuatan dasar dan setengah dari kesuksesan.
-. Jika menginginkan rumah 'jembar' maka dirikanlah sholat malam dan sinarilah dg bacaan Al Qur'an
3. Tangisilah atas kesalahanmu
-. Dosa dan kesalahan tdk untuk dibanggakan tapi harus disesali dan ditangisi
-. Mari menangisi diri sendiri sebelum ditangisi oleh orang lain
-. Hidup di era gombalisasi ini:
a. Banyak orang mendirikan bangunan tapi tidak dia tempati
b. Banyak orang mengumpulkan makanan tapi tidak dia makan
c. Banyak orang punya teman di dunia maya tapi miskin teman di dunia nyata.
Ini dikarenakan miskin Keilahian, sinyal ke Allah kecil.
E. Santri harus:
1. Teguh dalam pendirian
2. Kuat pegang prinsip
3. Bijak dalam melangkah
4. Luwes dalam bertindak
F. Supaya berkah umur'e, berkah rejekine, dan berkah anak turune, langkahnya:
1. Buang kebencian dari hati kita
2. Buang kegelisahan dan kekhawatiran dari pikiran kita.
Para wali tdk merasa gelisah dan khawatir krn tauhidnya benar
3. Hiduplah sederhana.
Hidup sederhana ini merupakan sikap cerdas mengetahui dan memahami mana kebutuhan dan keinginan
4. Belajarlah suka memberi.
-. Rubahlah pola pikir  dari 'apa yang bisa didapat dari orang lain ke apa yg bisa diberikan ke orang lain'
-. Jgn merasa gengsi krn memberi sedikit sebab tdk memberi itu lebih sedikit.

Mbah Mangli

-Mbah Mangli, Waliyullah dari Gunung Andong-

Bagi orang Jawa Tengah, khususnya daerah Magelang nama Kyai H. Asykari atau mbah Mangli hampir pasti langsung mengingatkan pada sosok kyai sederhana yang penuh karomah.

Beliau lahir dengan nama Muhammad Bahri di dukuh Nepen desa Krecek kecamatan Pare Kediri pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 02.00 malam.

Beliau adalah anak bungsu dari Muhammad Ishak keturunan dari Maulana Hasanudin putra Sunan Gunung Jati. Sedangkan ibunya keturunan dari Kiyai Ageng Hasan Besari yang masih keturunan dari Sunan Kalijaga.

Menurut almarhum KH Hamim Jazuli atau Gus Miek, walau Mbah Mangli memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya-raya, namun Mbah Mangli adalah wali Allah yang hatinya selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat dan menangis karena rindu kepada Allah.

Kyai Hasan Asy'ari/Mbah Mangli adalah mursyid Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN). Mbah Mangli adalah salah satu tokoh yg mendirikan Asrama Pendidikan Islam di Magelang yang santrinya berasal dari seluruh Indonesia.

Mbah Mangli dikaruniai karomah “melipat bumi” yakni bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata. Di sisi lain, beliau dikenal sebagai seorang yang memiliki kemampuan psikokinesis tinggi. Misal, dia dapat mengetahui tamu yang akan datang beserta maksud dan tujuannya.

Mbah mangli juga ikut Toriqoh Alawiyah. Beliau sering mengikuti maulid dimasjid arriyad yg dipimpin oleh HABIB ANIS BIN ALWI ALHABSYI setiap malam jumat sejak zaman HABIB ALWI BIN ALI ALHABSYI.

Adapun wiridan wajib dipondok pesantren Mbah Mangli adalah ROTIB AL HADDAD, ROTIB AL ATHOS dan ROTIB SYAKRON sampai sekarang.

Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli karena bermukim di dusun Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Berdasar cerita yang beredar di masyarakat, KH Hasan Asy’ari atau lebih dikenal dengan nama Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera.

Ia juga tidak memerlukan pengeras suara untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kiai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang.

Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC).

Konon Gusdur semasa hidupnya sering berziarah ke makam Mbah Mangli (wafat pada tahun 2007) yang telah berjasa menyebarkan Islam di lereng pegunungan Merapi-Merbabu-Andong-Telomoyo

Dikisahkan suatu hari Abah Guru Sekumpul, seorang Waliyullah dari Martapura Kalimantan Selatan suatu hari kedatangan seorang tamu dari Magelang Jawa Tengah. Tamu tersebut adalah Kiai Hasan Asy'ari, atau biasa dipanggil Mbah Mangli.

Kedatangan Mbah Mangli di sambut Abah Guru Sekumpul dengan hangat, dan kala itu Mbah Mangli menghendaki untuk menginap di rumah Abah Guru Sekumpul. Abah Guru Sekumpul pun menyediakan sebuah kamar buat Mbah Mangli tidur dan beristirahat.

Pada waktu malam, Abah Guru Sekumpul melewati kamar yang digunakan Mbah Mangli untuk istirahat, dan pada saat itu pintu kamar itu terbuka, Abah Guru Sekumpul melihat Mbah Mangli tidur di lantai, tidak di kasur/ranjang yang sudah disediakan.

Abah Guru Sekumpul sangat menjaga adab beliau kepada seorang kiai sepuh, maka Abah Guru Sekumpul pun juga tidur dan berbaring dilantai di depan kamar tidur yang ditempati Mbah Mangli, hal ini karena tawadhu dan menghormati tamunya.

اللهم صل علي سيدنا محمد وعلي اله وصحبه وسلم


Jihad Islam

Jihad (Arabجهاد‎) menurut syariat Islamadalah berjuang dengan sungguh-sungguh.[1]Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din (atau bisa diartikan sebagai agama) Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasuldan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi. Namun dalam berjihad, Islam melarang pemaksaan dan kekerasan, termasuk membunuh warga sipil yang tidak ikut berperang, seperti wanita, anak-anak, hingga manula.