Tradisi Maulid Masjid Kauman

PEMBACAAN RIWAYAT KANGJENG NABI MUHAMMAD SAW DI MASJID GEDE KAUMAN
~ TRADISI SEJAK ZAMAN DEMAK

Pada tanggal 11 Maulud atau malam terakhir gamelan Kyai Sekati ada komplek Masjid Besar.  Malam itu disebut juga “Malam Garebeg.” Saat itu sebagian besar anggota masyarakat berduyun-duyun  ke Alun-Alun Utara. Lalu berkumpul di samping pintu masuk Pagelaran dan Masjid Besar.

Ketika malam Garebeg Maulud, Sri Sultan berada di Serambi Masjid Besar bersama Pangeran dan Bupati.  Sri Sultan beserta rombongan berangkat dari pintu gerbang Srimanganti menuju pintu gerbang Masjid Besar lewat Rotowijayan. Dari pintu masuk, Sri Sultan belok ke kiri ke bangsal Pagongan Selatan. Di tempat tersebut dilangsungkan upacara Udik-Udik yang dilakukan Pangeran Tertinggi.

Kyai Pengulu dan stafnya menunggu di Masjid Besar. Upacara Udik-Udik dilakukan lagi. Bedanya, kali ini Sri Sultan sendiri atau Kyai Pengulu yang melakukannya. Setelah rampung, Sri Sultan kembali ke masjid Besar. Beliau lalu duduk di serambi sambil menghadap ke timur. Kyai Pangulu dan stafnya duduk berhadapa muka dengan Sri Sultan. Para Pangeran dan bupati di sisi selatan. Sedangkan para tamu ada di utara.

Setelah semuanya ada di posisi masing-masing, lalu prosesi pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad S.A.W. dimulai.

Silakan hadir besok malam Selasa (11 Mulud) di Masjid Gede Kauman, Ngayogyakarta.

Gambar : Pembacaan riwayat Nabi zaman Sultan HB VIII (1920~1930s)

3 Paku Bumi Jakarta

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat berpidato di PP. al-Fachriyah, sekitar tahun 1994: “Di Jakarta ini, sebagai Pakunya ada tiga. Mereka itu auliya’ minal aqthab wasshalihin (para wali Allah, termasuk pemimpinnya para wali dan orang-orang shaleh). Bersyukur kepada Allah adanya mereka di kota ini, terasa aman dan jauhnya segala marabahaya di kota ini. Semua Allah hindarkan berkat adanya mereka. Tiga mereka itu adalah:


1. Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Luar Batang, dengan kekeramatannya yang luar biasa.
2. Al-Habib Utsman bin Yahya Mufti Betawi, dengan kitab-kitabnya.
3. Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang, dengan dakwahnya.

Di masa mereka, hidup saja orang-orang bahagia di dekatnya. Beruntunglah kalian ahli Jakarta.”

Di kesempatan lain, saat Gus Dur menghadiri acara haul ketiga almaghfurlah KH. Ilyas bin H. Kenan, pendiri Pesantren Yayasan Pendidikan Islam al-Kenaniyah Jl. Pulo Nangka Barat II Kayu Putih Jakarta Timur mengatakan: “Mari kita bacakan al-Fatihah kepada para almarhum yang menjadi ‘pelindung’ kota Jakarta. Yaitu Pangeran Jayakarta (Habib Ahmad), Habib Abdul Halim Marunda, Habib Husein Alaydrus Luar Batang, seorang habib yang sempat berdomisili di Kebon Jeruk dan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang.”

Gus Dur menambahkan: “Ada satu hal yang paling penting. Kita boleh-boleh saja berbeda cara, berbeda pendapat, berbeda jalan, tapi perasaan kita tetap sama. Ini penting sekali. Saya terus terang saja ikut tahlil di sini, kira-kira 30 persen bacaan tahlilnya saya tidak tahu. Karena di Jawa Timur tidak begitu.”

Dan banyak yang tidak tahu, ternyata Gus Dur pernah mengaji lagsung epada Habib Ali Kwitang. Sebagaimana yang didengar langsung oleh Ustadz Antoe Djibril dari Gus Dur sewaktu di daerah Comal. Beliau bilang begini: “Saya ini biar begini pernah merasakan baca kitab di hadapan seorang ulama kaliber dunia, yaitu Habib Ali Kwitang. Walaupun itu ya cuma kitab tipis tetapi tabaruk bermuwajahahnya yang tiada duanya.”

Habib Alwi Alatas mengatakan: “Tidak ada sosok kiai yang cinta terhadap habaib seperti Gus Dur. Jadi tirulah Gus Dur, maqamnya diangkat sebab cinta beliau kepada habaib.”

MENGENAL SOSOK KH.MUHAMMAD MUHAJIRIN AMSARAD

MENGENAL SOSOK KH.MUHAMMAD MUHAJIRIN AMSARAD DAARI.pimpinan pondok pesantren annida al islamy bekasi.

KH Muhammad Muhadjirin Amsar, panggilan akrab KH Muhadjirin atau Mat Jirin adalah ulama yang dikenal luas di kalangan masyarakat Bekasi, yang besar andilnya dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sebagai ilmuwan, ia dikenal tidak saja di lingkungan Bekasi tetapi juga di luar negeri, khususnya di Masjidil Haram. Sebagai salah seorang guru terbaik di Masjidil Haram, ia menerima penghargaan berupa sebuah jam tangan berlapis emas bertuliskan al Mamlakatussuudiyyah dari Raja Faisal.

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, KH Muhajirin aktif di organisasi Hizbullah, tetapi sebatas sebagai penjalin ukhuwah di kalangan pejuang dengan landasan patriotisme dan nasionalisme yang tinggi.

KH Muhajirin lahir di Jakarta, 10 November 1921. Pendidikan formal ditempuhnya di Darul ‘Ulum Addiniyyah, Makkah Al-Mukarramah (1949-1955). Ia juga memperdalam ilmu melalui sejumlah jalur pendidikan nonformal, seperti Pesantren Mester (Jatinegara) Jakarta (1936-1946), beberapa pesantren di Jawa Barat (1942), pesantren di Jakarta Kota (1942), Pesantren Buntet Cirebon (1942-1945), Masjidil Haram, Mekkah (1947-1955), dan Masjid Nabawi, Madinah (1947-1955).

Ia dikenal sebagai salah seorang staf pengajar di Darul Ulum Makkah al-Mukarromah. Di dalam negeri ia mengajar di Pesantren Bahagia bersama Kiai Abdur Rahman dan Kiai Noer Ali. Aktivitasnya tidak terbatas pada mengajar karena pada 1963 ia pun mendirikan Perguruan Annida Al-Islamy Bekasi, sekaligus menjadi pimpinannya.

Karya tulisnya antara lain Misbah Al Zhulam Fi Syarhi Al Bulugh A Maram, 8 Jilid (fiqih hadist), Idhoh Al Maurud, 2 Jilid (ushul fiqih), Muhammad Rasulullah (tarikh), Mirah A Muslmin Fi Siroh Khulafa Al Rasyidin (tarikh), Al Muntakhab Min Tarikh Daulah Umayah (tarikh), Qowaid Al Khoms Al Bahiyyah (qowaid fiqih), al-Istidzkar(mustholah hadist/ushul hadits), Ta’liqot Ala Matini Al jauharoh 2 Jilid (tauhid), Mukhtaroh Al Balaghoh 2 Jilid (balaghah), Qowaid Al Nahwiyah 2 Jilid (nahwu/tata bahasa Arab), Al Qoul Al Hatsis Fi Mustholah Al Hadits (ushul fiqih), Taysir Al Ushul I Ilmi Al Ushul (ushul fiqih), Qowaid Al Mantiq 2 Jilid (mantiq), Mutholaah Mahfudzot, Takhrij Al Furu’ Ala Al Ushul, Tathbiq Al Ayat Bi Al Hadist, Tasawwuf, dan Faroid. Selain itu ada juga tulisan2 yang belum sempat dicetak.

# diolah dr berbagai sumber

Pemikiran Moderat

1. Pemikiran moderat adalah pemikiran yg menyediakan ruang bagi orang lain untuk memiliki pandangan yg berbeda.

2. Pemikiran moderat menghargai kepercayaan orang lain dan pandangan hidupnya.

3. Pemikiran moderat tidak menjadikan pendapat seseorang menjadi kebenaran mutlak sementara lainnya sebagai pendapat yg salah yg tdk usah diperdebatkan.

4. Pemikiran moderat tidak pernah menyetujui kekerasan atas nama apapun.

5. Pemikiran moderat menolak penafsiran tunggal terhadap suatu teks. Sebuah kalimat mungkin saja dapat diterjemahkan dalam berbagai cara.

6. Pemikiran moderat selalu terbuka terhadap kritik yg membangun

7. Pemikiran moderat selalu mencari perspektif yg adil dan bermanfaat bagi semua.

Puasanya Ghandi

Puasanya Ghandi

 on 
486121_150640215088871_786914508_nPuasa, menahan diri dari makan minum dan berhubungan seks, menjadi suatu ritual umum di dalam hampir semua kelompok spiritual dan keagamaan. Kenyataan bahwa puasa adalah praktik spiritual yang lazim jauh sebelum Islam diakui sendiri oleh Islam, ketika mengeluarkan perintah kewajiban puasa kepada pemeluknya: “Wahai orang-orang beriman diperintahkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (QS 2:183). Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa ada praktik puasa di kalangan umat sebelum atau di selain Islam.
Tentu saja puasa antara Muslim dan kelompok-kelompok keagamaan dan spiritual lain berbeda baik di dalam bentuk maupun tujuannya. Kendati demikian, secara umum tujuan puasa adalah suatu upaya pengendalian dan pembentukan jiwa. Jiwa adalah sebuah kawasan terbuka. Ia akan menjadi hutan rimba segala kejahatan jika dibiarkan tumbuh dan berkembang begitu saja. Iri, dengki, dendam, marah, dan segala bentuk penyakit hati lainnya, bisa membuat jiwa menjadi kawasan hitam. Disiplin pengendalian diri akan menjadikan jiwa sebagai taman yang indah, tempat segala kebaikan bermuara dan berkembang. Salah satu di antara formula pengendalian jiwa tak lain adalah dengan berpuasa.
Puasa adalah gerakan batin. Gerakan yang halus dan lembut. Ia berbasis pada ketulusan dan keikhlasan. Ia laku pribadi yang tenang, jernih dan bersih. Namun di balik ketenangan dan diamnya itu terdapat kekuatan untuk mendorong perubahan. Tujuan utama puasa adalah transformasi jiwa pribadi. Dari jiwa pribadi itu kemudian pindah ke jiwa sosial masyarakat, ketika puasa memendarkan pengaruh positifnya pada lingkungan sekelilingnya.
Dalam hal ini, barangkali perlu mengenang puasa seorang jiwa besar abad 20: Mahatma Ghandi.
Sejak 6 Oktober 1924 Mahatma Ghandi melaksanakan puasa selama 21 hari. Puasa ini ia dilakukan di rumah seorang Muslim nasionalis India, Mohamad Ali, adik Shaukat Ali. Dua dokter Islam terus menerus menjaganya dan seorang misionaris Kristen, Charles Freer Andrewa, menjadi perawatnya.
Ghandi memutuskan berpuasa sebagai suatu seruan terhadap orang-orang Muslim dan Hindu yang kala itu terlibat konflik. Konflik itu menghabiskan energi, merusak batin dan pikiran, dan akhirnya menghancurkan sendi-sendiri kehidupan sosial. Perlawanan nasional terhadap kolonialisme melalui gerakan tanpa kekerasan menjadi melemah dan mengendor ketika tulang punggung gerakan itu sendiri: Hindu dan Muslim terpecah. Mati tenggelam dalam perseteruan internal.
Sepanjang 21 hari itu, Ghandi tidak makan apapun, kecuali minum sedikit air putih plus sejimpit garam. Tiap hari ia duduk, diam dan merenung. Dari taman jiwanya yang tenang dan hampa dari nafsu dunia itu, lahir sejumlah kata-kata hikmah yang sangat inspiratif. “Yang perlu pada saat ini bukanlah suatu agama, melainkan saling menghormati dan toleransi antar pemeluk berbagai agama,” demikian tulisnya pada hari kedua puasa. Kehendak merdeka yang diangankan warga India, dan dipimpin di antaranya oleh Ghandi sendiri melalui gerakan ahimsanya, ia renungkan ulang melalui puasanya itu. Ia katakan bahwa perjuangan harus ditujukan kepada hati orang-orang India terlebih dulu. Jiwa mereka harus bebas dari nafsu untuk menyingkirkan dan meniadakan orang lain. Mereka harus percaya diri, karena percaya diri berarti percaya kepada Tuhan. Kemerdekaan batin mendahului dan mengalasi kemerdekaan fisik.
Puasa Ghandi memang tidak sepenuhnya berhasil menghentikan konflik Hindu-Musim yang telah menyala dan membakar hati masing-masing pemeluk itu sedemikian rupa. Tapi dunia terus mengenang bagaimana ‘meditasi timur’, puasa itu, digunakan oleh Ghandi sebagai suatu seruan untuk perubahan.
Puasa, apakah itu sebagai suatu kewajiban keagamaan atau kehendak pribadi, pertama-tama adalah suatu upaya transformasi diri. Perubahan di dalam diri akan membawa perubahan di dalam masyarakat. Puasa di sini bukan semata untuk memenuhi kewajiban ilahi, tapi telah menjadi tuntutan kemasyarakatan, tuntutan kemanusiaan.
http://www.gusdurian.net
Penulis: Direktur Eksekutif YLKiS

Pendidikan Tanpa Sekolah Agus Salim

Pendidikan Tanpa Sekolah Agus Salim

 on 
Agus Salim
Agus Salim menganggap pendidikan kolonial adalah “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya tercebur di dalamnya.
Jef Last geleng-geleng kepala usai mendengar pemuda bernama Islam Basari itu sangat lancar lagi fasih berbahasa Inggris. Keheranan jurnalis asal Belanda ini sangat beralasan. Islam tidak pernah mengenyam sekolah formal namun memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Melihat Jef Last terkaget-kaget dengan rasa tidak percaya, ayah Islam berujar: “Apakah Anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris, dan Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.”
Si ayah dari bocah bernama Islam ini tidak lain dan tidak bukan adalah Haji Agus Salim, bapak bangsa yang namanya bertebaran di buku-buku sejarah Indonesia itu. Dan memang, Agus Salim tidak pernah memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal. Ia mendidik putra-putrinya sendiri di rumah, metode pengajaran yang kini dikenal dengan istilah homescholling.
Jalan Berlumpur Pendidikan Kolonial
Bukan berarti Agus Salim mengharamkan pendidikan formal, sama sekali tidak. Ia sendiri menapaki jenjang sekolah dari dasar hingga menjadi salah satu orang paling jenius yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Bahkan, Agus Salim pernah meraih prestasi yang sangat jarang mampu dilakukan oleh siswa-siswa sebangsanya, menjadi lulusan terbaik Hogere Buger School (HBS) tahun 1903 di tiga kota besar: Batavia, Semarang, dan Surabaya (Agus Salim, Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University Amerika Serikat, 2014).
HBS adalah sekolah menengah setara SMA milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sekolah ini hanya menerima siswa berkebangsaan Belanda atau Eropa, serta sedikit anak lokal yang orangtuanya terpandang atau punya pangkat.
Sayangnya, titel sebagai lulusan HBS terbaik ternyata tak menjamin dirinya bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Ia melamar untuk mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Belanda yang sangat diminatinya (Haji Agus Salim 1884-1954: Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, 2004).
Namun, harapannya kandas karena ia seorang pribumi, bukan sinyo apalagi berdarah Eropa murni. Jawaban dari pihak berwenang yang diperolehnya berbunyi: “Tak ada beasiswa untuk inlander.”
Pengalaman pahit itulah yang barangkali membuat Agus Salim merasakan trauma yang amat sangat dengan sekolah Belanda. Ia menganggap pendidikan kolonial bentukan Belanda sebagai “jalan berlumpur” sehingga ia tidak mau anak-anaknya ikut berkubang di dalamnya seperti yang dulu pernah dirasakannya. Selain itu, Agus Salim merasa sanggup mendidik anak-anaknya di rumah.
Dari ke-8 anaknya, hanya si bungsu Mansur Abdurrahman Sidik yang mengenyam sekolah formal. Itu pun lebih karena Mansur dilahirkan setelah era kolonial Belanda di Indonesia berakhir. Tidak demikian halnya dengan anak-anaknya yang lahir terlebih dulu: Violet Hanisah, Yusuf Taufik, Ahmad Syauket, Theodora Atia, Islam Basari, Siti Asiah, dan Maria Zenibiyang.
Sekolah Rumah Agus Salim
Bukan hal yang aneh jika anak-anak Agus Salim sangat lancar berbahasa Inggris. Bahasa harian di keluarga itu memang bahasa-bahasa asing. Andai saja Jef Last tahu, ia mungkin tak akan terlalu heran melihat Islam Basari cas cis cus dengan bahasa Inggris.
Agus Salim sendiri menguasai selusin bahasa bangsa lain, di antaranya adalah Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Turki, dan lainnya. Tak hanya sekadar berbicara, ia kerap berpidato bahkan melontarkan guyonan dengan bahasa-bahasa asing itu (Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, 2006).
Metode pendidikan yang diterapkan Agus Salim di rumah sangat menyenangkan tapi tetap mendidik. Anak-anaknya sebagai “murid” tak harus duduk di dalam kelas seperti di sekolah formal. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung dibiasakan secara santai, seolah-olah seperti sedang bermain. Sedangkan nilai-nilai budi pekerti, pelajaran sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui bercerita dan obrolan sehari-hari.
Agus Salim juga memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya, mengkritik, bahkan membantah jika tak sependapat dengan apa yang ia sampaikan. Tampaknya ia punya cara jitu yang merangsang anak-anaknya untuk tidak hanya menerima pelajaran saja, ia ingin para “muridnya” memiliki daya kritis. Agus Salim sendiri dikenal sebagai sosok vokal dan jago debat berjuluk singa podium.
Menjadi Cerdas Tak Harus di Kelas
Salah satu kebiasaan menyenangkan sekaligus mencerdaskan yang diterapkan Agus Salim di keluarga adalah membaca. Ia menyediakan buku-buku berbahasa asing. Hasilnya, kecerdasan anak-anak Salim berkembang pesat. Di usia, balita mereka sudah lancar baca-tulis dengan banyak bahasa.
Maka jangan heran jika anak-anak Salim sudah melahap banyak bacaan berbahasa asing di usia yang masih sangat dini. Theodora Atia alias Dolly, misalnya, pada umur 6 tahun sudah menggemari bacaan-bacaan anak remaja, semisal kisah-kisah detektif Nick Carter atau Lord Lister (100 Tahun Haji Agus Salim, 1996).
Yusuf Taufik atau Totok lain lagi. Di usia 10 tahun, ia sudah merampungkan bacaan Mahabarata yang ditulis dalam buku berbahasa Belanda. Tidak hanya membaca, Totok bahkan piawai menjelaskan makna yang terkandung dalam epos kepahlawanan India nan legendaris itu.
Belum lagi apa yang pernah dialami oleh Mohammad Roem. Tokoh pergerakan nasional yang kelak bersama-sama Agus Salim turut menegakkan kedaulatan RI ini dibikin takjub oleh Dolly dan Totok. Dua bocah itu mampu meladeninya saat berdebat tentang pengetahuan yang diajarkan di sekolah tingkat atas. Padahal, usia mereka saat itu masih awal belasan tahun.
Agus Salim memang punya alasan mendasar mengapa ia tidak memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal, juga lantaran ia sendiri memiliki kualitas pengetahuan dan pengajaran yang mumpuni untuk mendidik putra-putrinya di rumah.
Apa yang pernah dilakukan Agus Salim setidaknya memberi gambaran di luar keumuman di Indonesia: untuk menjadi cerdas tidak harus di dalam kelas. Bersekolah di rumah atau di tempat-tempat lainnya pun bisa, tentu jika dilaksanakan dengan cara dan guru yang tepat.
(Tirto.id; 2 Mei 2017)

MELEK POLITIK GENDRUWO

"MELEK POLITIK GENDRUWO"

Kalau kita membaca buku Religion of Java (santri-abangan - priyayi) karya Clifford Geertz, khususnya bagian abangan, salah satu ritus penting kaum abangan adalah tentang berbagai kepercayaan magis, salah satunya gendruwo.  Gendruwo adalah makluk halus yang kegemarannya menakut-nakuti. Oleh karena itu, dalam khasanah jawa disebut dengan memedi (berasal dari kata medeni = memedi = menakutkan/menakuti).

Geertz menceritakan bahwa si genderuwo ini suka berwujud makhluk yang tinggi besar. Misal ketika saudara sedang bersepeda di tempat yang sepi dan gelap, atau tiba-tiba anda didorong sampai jatuh. Keusilannya bahkan sampai ke tempat tidur, dengan beralih rupa menjadi suami ketika istri tidur sendirian. Oleh karena itu, di Jawa ada istilah anak gendruwo.

Politik gendruwo adalah cara berpolitik yang menakut-nakuti, membangun pesimisme, dan seolah olah negeri ini akan bubar 12 tahun mendatang. Menakut-nakuti rakyat terhadap bahaya asing, tetapi kemudian dia tidur dengan asing,  seperti berfoto dengan Donal Trump.

Gendruwo memang tidak selalu  jahat sebagaimana  digambarkan oleh Geerzt, karena memang kegemarannya hanya suka usil. Justru yang samgat jahat adalah istrinya gendruwo, yaitu Wewe. Kalau Gendruwo laki-laki, maka Wewe adalah perempuan.  Kelakuan Wewe yang paling ditakuti oleh orang kampung adalah kesukaannya menculik anak-anak. Kalau menculik anak-anak, maka seisi kampung akan memukul apa saja sehingga kampung menjadi bising, agar Wewe melepaskan si anak yang diculik.
☕☕

Sisi “Baik” Fir’aun

# Awy A. Q.
Jika kita memperhatikan dan mempelajari kehidupan ini dengan baik, maka kita akan menemukan bahwa pada dasarnya tiap manusia itu pasti memiliki dua (atau beberapa) sisi sifat yang tak sama. Meski tingkat dominasi sifat itu juga berbeda-beda.
Tidak ada ceritanya manusia itu seluruh sifatnya lembut. Tidak ada juga manusia yang seluruh sifatnya kasar/keras. Pasti ada keduanya. Hanya saja di antara kedua sifat yang bertolak belakang itu, salah satunya pasti ada yang lebih dominan dalam pribadi tiap-tiap manusia.
Sebelum penulis masuk pada hal yang ingin penulis bicarakan, sedikit penulis akan bercerita. Beberapa waktu lalu penulis membaca beberapa hadits menarik di kitab “Syu’abul Iman”. Kita tak usah membicarakan bagaimana status hadits yang akan penulis ampaikan, itu persoalan teknis. Yang penting adalah pelajaran besarnya.
Hadits unik ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, salah satu pionir dalam dunia ilmu hadits.
Penulis yakin bahwa setiap orang Islam pasti tahu siapa sosok antagonis yang tersebut abadi dalam al-Qur’an dengan segala kesombongan dan kejumawaannya, Fir’aun. Dan jika disebutkan kata Fir’aun, maka segera terlintas dalam benak kita segala predikat dan track record buruk. Ikon kejahatan dalam sejarah.
Segala sepak terjang kesombongannya yang luar biasa terekam dalam al-Qur’an. Bagaimana juga cara Nabi Musa menghadapinya. Hingga kematiannya yang tragis di telan oleh Laut Merah setelah laut itu terbelah oleh mukjizat pukulan tongkat Nabi Musa.
Hadits yang aku maksud tadi, berkenaan dengan Fir’aun. Sebelum Nabi Musa diutus untuk menghadapi Fir’aun, beliau sempat bertanya kepada Allah bahwa kenapa Fir’aun dibiarkan hidup begitu lama dengan segala kesombongannya, perilakunya yang memperbudak bangsa Israel, membunuh bayi-bayi laki-laki Israel, bahkan mengaku Tuhan.
Oleh Allah Ta’ala Nabi Musa diberitahu, bahwa meski Fir’aun seperti itu, dia tetap mempunyai sisi kehidupan yang lain, terutama kepada sesama bangsanya. Yaitu dia punya kebaikan perangai dan bersikap jika pada bangsanya sendiri dan sebagai raja dia tak mempersulit siapapun yang ingin menemuinya.
Maka oleh Allah, sisi kebaikan Fir’aun itu dibalas oleh-Nya dengan usia panjang dan tak pernah mengalami sakit. Versi hadits itu, Fir’aun hidup 400 tahun.
Makanya oleh Allah, Nabi Musa dan Nabi Harun diarahkan untuk bertutur kata yang baik meskipun tetap tajam, siapa tahu Fir’aun mau bertaubat. Apalagi Nabi Musa pernah juga merasakan kebaikan Fir’aun yaitu dirawat sampai dewasa.
“Fa qulaa lahu qoulan layyinan la’allahu yatadzakkaru aw yakhsya”. Begitu di al-Qur’an, sebab Fir’aun juga tetap manusia yang punya sisi baik. Dan seperti yang terekam di al-Qur’an pula diceritakan bagaimana Fir’aun membesarkan Musa kecil dalam asuhannya dengan penuh kasih sayang. Meskipun kekejamannya pada rakyatnya (khususnya yang non koptik) sangat luar biasa. Bahkan dengan kearoganannya dia mengaku tuhan.
Pelajaran moral apa yang bisa kita ambil? Bahwa mungkin kita tidak suka seseorang akan kekerasannya, keburukan perangainya. Namun bagaimanapun jangan tutup mata jika -bisa jadi- dia punya sisi kebaikan yang lain.
Begitu pula dengan seseorang yang dominan bersifat baik, pasti ada sisi jelek yang tidak kita suka. Maka semisal kita respek dengan seseorang sebab dia selalu bertutur kata sejuk, lalu tiba-tiba dalam satu tempo dia berubah tegas dan tajam yang bahkan membuat kita sendiri gerah atau bahkan tidak suka, maka kita tidak perlu heran dengan perubahan-perubahan sejenak itu, namanya manusia.
Mungkin hanya para Nabi saja yang tidak punya sisi menyebalkan sebab mereka punya kemampuan super tinggi mengontrol perilakunya. Khususnya Nabi yang sangat kita cinta, Rasulullah S.a.w.
Itupun mereka yang kebaikannya tak terilustrasi itu saja masih banyak yang benci. Apalagi kita yang tidak pernah stabil antara sifat baik dan sifat buruk kita.
Alhasil dengan pelajaran-pelajaran semisal Fir’aun ini kita bisa belajar bagaimana bersikap ke sesama manusia, khususnya ke sesama muslim. Sebab banyak sekali di antara kita yang kerap merasa paling benar.
Kita juga tak perlu heran saat lihat orang marah-marah dalam mengingatkan orang lain. Saat sekolah saja jika kita salah menjawab, dimarahi guru apalagi ini kesalahan level akidah misalkan.
Cuma memang caranya saja yang perlu dimanajemen dengan baik. Karena pada dasarnya, semelenceng apapun pemikiran dan ideologi, ia tetap bermula dari satu titik kebenaran, hanya salah penafsiran saja dan dalam cara mengingatkan, cara menjewer, keras lembutnya tergantung level kesalahan. Hal yang sangat maklum sekali dalam dunia pendidikan.
Bukan lantas misalkan perintah Allah pada Nabi Musa untuk menasihati dengan lembut itu diartikan sebagai bentuk toleransi. Tak ada yang memaknai seperti itu. Karena toleransi itu hal, dan mengingatkan, menasihati juga hal yang lain.
Tempatkanlah segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Sebab seseorang (apalagi jika dia muslim) yang tidak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, artinya dia belum bijak dan juga belum adil. Dan kata lain belum bisa adil artinya seseorang itu masih pada wilayah dzalim. Perlu segera mengkoreksi diri untuk beranjak dari situ.
Semoga mencerahkan dan semoga kita bisa terus menaikkan kualitas kepribadian kita dengan belajar bersikap sesuai keharusan masing-masing (*)


Sumber : 
https://fachruddien.wordpress.com

MENGAPA MEMILIH NU?

*_MENGAPA MEMILIH NU?

_Di dalam Nahdlatul Ulama, kita menemukan jalan untuk berjama'ah dalam amaliyah, fikrah, harokah, dan ukhuwah._

_NU tidak hanya mengurusi politik (harokah), tapi juga :_

1. Amaliyah Aswaja, seperti tahlilan, istighotsah, ziarah kubur, maulid, qunut, muamalah, munakahah, dll. Yang fardhu, sudah pasti, yang sunnah juga NU lakoni. Seperti sholat gerhana, sholat tasbih dsb.

2. Fikrah Aswaja, seperti pesantren, sekolah, pengajian, majlis ta'lim, dakwah media dan mimbar, kajian ilmiyah bahtsul matsail, dll. Termasuk dalam fikrah, adalah akidah aswaja.

3. Ukhuwah Aswaja, yaitu basyariyah, wathoniyah, dan islamiyah. NU mengurusi perdamaian masyarakat lokal dan dunia.

_Kita menemukan muqobalah (pembanding) karakteristik ini dalam beberapa ormas lain. Walupun ada beberapa ormas yang hanya (mencolok) dalam urusan harokah, atau politik._

_Di NU, kita menemukan :_

Amaliyah : 25%
Fikrah : 25%
Harokah : 25%
Ukhuwah : 25

_Jadi NU 100%_

_Kita pilih Ber-NU, sebagai jama'ah sekaligus jam'iyyah untuk diri dan keluarga._

_Kita berjamaah, karena Nabi SAW mewajibkan untuk bersama jama'ah :_

عليكم بجماعة المسلمين وامامهم

_Kenapa berjama'ahnya di NU?_

_Karena nilai-nilai NU, sejalan dengan prinsip Islam rahmatan lil alamin._

_NU yang berpegang teguh pada Al-Qur'an, Hadits, Ijma, dan Qiyas._

_Tidak ghuluw (berlebihan/ekstrim), tetapi memiliki karakter :_

1. Tawassuthiyyah (moderat),
2. Tasamuhiyah (toleran),
3. Tawaazuniyah (keseimbangan),
4. I'tidaliyah (idealis),
5. Istiqomah (konsisten),
6. Ishlahiyyah (reformatif),
7. Tathowwuriyah (dinamis),
8. Manhajiyah (pola pikir metodologis),
9. Amar ma'ruf nahi mungkar

_Tanpa jama'ah, kita ibarat debu di semesta yang luas._

_Tanpa jam'iyyah (organisasi), kita ibarat sepotong rumput liar yang tidak terurus._

_ٍKita Ber-NU, memilih jalur NU, bersanad melalui guru2 Aswaja. Ada sandaran, ada rujukan, dan ada pertanggung jawabannya._

_NU yang lahir 1926, memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal kehidupan beragama dan bernegara dalam bingkai NKRI._
_Dalam Bahtsul Matsail Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin, jauh sebelum Indonesia merdeka disebutkan bahwa Indonesia adalah negeri Darussalam, tidak ubahnya Negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah, membangun Negara Perdamaian, Negara Darussalam bukan Negara Darul Islam. Dengan Piagam Madinah, tidak mengedepankan Islam semata tetapi persatuan dan kesatuan, sebagaimana Firman Allah_

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

_Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam [Al-Anbiyâ’/21:107]._

_Semoga kita diakui murid KH. Hasyim Asy'ari, bersambung sanad juga kepada KH. Kholil Bangkalan, Syekh Nawawi Albantani, para Imam Ahlussunnah wal Jama'ah, dan dikumpulkan bersama para ulama salafus sholeh yang mumpuni dalam duniawi dan ukhrowi._

_Aamiin ya robbal alamiin.._

الحق بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام

_Kebenaran tanpa struktur, akan dikalahkan oleh kebathilan yang terstruktur._

Wallahul muwaafiq ilaa aqwamit thoriq..

*_Disarikan dari buku Khazanah Aswaja -  Tim Aswaja NU Center PWNU Jatim_*